Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Permintaan Terakhir Bi Eem


__ADS_3

Siuman dengan senyuman yang kembali nampak dari wajah bi Eem. Bi Eem kembali terlihat bugar usai pingsan selama beberapa jam. Dia nampak lahap menyantap setiap hidangan yang diberikan oleh rumah sakit.


Tak ada Amasya maupun Juan kala dia menyantap hidangan bubur yang diberikan oleh rumah sakit. Dengan tangannya yang mulai keriput di makan usia. Bi Eem menyendok sedikit demi sedikit makanan yang terhidang untuknya.


Amasya sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat mengajar di sekolah. Segala perlengkapan mengajar satu persatu masuk kedalam tas besar bermerek miliknya. Dengan seragam khas dari sekolah tempat dia mengajar. Amasya terlihat anggun kala menenteng tas miliknya menuju meja makan.


Amasya menyapa ayah dan ibu tirinya yang telah lebih dulu berada di meja makan. Sedikit mencium aroma masakan yang terhidang diatas meja makan. Amasya duduk diantara ayah dan ibu tirinya.


Di kursi yang menjadi singgasana Devi terlihat masih kosong. Dimana Devi berada, apa mungkin dia masih tertidur. Amasya terus mencari keberadaan Devi yang menghilang dari singgasananya.


"Kemana Devi? Kenapa dia tidak ikut sarapan bersama kita?" Tanya Amasya dengan penasaran.


"Iya Ratna... Devi mana? Kenapa dia belum muncul, apa dia gak kerja hari ini?" Tanya Alvin juga.


"Perasaan aku lihat tadi Devi sudah bangun. Tapi kemana yah dia. Kalau gitu aku panggil dia dulu." Jawab Ratna.


Dengan langkah tergesa-gesa Ratna berjalan menuju kamar Devi. Ratna yang sudah begitu lapar, tak sabar untuk segera menyantap sarapan yang telah terhidang di meja makan tersebut.


Tok.... Tok... Tok... Ratna mengetuk pintu kamar Devi. Disertai dengan panggilan nama Devi. Ratna berharap Devi segera muncul untuk ikut sarapan bersama yang lainnya pagi ini.


Dengan wajah sedikit kesal, Devi keluar dari kamar. Devi seketika menggerutu, kala Ratna mengajaknya sarapan. Dia menolak untuk sarapan pagi ini. Sebab hari ini Devi sudah resmi resign dari rumah sakit. Walaupun surat pengunduran diri Devi di robek oleh Willy. Tetap keputusan Devi sudah bulat. Dia ingin resign dari tempat bekerjanya tersebut.


Devi meminta ibunya untuk kembali ke meja makan. Sementara dirinya masih ingin beristirahat di kamarnya. Devi langsung menutup pintunya dengan rapat, serta menguncinya dari dalam. Tak dapat hasil apapun, Ratna segera kembali menemui suami serta anak tirinya.


Baru duduk, Ratna langsung diberondong pertanyaan oleh Amasya.


"Devinya mana bu?" Tanya Amasya.


"Devi gak mau sarapan katanya." Jawab Ratna sedikit ketus.


"Dia gak berangkat kerja hari ini?" Tanya Amasya kembali.


"Dia mau resign katanya." Jawab Ratna kembali mulai menyendok nasi ke piringnya.


"Apa! Devi mau resign?" Amasya terkejut.


pertanyaan Amasya yang terus menerus dilontarkan pada Ratna, benar-benar membuat Ratna emosi. Hasilnya Ratna langsung mengamuk dengan semua pertanyaan dari Amasya tersebut.


"Pertanyaan kamu itu bisa di tahan dulu gak? Saya mau sarapan!" Amuk Ratna.


Mendengar amukan dari Ratna. Amasya seketika menghentikan beragam pertanyaan yang coba dia lontarkan pada Ratna akan Devi. Perlahan Amasya mulai menyantap sendok demi sendok nasi yang telah memenuhi piring makannya.


Tak hanya Amasya yang tengah sarapan bersama keluarga besarnya. Di ruang makan rumah Juan, keluarga Juan begitu asyik menyantap setiap lauk pauk yang terhidang di meja makan. Tentu lauk pauk itu dibuat oleh Sari yang merupakan pembantu kesayangan keluarga Juan.


Beragam menu tersedia dengan begitu menggoda. Dari menu tinggi protein, hingga sayur yang banyak mengandung vitamin serta serat. Semuanya terhidang dengan begitu mempesona diatas meja makan.

