
Tutur kata lembut yang kerap Aris lontarkan pada setiap staf di klinik Devi. Tak langsung membuat nama seorang Aris begitu di kagumi oleh staf perempuan yang bekerja di klinik Devi tersebut. Hingga sayup-sayup nama Aris sering terdengar hangat menjadi pembicaraan staf lain di klinik.
Penampilan Aris yang selalu terlihat fashionable, juga tak luput dari perhatian rekan kerjanya. Aris terlihat begitu mempesona dengan setiap pakaian yang di kenakan olehnya. Penampilan dari Aris kerap di puji oleh banyak orang. Termasuk Devi yang menjadi atasan seorang Aris.
Sebelum pergantian shift berlangsung, Devi meminta Aris menemaninya untuk makan siang. Beberapa restoran di tawarkan oleh Devi pada Aris. Namun Aris yang memang berasal dari keluarga sederhana, lebih memilih untuk makan di rumah makan sederhana di pinggir jalan. Bukan pilihan yang buruk bagi seorang Devi, dia pun akhirnya menerima permintaan dari Aris tersebut.
Devi yang sudah cukup lelah di hari ini. Meminta Aris untuk mengemudikan mobil miliknya. Sementara Devi duduk di samping Aris.
Di kesempatan kali ini, Devi berusaha mencari muka di depan Aris. Dia memasang sabuk pengaman pada tubuh Arus. Merapikan pakaian Aris yang sempat kusut. Sebelum akhirnya meminta Aris untuk segera membawa mobilnya menuju rumah makan sederhana yang hendak di tuju oleh keduanya.
Aris terlihat canggung saat berada dalam satu mobil dengan Devi. Dia sesekali menatap wajah Devi yang terlihat begitu bahagia berada dalam satu mobil dengan seorang Aris. Saat wajah keduanya saling bertatapan, Aris melemparkan senyuman pada Devi. Hingga Aris terlihat malu-malu di tatap oleh seorang Devi.
"Jika kamu tidak bekerja di klinik ini, di mana kamu mungkin akan melamar pekerjaan?" Tanya Devi dengan penuh antusias.
"Mungkin ke beberapa rumah sakit besar. Tapi saya tidak yakin akan di terima. Sebab saya bukan seorang yang memiliki pengalaman besar. Jadi perlu keberuntungan besar untuk dapat bekerja di rumah sakit besar seperti yang saya harapkan." Jawab Aris.
"Saya pikir kompetensi kamu bisa menjadi peluang besar untuk pihak rumah sakit. Kamu punya kemampuan yang baik dalam berbagai aspek. Itu yang akan buat kamu mudah di lirik oleh rumah sakit besar." Terang Devi.
"Entah, tapi aku pikir keberuntungan sangat penting. Mengingat aku adalah fresh graduate. Butuh keberuntungan besar untuk dapat di terima di rumah sakit besar seperti itu. Aku pikir di terima di klinik ini saja, aku sudah sangat berterima kasih." balas Aris sambil tertawa.
Hampir 20 menit berada di jalanan, akhirnya rumah makan sederhana yang sering Aris singgahi bersama pacarnya tiba. Tidak terlalu besar, tapi rumah makan itu terlihat begitu bersih dan rapi. Pantas banyak orang yang datang ke tempat ini. Mengingat bangunan rumah makan ini memang sederhana, tapi memiliki arsitektur yang bagus dan elegan. Hingga tak heran Aris mengajak Devi untuk makan di tempat ini.
__ADS_1
Aris memimpin perjalanan menuju ke dalam rumah makan itu. Beberapa staf rumah makan yang sudah familiar dengan wajah Aris, menyapa ramah seorang Aris. Mereka begitu antusias akan kedatangan Aris yang memang sudah sering datang ke rumah makan tersebut.
"Ada gandengan baru nih." Bisik seorang staf pelayan di telinga kanan Aris.
Aris tertawa dengan bisikan yang di berikan oleh salah satu staf pelayan itu. Sebelum dia mengajak Devi untuk mencari meja yang masih kosong yang akan di jadikan tempat Aris dan Devi makan di sana.
Sebuah meja berukuran persegi panjang tanpa kursi memang menjadi ciri khas rumah makan lesehan. Namanya juga lesehan, tentu setiap pengunjung harus duduk di atas sebuah karpet yang telah di sediakan.
Aris dan Devi duduk saling berhadapan. Dimana Devi yang biasanya makan di restoran mewah. Kini harus duduk lesehan untuk makan di rumah makan sederhana, dengan menu yang sederhana pula.
