Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Darmi Di Tolong Juan


__ADS_3

Darmi berjalan tak tahu arah. Sambil terus menangis, menahan sakit di tubuhnya. Darmi terus menguatkan diri dengan cobaan hidup yang dia alami. Terutama cobaan hidupnya yang datang dari Ratna. Hingga Darmi harus ikhlas dengan semua perlakuan dari Ratna kepada dirinya.


Melakukan perjalanan jauh dengan perut kosong. Kini Darmi mulai kelaparan. Perutnya terus berbunyi, sedikit rasa sakit juga mulai menyerang dalam perutnya. Hingga Darmi berjalan sambil menahan rasa sakit yang juga berasal dari perutnya.


Setiap rumah makan Darmi lewati. Mengiba di depan rumah makan itu. Berharap akan belas kasih dari pemilik rumah makan itu pada dirinya. Tapi wajah melas dari Darmi tak cukup untuk menarik perhatiannya mereka. Darmi yang mengiba makanan pun, tak urung mendapatkan. Dia justru di usir dengan kasarnya oleh pegawai rumah makan yang coba di singgahi olehnya.


Tak hanya rasa lapar yang sudah mulai menyerang perut Darmi. Rasa haus juga kini mulai membuat Darmi tidak nyaman. Tenggorokan Darmi terasa kering, dengan cuaca panas yang menghantam sekujur tubuhnya.


Darmi menepikan tubuhnya lagi di samping sebuah warung kelontong di pinggir jalan. Darmi menatap puluhan botol air mineral yang terpajang di depan warung kelontong tersebut. Berharap pemilik warung itu akan iba pada Darmi, untuk memberikan salah satu dari air botol itu padanya.


Tapi apalah daya, Darmi justru langsung di usir oleh pemilik warung kelontong itu. Wajah mengiba dari seorang Darmi tak cukup untuk membuat pemilik warung kelontong itu luluh. Dia langsung mengusir Darmi dengan begitu kasarnya.


"Buat apa kamu duduk di depan warung saya. Buat loe jijik aja." Ucap pemilik warung dengan begitu marahnya.


Darmi kembali menangis hebat dengan pengusiran yang di lakukan oleh pemilik warung kelontong itu. Darmi merasa apa yang di lakukan pemilik warung itu sangat tidak sopan. Dia mengusir Darmi yang kelaparan hebat. Membiarkan tubuh Darmi terus di hantam kelaparan hebat.

__ADS_1


Darmi kembali berjalan menyusuri jalanan. Kakinya mulai berdarah dengan tajamnya batu kerikil yang dia injak di sepanjang jalan. Darmi seolah tak memperdulikan rasa sakit yang terus menghantam sekujur tubuhnya. Terpenting Darmi bisa terus berjalan, walaupun dia sendiri tidak tahu kemana dia akan singgah.


Tubuh Darmi yang semakin lemah, padahal akhirnya menyerah juga. Darmi yang berjalan cukup jauh dengan rasa haus dan lapar. Jatuh pingsan, begitu berad di pertigaan jalan. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi dia gerakkan. Hingga Darmi harus jatuh pingsan.


Beberapa pengendara jalan langsung mengkerubungi tubuh Darmi yang jatuh di samping jalan. Mereka penasaran dengan tubuh perempuan tua yang berada di pinggir jalan tersebut. Mungkin mereka bisa mengenali Darmi, sehingga mereka bisa membawa Darmi ke sanak keluarganya.


Mereka hanya melihat Darmi saja. Begitu tak mengenali wajah Darmi, mereka kembali pergi meninggalkan tubuh Darmi. Tak ada satu pun orang yang tertarik membawa tubuh Darmi itu ke rumah sakit. Mereka justru saling menunjuk untuk membawa Darmi ke rumah sakit. Miris dengan rasa kepedulian yang sudah mulai berkurang dari masing-masing individu. Kepedulian yang seharusnya bisa membuat seseorang iba terhadap orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan seperti Darmi.


Kerumunan orang yang berada di samping jalan. Telah membuat suasana jalan menjadi macet. Mobil Juan yang di bawa Rendi, juga turut terjebak macet dalam posisi pulang ke rumah. Juan begitu menyesali kemacetan yang terjadi. Sebab hari ini Juan ingin segera menyantap menu special yang Amasya buat untuknya.


"Entah pak. Sepertinya ada kecelakaan di depan. Ada kerumunan di pinggir jalan sana." Balas Rendi sambil terus mencari celah untuk keluar dari kemacetan.


Rendi akhirnya berhasil menembus kemacetan yang ada. Dengan kemampuan Rendi yang baik dalam menyalip kendaraan lain. Akhirnya Rendi berhasil membawa mobil Juan dari kemacetan yang ada. Sebuah aplause di berikan Juan kepada Rendi. Berkat kejelian dari seorang Rendi, akhirnya mobil Juan bisa bebas dari kemacetan yang mendera.


Juan langsung terkejut, saat dia melihat Darmi yang tergeletak begitu lemas di pinggir jalan. Di balik kerumuman warga yang terus mengerumuni tubuh Darmi. Juan berhasil melihat Darmi dari celah-celah kerumunan warga tersebut.

__ADS_1


Tak jauh dari kerumunan itu, Juan meminta Rendi untuk menghentikan laju mobilnya. Dia ingin memastikan, apakah orang yang berada dalam kerumunan warga itu adalah Darmi? Melihat selintas, tubuh dan wajah orang yang tergeletak itu sama persis seperti Darmi.


Benar ternyata dugaan dari Juan. Perempuan yang di kerumuni warna itu adalah Darmi. Juan langsung menghampirinya tubuh Darmi. Dia mengecek nadi Darmi, begitu nadinya masih berdenyut. Juan langsung membawa tubuh Darmi itu ke dalam mobil miliknya.


Melihat Juan yang begitu kesulitan memangku tubuh perempuan besar yang di bawa olehnya. Dengan inisiatif Rendi sendiri, Rendi langsung membuka pintu mobil untuk Juan. Juan pun tak harus membuka pintu mobilnya lagi.


Juan begitu ngos-ngosan ketika membawa tubuh Darmi yang cukup bongsor. Hingga Juan harus menggunakan tenaga ekstra untuk membawa tubuh pembantu Ratna itu.


"Perempuan itu siapa pak?" Tanya Rendi penasaran.


"Dia itu pembantunya mertua saya. Nama dia Darmi." Jawab Juan yang masih ngos-ngosan.


"Terus kita mau bawa dia kemana pak?" Tanya Rendi kembali.


"Seharusnya ke rumah mertua saya. Tapi saya malas kalau harus bertemu dengan ibu mertua saya. Mungkin kita akan membawa Darmi ke rumah saya terlebih dahulu. Setelah dia sembuh, mungkin saya akan minta dia untuk kembali ke rumah mertua saya." Ucap Juan.

__ADS_1


Tak ingin terus merasa terik matahari yang masih cukup membakar kulit. Juan dengan segera meminta Rendi untuk menjalankan mobilnya. Juan ingin segera mengobati tubuh Darmi yang penuh dengan luka. Mungkin ada beberapa obat yang akan di berikan Juan pada Darmi, setibanya di rumah. Obat yang tentunya di butuhkan oleh Darmi dalam mengobati luka yang ada di tubuhnya.


__ADS_2