__ADS_1


Dengan penuh kehangatan, obrolan dimulai. Diawali Juan yang menceritakan tentang Amasya yang tak sungkan untuk menunggu bi Eem. Hingga Amasya yang begitu telaten menyuapi bi Eem. Juan semakin jatuh cinta akan sikap lembut dari Amasya. Sikap yang begitu langka ditemui olehnya. Hingga Juan berharap bisa menikah dengan Amasya dalam waktu dekat.


Doa dari Juan langsung mendapat aamiin dari kedua orangtuanya. Mereka sangat senang jika Juan bisa berjodoh dengan Amasya. Mengingat itu harapan mereka. Amasya menjadi menantu mereka. Mengingat sikap Amasya yang lemah lembut serta santun, menjadi sebuah kelebihan Amasya dari mantan pacar Juan selama ini. Sehingga pernikahan memang layak untuk keduanya.


Selain menceritakan kebahagiaan Juan akan sikap tulus yang ditunjukkan oleh Amasya pada bi Eem. Juan juga menceritakan kondisi bi Eem yang semakin membaik. Dia begitu senang dengan pengasuhnya tersebut yang sudah sangat terlihat bugar.


Hari ini kedua orangtua Juan berniat untuk menjenguk bi Eem di rumah sakit. Keduanya ingin melihat kondisi bi Eem, sekaligus tetap bersilaturahmi dengan bi Eem. Agar hubungan kedua orangtua Juan dengan bi Eem tetap terjalin.


Sebelum berangkat kerja Juan menyempatkan diri untuk menelpon Amasya. Selain ingin mendengar suara pacarnya pagi ini. Juan juga ingin meminta Amasya untuk kembali menunggu bi Eem di rumah sakit.


"Pagi Juan." Sapa Amasya.


"Pagi sayang. Kamu masih di rumah?" Tanya Juan.


"Iya, ini aku mau berangkat kerja. Kamu sendiri bagaimana?" Jawab Amasya."


"Aku juga mau berangkat kerja juga. Cuman aku masih kepikiran sama bi Eem. Soalnya dai tidak ada saudara disini. Jadi dia melakukan semuanya sendiri. Kamu sehabis pulang ngajar, sibuk tidak?" Ucap Juan.


"Tidak ada sih Juan. Kamu mau minta aku buat jagain bi Eem lagi?" Tanya Amasya balik.


"Kalau kamu gak keberatan sih..." Jawab Juan.


"Enggak. Justru aku senang bisa menjaga bi Eem. Aku bisa cerita banyak sama dia." Ujar Amasya dengan begitu senang.


"Makasih sekali lagi Amasya. Aku senang kamu mau buat jaga bi Eem." Ucap Juan.


Juan berangkat dengan perasaan lega. Sebab bi Eem kembali ada yang menjaga selama dia bekerja. Amasya hanya bekerja hingga siang hari. Sehingga dia bisa menjaga bi Eem hingga malam ini, sebelum dia pulang kantor.


Waktu berlalu terasa singkat. Rasanya Amasya baru saja mengajar di beberapa kelas. Tetapi waktu pulang hampir tiba. Dia tak melupakan janjinya pada Juan untuk menjaga bi Eem siang ini.


Amasya menuju toilet untuk mengganti pakaiannya dengan sebuah Sweater serta rok panjang. Tanpa riasan make yang nampak menor di wajah. Amasya tampil penuh percaya diri menuju rumah sakit.


Singgah sejenak di super market untuk membeli buah. Amasya kembali kedalam mobil dengan perasaan yang gembira. Sebab dia akan kembali bertemu dengan bi Eem yang sering kali memberikan nasehat-nasehat bijak untuk Amasya.


Tiba di rumah sakit, Amasya dengan langkah penuh percaya diri berjalan menuju ruang perawatan bi Eem. Dengan keranjang buah yang ia pangku. Amasya sudah tak sabar untuk bertemu dengan bi Eem.


Mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum akhirnya Amasya membuka pintu ruang perawatan bi Eem. Dengan mengucap salam, Amasya masuk kedalam ruang perawatan bi Eem.


Tetapi Amasya langsung terkejut dengan kondisi bi Eem yang terbaring jatuh diatas lantai. Hidungnya mengeluarkan darah. Hingga Amasya langsung berteriak memanggil dokter.


Seorang dokter langsung menghampiri Amasya. Dua perawat pria juga mendatangi suara teriakan yang muncul dari ruang perawatan bi Eem. Mereka turut membantu dokter mengangkat tubuh bi Eem keatas ranjang perawatannya.