Seorang pelayan pria menghampiri meja tempat Devi dan Aris berada. Dia mulai menawarkan menu yang akan di pesan oleh Devi dan Aris. Devi yang tidak familiar dengan setiap menu yang ada di restoran. Meminta saran pada seorang Aris untuk dapat memberikan rekomendasi makanan lezat di rumah makan tersebut.
Aris yang sudah familiar dengan menu yang ada. Menyarankan Devi untuk mencoba menu ayam bakar cemani yang memiliki level kenikmatan sepuluh. Di tambah es teh manis hangat, rasanya akan menambah kenikmatan dari ayam bakar tersebut. Aris sangat menyarankan Devi untuk membeli menu special di rumah makan tersebut.
Tak sampai 10 menit, akhirnya ayam bakar cemani pesanan dari seorang Devi pun di hantar oleh pelayan. Warna hitam dari ayam bakar cemani itu terlihat menggoda selera. Di tambah dengan sambal berwarna merah yang menggoda. Semakin membuat ayam bakar cemani itu terlihat begitu lezat. Aris yang sudah kenyang, tiba-tiba kembali lapar melihat ayam bakar cemani yang ada di hadapannya tersebut.
Berbeda dengan Aris, Devi sendiri justru terlihat heran dengan warna ayam yang hitam. Mungkinkah ini gosong? Itu yang ada di pikiran seorang Devi. Mengingat Devi tidak mengetahui apa itu ayam cemani.
Aris akhirnya menerangkan pada Devi, jika ayam itu tidak gosong. Memang warna daging, kulit dan bulu ayam cemani adalah hitam lebam. Tak heran warna ayam bakar itu berwarna hitam. Itu bukan gosong, tapi memang warna dari ayam itu sendiri.
Aris meminta Devi untuk segera menyantap ayam bakar yang di pesan oleh Devi tersebut. Namun ada sedikit keraguan dari seorang Devi untuk menyantap ayam bakar itu. Devi terlihat jijik melihat warna dari ayam bakar yang terlihat gosong tersebut.
__ADS_1
"Kamu yakin ini akan baik-baik saja?" Tanya Devi dengan penuh keraguan.
"Why not, ini enak. Enak banget malah." Jawab Aris meyakinkan Devi.
Devi mencuci terlebih dahulu tangan kanannya. Sebelum akhirnya Devi mulai mencubit sedikit bagian dari ayam bakar cemani yang di pesan olehnya.
Satu cubitan dari ayam bakar itu, masih belum meyakinkan Devi. Dia mencium aroma dari daging ayam itu sendiri. Tidak ada masalah, tapi dia masuk ragu.
"Kamu ingin mencoba terlebih dahulu?" tawar Devi pada Aris.
"Yakin kamu akan memberikan potongan pertama ayam itu padaku?" Tanya Aris.
"Iya, aku pikir aku akan mencoba setelah kamu mencoba daging ayam ini." balas Devi meyakinkan.
Satu cubitan daging ayam yang Devi ambil dari ayam bakar cemani miliknya, langsung disuapkan pada mulut Aris. Seketika Aris menikmati dengan penuh kenikmatan rasa dari ayam cemani tersebut. Rasanya begitu enak, hingga Aris langsung ingin mencoba lagi.
"Apa aku terlihat buruk setelah mencoba rasa dari ayam ini?" Tanya Aris meyakinkan Devi.
Akhirnya Devi memberanikan diri untuk menyantap daging ayam cemani itu. Devi kembali mencubit sedikit daging ayam cemani tersebut. Kemudian mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
Baru Devi mulai merasakan kenikmatan dari ayam bakar cemani itu. Dia langsung ketagihan ketika mencoba ayam cemani tersebut. Mengingat rasa ayamnya yang lezat, di tambah dengan sambal yang juga nikmat. Semakin membuat rasa daging ayam cemani itu tiada duanya. Daging ayam itu benar-benar nikmat.
__ADS_1
Devi dan Aris saling menyuapi satu sama lain. Mengingat porsi ayam cemani itu yang besar. Hingga tak mungkin Devi menghabiskan sendiri ayam tersebut. Aris pun turut menyantap ayam bakar cemani itu.
Salah seorang staf restoran yang juga merupakan teman dari pacar Aris. Memotret kebersamaan Aris bersama dengan Devi. Dia ingin memberikan gambar itu pada temannya. Hingga mungkin akan ada keributan antara Aris dengan pacarnya. Jika photo kebersamaan Aris dan Devi itu di berikan kepada pacar Aris.