Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Alvin Pulang Ke Rumah Amasya


__ADS_3

yuhyDokter sudah memperbolehkan Alvin untuk di rawat di rumah. Dengan catatan, sekali dalam seminggu. Alvin harus melakukan check up ke rumah sakit. Sebab dengan begitu, dokter bisa mengetahui perkembangan dari seorang Alvin itu sendiri.


Juan dan Amasya pun berjanji untuk membawa ayah mereka untuk melakukan check up rutin dalam seminggu. Mengingat Alvin masih harus melakukan kontrol rutin. Agar penyakit yang di derita oleh Alvin segera sembuh.


Sebelum Juan dan Amasya membawa Alvin pulang. Dokter pun memberikan obat untuk Alvin konsumsi setiap harinya. Obat itu di harapkan akan membantu perkembangan penyembuhan dari Alvin sendiri. Obat yang cukup banyak itu, harus Amasya berikan pada ayahnya secara rutin. Mengingat stroke yang di alami oleh Alvin sudah masuk kategori berat. Jika konsumsi obat tidak berjalan baik. Di khawatirkan akan menjalar pada penyakit lain yang lebih membahayakan lagi untuk Alvin.


Amasya pun berjanji untuk memberikan obat pada Alvin secara rutin. Mengingat kesehatan ayahnya tersebut sangat penting. Di tengah penyakit yang mendera ayahnya itu. Amasya harus selalu sigap dalam memberikan obat. Sebab satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh Amasya adalah memberikan obat pada Alvin secara rutin.


Semuanya telah selesai, Amasya dan Juan mulai membawa Alvin menuju mobil mereka. Juan dengan penuh kehati-hatian mendorong kursi roda dari Alvin. Dia berharap Alvin tidak mengalami kesakitan saat dirinya mendorong kursi roda itu. Sehingga Juan harus mendorong kursi roda itu sepelan mungkin.


"Apa kita tidak harus memberitahu mama dan Devi, jika kita membawa ayah ke rumah?" Tanya Amasya pada Juan.


"Untuk apa sayang, aku rasa mereka berdua tidak akan peduli pada ayah kamu. Mereka hanya peduli pada uang, jabatan dan harta. Hati nurani mereka sudah tidak ada. Mereka sudah tidak memiliki hati nurani." Balas Juan sedikit kesal.


Amasya menuruti perintah Juan. Sebagaimana juga, Juan adalah suami Amasya. Sehingga segala tindak tanduk Amasya. Harus sesuai dengan perintah dari Juan. Dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, mengingat apa yang akan di ambil oleh Amasya harus seizin dari Juan. Begitu juga dengan keputusan yang akan dia pilih. Tentu atas izin Juan sebagai suaminya.


Sebelum pulang ke rumah, Juan menepikan terlebih dahulu mobilnya di sebuah rumah makan. Juan ingin sekedar menyantap makanan ringan, mengingat perutnya yang masih kosong sedari pagi. Hingga perut Juan berontak untuk mendapatkan makanan.


"Kamu mau beli makan apa sayang?" Tanya Juan pada Amasya.


"Kamu sendiri ingin beli apa?" Tanya balik Amasya.

__ADS_1


"Aku ingin beli burger, sepertinya burger cukup lezat." Jawab Juan dengan singkat.


"Ya sudah, aku juga burger seperti kamu saja." Pinta Amasya.


Juan dengan segera keluar dari mobilnya. Dia ingin memesan dua buah burger di sebuah restoran cepat saji yang berada di pinggir jalan. Mungkin burger bisa membuat cacing di perutnya tidak berontak. Hingga tidak ada lagi suara keroncongan yang keluar dari mulutnya itu.


Menunggu Juan kembali ke dalam mobil. Amasya berusaha menghibur Alvin yang terlihat bersedih. Mungkin Amasya merasakan apa yang sedang Alvin rasakan. Dia memiliki raga, tapi raganya tersebut tak dapat Alvin gerakan. Hingga Alvin hanya bisa membiarkan raganya tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.