Dokter pertama melakukan pemeriksaan dengan stetoskop miliknya. Lalu dia memasangkan kembali selang infus bi Eem. Bi Eem yang terjatuh cukup keras, kembali membuat kesadaran bi Eem hilang. Hingga bi Eem kembali pingsan.


Amasya yang tak henti menangis mencoba mendapatkan jawaban yang pasti dari sang dokter. Tetapi dokter itu tidak bisa memastikan jika bi Eem akan baik-baik saja. Sebab akibat jatuh yang dialami oleh bi Eem. Cidera di kepalanya kembali membuat kondisi bi Eem lemah.

__ADS_1


Patah hati, Amasya begitu bersedih dengan kondisi bi Eem. Dia terus menangis kala memberitahu Juan lewat telepon akan kondisi bi Eem yang kembali memburuk usai terjatuh dari ranjang miliknya. Juan yang turut panik, juga langsung bergegas menuju rumah sakit. Padahal Juan sedang makan siang bersama rekan kantornya.


Tiba di rumah sakit dengan masih mengenakan jas serta sepatu kerja. Juan langsung mendatangi ruang perawatan bi Eem. Tanpa mengucapkan salam apapun, Juan langsung masuk kedalam ruang perawatan bi Eem.


Amasya yang terus memanjatkan doa-doa di samping bi Eem. Terkejut kala Juan masuk secara tiba-tiba.


"Juan... Aku pikir kamu siapa." Ucap Amasya menoreh kearah belakang.


Juan dengan langkah cepatnya menghampiri Amasya.


"Gimana kondisi bi Eem?" Tanya Juan.


"Dia kembali tak sadarkan diri. Tadi pas aku datang. Dia sudah tergeletak diatas lantai." Ujar Amasya.


Juan hanya mengusap wajahnya dengan rasa penyesalan yang amat dalam. Juan berjalan ke pojokan ruangan tersebut. Kemudian dia nampak menyalahkan dirinya sendiri dengan terus meninju tembok itu dengan kepalan kedua tangannya.


Amasya mendekati Juan. Dia coba memberi semangat pada Juan. Tetapi Juan tetap menyalahkan dirinya yang tak memiliki waktu untuk menjaga bi Eem di rumah sakit.


Ditengah rasa penyesalan yang melanda hati Juan. Secercah harapan tiba-tiba muncul. Jari jemari bi Eem satu persatu bergerak. Perlahan kedua matanya pun turut terbuka. Kepalanya juga mulai bisa menoreh kearah Juan dan Amasya yang berada di pojokan.


Melihat bi Eem yang kembali siuman. Juan dan Amasya langsung menghampiri bi Eem. Kedua dengan segera menyapa bi Eem. Bi Eem tersenyum, kemudian mengelus tangan Juan yang tergeletak diatas ranjang perawatannya.


"Juan... Bibi boleh minta sesuatu dari Juan?" Tanya bi Eem.


"Boleh bi... Boleh... Bibi ingin minta apa. Juan siap turutin." Jawab Juan.


"Bibi cuman ingin Juan segera menikah dengan Amasya. Bibi mau Juan ada yang mengurusi. Jika bibi sudah pergi." Ucapnya dengan suara lirih.


Juan menatap Amasya.


"Iya bi. Juan akan segera menikah dengan Amasya. Juan ingin bibi bisa hadir kala Juan menikah dengan Amasya nanti." Pinta Juan.


Bi Eem tersenyum.


"Bibi boleh minta satu permintaan lagi pada Juan?" Pinta bi Eem.


"Silakan bi. Juan akan berikan apapun permintaan dari bi Eem." Jawab Juan menyakinkan dengan wajah yang tetap memerah.


"Juan bersedia untuk membiayai kuliah cucu bibi yang bernama Rini. Bibi pengen dia bisa kuliah seperti Juan dulu. Hingga bisa sukses seperti Juan." Pinta bi Eem.


"Juan janji akan membiayai kuliah cucu bibi tersebut. Juan janji." Janji Juan.


"Terima kasih Juan. Juan baik banget." Kata-kata terakhir bi Eem.


Bi Eem kembali tersenyum. Tetapi perlahan wajahnya semakin memucat. Kesadarannya hilang, hingga Amasya langsung berteriak memanggil dokter.

__ADS_1


Dokter kembali ke ruangan bi Eem. Dia melakukan pemeriksaan terhadap bi Eem. Tetapi nyawa bi Eem sudah tak dapat tertolong. Bi Eem dinyatakan meninggal dunia.


__ADS_2