Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Amasya Tidak Memberikan Parni Pinjaman Uang


__ADS_3

Parni nampak terlihat gelisah di dalam kamarnya. Ancaman dari debt kolektor di pasar benar-benar membuat Parni di landa ketakutan hebat. Hingga Parni tak bisa tenang di dalam kamarnya.


Duduk, berdiri, berjalan sejenak. Sebelum akhirnya duduk dengan raut wajah panik. Parni benar-benar tidak bisa tenang dengan kondisinya saat ini. Hingga Parni terus di landa ketakutan yang teramat. Terutama akan ancaman yang masih terus membayangi pikirannya.


Di tengah kepanikan dari Parni di dalam kamar. Darmi yang baru saja menidurkan Alvin di kamar. Masuk ke dalam kamar untuk sekedar beristirahat. Baru membuka pintu kamar, Darmi sudah melihat Parni yang terlihat begitu kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Darmi langsung menghampiri Parni yang terus terlihat begitu gelisah.


"Kamu kenapa gelisah seperti itu Par?" Tanya Darmi duduk di samping Parni.


"Aku baik-baik saja. Kamu jangan terlalu mengurusi hidup aku. Lebih baik kamu urus saja pak Alvin sana." Pinta Parni dengan begitu ketusnya.


"Saya cuman nanya saja Par, kenapa kamu sewot seperti itu." Balas Darmi.


Parni semakin tak tenang. Dia terus di hantui ucapan dari debt kolektor yang meminta dirinya untuk segera membayar hutangnya yang telah menumpuk itu. Dia mencari cara untuk membayar hutang pada rentenir.


Beberapa ide buruk mulai terpikir di benak Parni. Mulai dari mencuri perhiasan di rumah Amasya. Hingga menjual barang-barang mewah di rumah Amasya. Tapi tentu itu memiliki resiko yang cukup besar. Mengingat hampir di seluruh sudut rumah Amasya telah terpasang kamera pengawas. Hingga segala tindakan yang akan di lakukan Parni rentan terekam kamera pengawas yang ada di rumah Amasya.


Lantas apa yang harus Parni lakukan untuk membuat dirinya bisa membayar hutang pada rentenir tersebut? Mungkin Darmi bisa meminjam uang kembali kepada Amasya. Iya, itu satu-satunya solusi yang harus di lakukan oleh Parni agar bisa membayar hutang pada rentenir itu. Mengingat uang Amasya tentu banyak, hingga untuk melunasi hutang dirinya. Tidak akan ada masalah besar untuk Parni.


Dengan wajah penuh harap, Parni bergegas menuju kamar Amasya. Malam ini Parni harus bisa merayu Amasya untuk memberikan dirinya sedikit pinjaman. Mengingat Parni sudah harus membayar hutangnya pada rentenir.

__ADS_1


Saat berada di depan kamar Amasya. Parni kembali di landa sebuah keraguan. Mungkinkah Amasya akan memberikan dirinya pinjaman? Tentu ini masih menjadi misteri yang harus segera di pecahkan oleh Parni. Namun Parni masih cukup ragu untuk melakukan hal tersebut. Namun hutangnya tentu tidak akan lunas dengan sendirinya, jika dia tidak meminjam uang pada Amasya. Hingga Parni harus membuang semua keraguan dari dalam hatinya akan pinjaman yang akan di lakukan pada Amasya.


Tok... Tok... Cukup dua kali ketukan pintu di lakukan oleh Parni. Amasya yang memang berada di dalam kamar bersama Juan. Langsung membuka pintu kamarnya.


"Parni, ada apa kamu ketuk pintu saya malam-malam gini?" Tanya Amasya melihat wajah gugup seorang Parni.


Parni benar-benar gugup. Tubuhnya terlihat gemetar, dengan pandangan yang menunduk. Wajah Parni juga memerah, menunjukkan bagaimana dirinya begitu ketakutan. Mungkin Parni ketakutan akan gagal, dalam upaya meminjam uang. Hingga Parni tidak bisa menyembunyikan wajah penuh ketakutannya itu.


"Ada apa Parni, kamu kenapa terlihat gugup seperti itu?" Tanya Amasya kembali.


"Anu Bu, saya ingin ngomong sesuatu sama ibu." Jawab Parni yang mulai bersuara.


"Saya ingin....." Jawab Parni menggantung.


"Ingin apa?" Tegas Amasya.


"Ingin meminjam uang Bu." Jawab Parni spontan.


Amasya terdiam sejenak. Menatap wajah Parni yang masih tetap gugup.

__ADS_1


"Perasaan baru kemarin kamu meminjam uang pada saya, sekarang kamu mau meminjam uang lagi." Ucap Amasya.


"Iya Bu, semua hutang saya adalah bekas mantan pacar saya. Dia menggunakan identitas saya untuk meminjam ke beberapa pihak. Hingga begitu kami putus, saya yang harus membayar semua hutang dia." Jelas Parni yang mulai menangis.


"Berapa kamu ingin pinjam uang Parni?" Tanya Amasya.


"50 juta Bu." Jawab Parni dengan santainya.


Amasya tertawa mendengar ucapan dari Parni. Dia menertawakan Parni yang begitu santai mengucapkan kalimat itu. 50 juta bukanlah uang yang sedikit. Itu jumlah yang cukup besar. Hingga tidak semudah itu Amasya akan memberikan pinjaman pada Parni. Terlebih Parni adalah pembantu baru di rumahnya.


"Bukan saya tidak mau kasih kamu Parni. Tapi 50 juta itu nominal yang cukup besar Parni. Itu jumlah yang besar. Tentu itu akan semakin membebani kamu." Ucap Amasya dengan bijaknya.


"Iya Bu, saya sadar akan hal itu. Tapi saya tidak tahu harus meminjam kepada siapa lagi. Semua orang sudah saya pinjami, mereka tidak ada yang punya uang sebanyak itu." Balas Parni dengan begitu sedihnya.


"Iya Parni, saya tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin kamu bisa menghubungi mantan pacar kamu kembali. Siapa tahu dia mau tanggung jawab atas perbuatannya. Sehingga kamu tidak menanggung semuanya sendiri saja." Saran Amasya.


"Saya sudah sering Bu. Tapi dia tetap tidak bisa di hubungi oleh saya. Hingga saya harus menyelesaikan semuanya sendiri saja." Ucap Parni.


Amasya memiliki uang sebanyak itu sebenarnya. Tapi Amasya masih belum yakin dengan semua cerita dari Parni. Begitu juga dengan Parni yang baru bekerja sebentar di rumah Amasya. Hingga Amasya harus mengenal Parni lebih jauh lagi, sebelum memberikan pinjaman uang pada Parni. Mengingat uang 50 juta bukan nominal yang kecil untuk di pinjamkan pada seseorang. Perlu pertimbangan yang matang, bagi Amasya untuk meminjam uang.

__ADS_1


__ADS_2