"Maafkan Amasya ayah, mungkin jika ayah ada di rumah Amasya. Ayah tidak akan mengalami hal seperti ini." Ucap Amasya bersedih.


Di dalam hati Alvin sendiri. Dia merasakan sebuah kesedihan yang teramat. Ingin rasanya Alvin mengatakan pada Amasya untuk tidak menangisi dirinya. Alvin tak ingin Amasya bersedih oleh keadaan dirinya. Hingga Alvin berharap Amasya untuk tidak bersedih lagi.


"Kamu yakin kita bisa menghabiskan burger sebesar ini?" Tanya Amasya mulai ragu.


"Aku sih mampu. Tapi kalau kamu sepertinya.... Aku ragu." Balas Juan meledek Amasya.


"Oh jadi kamu meragukan aku ceritanya...." Amasya menantang.


"Bukan meragukan. Tapi apa yang aku rasakan sepertinya betul. Kamu tidak akan mampu menghabiskan burger jumbo itu." Ledek Juan.


Di hadapan Juan, Amasya langsung menggigit dengan ukuran besar. Burger yang awalnya begitu jumbo. Terlihat berkurang dengan begitu besarnya, oleh satu gigitan dari Amasya. Sambil mengunyah burger itu, Amasya terlihat menantang seorang Juan untuk menghabiskan burger itu.

__ADS_1


Merasa tertantang oleh Amasya. Juan langsung melakukan hal yang sama. Dia mencoba menggigit burger jumbo itu dalam satu gigitan yang cukup besar. Tapi, Juan tidak mampu mengigit dengan gigitan besar layaknya Amasya. Dia hanya menggigit dengan ukuran biasa saja. Hingga Amasya merasa menang dalam hal gigitan tersebut.


"Aku pikir aku kalah dalam hal gigitan, tapi perlombaan ini bukan soal gigitan. Tapi siapa yang cepat dalam menghabiskan. Aku rasa, aku akan memenangkan hak itu." Ujar Juan dengan wajah menantang.


"Ok, kita buktikan saja." Balas Amasya kembali menggigit dalam ukuran besar lainnya.


Amasya dan Juan pun berlomba-lomba dalam menghabiskan burger itu. Keduanya tak memperdulikan saus dan mayones yang mengotori mulut mereka. Terpenting mereka bisa memenangkan perlombaan yang sengit itu.


Sampai akhirnya, Juan berhasil memenangkan perlombaan itu. Amasya yang sudah kenyang, tak mampu menghabiskan burger itu. Dia hanya bisa menghabiskan 3/4 bagian burger saja. Sementara Juan menghabiskan seluruh burger itu.


Sebagai pemenang, Juan tentu menginginkan sebuah reward. Sementara Amasya akan mendapatkan sebuah punishment atas kekalahan yang di terima dari Juan. Amasya awalnya sempat menolak, sebab Juan kalah dalam hal gigitan dari Amasya. Tapi perlombaan yang memang dalam hal menghabiskan. Akhirnya Amasya menuruti permintaan dari Juan yang menginginkan sebuah reward atas kemenangan dari Amasya tersebut.


"Aku ingin....." Ucap Juan mengambang.


"Aku ingin apa?" Tanya Amasya yang penasaran dengan permintaan dari Juan.


"Aku ingin kamu cium pipi aku." Jawab Juan dengan begitu manjanya.


Mungkin bukan permintaan sulit. Tapi apa Amasya mau mencium Juan di depan ayahnya. Tentu Amasya tak menginginkan hal itu terjadi. Dia masih memiliki rasa malu. Hingga Amasya langsung menolak permintaan dari Juan tersebut.


Juan yang tak menyadari keberadaan ayah mertuanya, saking asyiknya bermain berdua bersama Amasya. Juga akhirnya membatalkan permintaan darinya. Juan lebih memilih untuk membatalkan reward itu. Mengingat ada ayah Amasya yang juga berada di dalam mobil. Juan pun dengan segera membawa mobil miliknya menuju rumah. Terlebih melihat kondisi Alvin yang telah terlihat lelah. Sehingga Juan harus segera mengantar ayah mertuanya itu ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2