
Ayah Juan adalah seorang konglomerat. Tapi Juan yang memang di didik menjadi seorang pria kuat dan mandiri. Tetap bekerja keras untuk bisa hidup mandiri. Mengingat dunia yang keras dan memiliki tantangannya sendiri. Hingga Juan harus bisa menjadi seorang pria mandiri yang tangguh.
Bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Juan benar-benar memulai dari bawah. Dia tidak membawa nama orangtuanya. Tapi dia mencoba menciptakan nama dirinya sendiri yang tangguh untuk di kenal orang. Setiap hari Juan bekerja keras untuk membuktikan kinerja terbaiknya. Termasuk dalam hal memberikan ide pada perusahaan. Juan di anggap sebagai seorang pekerja yang cerdas dan kompeten. Tak heran dengan usia Juan yang masih muda. Dia bisa langsung naik ke posisi strategis di perusahaan.
Terdengar desas-desus akan adanya promosi jabatan. Kabar ini sudah banyak dibicarakan oleh karyawan lain. Beberapa staf yang di nilai kompeten akan segera promosi jabatan.
Dari semua nama yang mulai bocor ke publik. Nama Juan yang paling santer terdengar ke telinga para staf. Juan di sebut akan segera naik menjadi direktur utama di perusahaan tempatnya bekerja. Kabar promosi Juan menjadi berita yang heboh, mengingat Juan memang sudah lama di incar untuk menjadi seorang direktur utama di perusahaan tempatnya bekerja.
Ferdi yang merupakan salah satu rekan kerja Juan mendatangi meja kerja Juan. Dia terlihat ingin memberikan selamat atas isu promosi Juan. Ini baru isu, tapi Ferdi sudah dini untuk memberikan selamat pada Juan.
"Selamat kawan, sebentar lagi loe bakal jadi direktur utama di perusahaan ini." ucap Ferdi menjabat tangan Juan.
"Apa sih maksud loe Fer. Siapa yang mau promosi jabatan. Gue pikir tidak ada." balas Juan merendah.
"Semua orang sudah tahu. Paling sebentar lagi, nama loe bakal di panggil pak Wendi untuk di kasih tahu. Gue yakin itu." ucap Ferdi kembali.
"Belum saatnya, gue juga belum lama di sini. Jadi mungkin masih lama untuk promosi juga." balas Juan kembali.
Di tengah obrolan santai itu. Fitria yang merupakan asisten dari pak Wendi, datang menghampiri meja Juan.
__ADS_1
"Selamat pagi pak Juan. Bapak sudah di tunggu di ruangannya pak Wendi sekarang." ucap Fitria.
Mendengar ucapan Fitria. Ferdi langsung bahagia. Benar apa yang dia ucapkan, jika Juan akan segera promosi jabatan. Tentu promosi jabatan yang akan semakin menguatkan posisi Juan di perusahaan tersebut.
Sebelum mendatangi ruang kerja pak Wendi, Juan merapikan terlebih dahulu dasi serta jasnya. Di bantu Ferdi, Juan berjalan dengan penuh keyakinan menuju ruangan pak Wendi. Beberapa teman kerja Juan yang lain juga memberikan selamat atas keberhasilan dari Juan. Mereka turut bahagia atas promosi jabatan yang di dapat oleh Juan.
Tepat di depan pintu ruang kerja pak Wendi. Juan menarik nafas dengan begitu dalamnya. Dia tak ingin terlihat gugup di hadapan seorang pak Wendi. Apa lagi akan ada kabar baik yang akan menghampiri dirinya. Juan harus bisa menunjukkan bagaimana dirinya memang layak untuk berada di posisi tersebut.
Tok... Tok... Dua kali ketukan pintu sudah cukup. Pak Wendi meminta Juan untuk membuka pintu ruangannya yang memang tidak dikunci. Dengan penuh kehati-hatian, Juan mendorong pintu ruang kerja pak Wendi.
Dengan senyuman yang begitu manis. Juan bergegas masuk ke dalam ruang kerja pak Wendi. Lalu pak Wendi mempersilakan Juan untuk duduk di hadapan dirinya. Dengan segera Juan duduk di kursi, di hadapan pak Wendi.
Juan nampak tak percaya ia akan secepat itu promosi jabatan. Mungkin ini adalah promosi jabatan paling cepat yang di dapat staf di perusahaan tersebut. Dengan usia Juan yang baru menginjak 28 tahun. Juan sudah di percaya menjadi seorang direktur utama.
Kabar bahagia yang Juan dapat, ingin segera Juan bagikan pada orang-orang tercinta. Pastinya keluarga yang harus pertama kali tahu adalah Amasya. Istri tercinta Juan itu harus menjadi orang pertama yang Juan berikan kabar bahagia tersebut. Amasya tentu akan bahagia mendengar kabar promosi jabatan dari seorang Juan. Ini kebahagiaan lain yang Amasya dan Juan rasakan, pasca kehamilan Amasya.
Juan segera kembali ke ruangannya. Dia ingin menelpon Amasya secara langsung. Mengabarkan pada Amasya akan dirinya yang telah resmi menjadi seorang direktur utama.
Juan melakukan panggilan video call dengan Amasya. Amasya langsung mengangkat panggilan video call dari Juan. Amasya yang baru masak, terlihat begitu berminyak. Hingga berulang kali Amasya harus mengelap wajahnya yang mulai berminyak.
__ADS_1
"Hallo sayang." sapa Juan.
"Hallo sayang. Tumben jam segini kamu video call aku?" tanya Amasya.
"Aku kangen sama kamu." jawab Juan full senyum.
"Tunggu. Sepertinya kamu lagi bahagia, aku jadi penasaran dengan kebahagiaan yang sedang kamu rasakan." Duga Amasya.
"Ok deh, aku cerita sama kamu. Jadi aku baru dapat kabar bahagia hari ini. Pak Wendi memberikan aku promosi jabatan. Kini aku resmi menjadi seorang direktur utama." ucap Juan dengan begitu bahagia.
Amasya begitu bahagia mendengar kabar tersebut. Saking bahagianya, Amasya sampai meneteskan sedikit air mata mendengar kabar itu. Dia tak menyangka Juan akan secepat itu promosi jabatan.
"Selamat sayang, aku ikut senang dengar kabar itu. Semoga kamu semakin amanah dengan jabatan baru kamu nantinya." ucap Amasya dengan penuh kebahagiaan.
"Iya sayang, aku harap begitu. Semoga dengan jabatan aku ini. Aku akan semakin bisa menjadi lebih baik lagi dalam bekerja." balas Juan.
Kabar promosi Juan seketika langsung tersebar ke seluruh keluarga besar Amasya dan Juan sendiri. Hingga kabar promosi jabatan itu terdengar juga ke telinga Devi. Tentu ini kabar yang membuat Devi panas dingin. Pasalnya Devi akan semakin iri dengan keberhasilan dari seorang Amasya dan Juan yang terus di selimuti keberhasilan.
Devi yang awalnya begitu bahagia menyambut hari ini. Harus menelan pil pahit dengan kebahagiaan yang di rasakan oleh Amasya dan Juan. Kebahagiaan yang justru berlawanan bagi seorang Devi.
__ADS_1