
Dengan Rok berwarna coklat bermotif garis horizontal. Rini berjalan mendekat seorang tukang ojek online yang tengah berada di sekitar stasiun. Rini ingin bertanya alamat rumah orangtua Juan.
"Mas numpang nanya." Rini memulai pembicaraan dengan suara khas orang Sunda.
"Iya mbak, mau tanya soal apa?" Tanya tukang ojek tersebut.
"Masnya tahu alamat ini tidak?" Tanya Rini menunjukkan secarik kertas berisi alamat rumah orangtua Juan.
"Oh itu saya tahu. Masa order dengan saya?" Tawar tukang ojek online tersebut.
"Oh mas tahu alamat ini. Kalau boleh tahu, berapa ongkos buat kesana?" Tanya Rini antusias.
"500 ribu." Jawab si tukang ojek.
"Tapi saya tidak ada uang sebanyak itu mas. Saya cuman ada 300 ribu doang." Rini mengiba.
Wajah melas Rini, sukses membuat tukang ojek itu menurunkan harga yang ditawarkan. Dia tak tega dengan Rini yang sepertinya baru pertama kali ke Jakarta. Sehingga Rini begitu kebingungan.
__ADS_1
"Baiklah 300 ribu juga tidak apa-apa. Hitung-hitung sedekah." Ucap si tukang ojek tersebut.
"Jadi mas mau buat antar saya ke alamat pak Robi ini. Terima kasih mas. Terima kasih." Rini bahagia.
Tukang ojek itu langsung meminta Rini untuk naik ke motornya. Sebab dia akan segera mengantar Rini menuju alamat yang dia tuju. Rini dengan penuh antusias naik, memasang helm yang diberikan oleh tukang ojek tersebut. Sebelum tukang ojek itu langsung membawa motornya menuju alamat rumah Robi.
Rini dibuat takjub dengan gedung-gedung tinggi yang menghias Jakarta. Matanya tak henti menatap indahnya gedung-gedung tersebut. Rini pertama kali ke Jakarta. Sehingga dia merasa begitu takjub akan panorama gedung serta bangunan modern yang berjejer rapi di Jakarta.
"Saya lihat di tv, Jakarta itu kumuh banget. Tapi kenapa disini saya melihat Jakarta bagus banget?" Tanya Rini pada tukang ojek tersebut.
"Kamu lihat kawasan kumuhnya, tapi sekarang yang ada di depan kamu ini. Kawasan perkantoran yang sudah pasti kawasan ini bersih dan bagus.' Jawab si tukang ojek.
"Iya seperti itulah kota besar. Ada kawasan elitenya, tapi ada juga kawasan kumuhnya." Tutup si tukang ojek.
Keindahan yang di lihat Rini akan Jakarta, telah membuatnya tak begitu merasakan perjalanan jauh dari stasiun menuju rumah Robi. Tanpa disadari, kini ojek yang ditumpanginya telah sampai di depan rumah besar milik Robi. Walaupun Rini akan menemui Juan, tapi Rini belum tahu Juan telah pindah dari rumah Robi. Sehingga dia datang ke alamat rumah Robi.
Rini turun, meletakkan terlebih dahulu jinjingan tas besarnya. Sebelum membuka helmnya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai mas?" Tanya Rini memberikan helm.
"Iya ini rumahnya. Kamu sudah sampai di alamat tujuan kamu." Jawab si tukang ojek sambil menerima helm yang diberikan oleh Rini.
"Sekali lagi terima kasih yah mas." Rini kembali berterima kasih.
"Iya mbak sama-sama." Tutup tukang ojek itu, sebelum akhirnya pergi dari hadapan Rini.
Sekarang Rini cukup bingung. Gerbang besar berwarna putih yang menjadi pintu masuk rumah Robi, membuatnya sedikit dilema. Apakah dia harus langsung membukanya, atau memberi salam terlebih dahulu. Mengingat di depan gerbang tidak ada bel yang bisa ditekan untuk memanggil orang rumah.
Kedatangan dari Yoga yang merupakan sepupu dari Juan. Sedikit membantu kebingungan dari Rini. Yoga yang baru selesai joging, langsung mengintrogasi Rini.
"Kamu cari siapa disini?" Tanya Yoga.
"Saya mencari pak Juan, pemilik rumah ini." Jawab Rini.
"Juan sudah pindah. Ini rumah orangtuanya, pak Robi sama Bu Nitta. Juan sudah pindah sama istrinya, Amasya." Terang Yoga.
__ADS_1
"Tapi kata nenek saya, rumah pak Juan disini. Saya dapat alamat ini." Terang Rini.
"Iya, Juan dulu tinggal disini. Tapi sekarang dia sudah pindah ke rumah barunya. Dia pindah baru beberapa hari."