Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Kekhawatiran Amasya Pada Devi


__ADS_3

Dengan posisi tengkurap sambil terus mengunyah cemilan diatas kasurnya. Amasya menerima panggilan video call dari Juan. Dengan wajah berseri, serta cincin lamaran dari Juan yang terus dia usap. Amasya nampak begitu bahagia dengan lamaran yang dilakukan di hari kemarin.


"Iya aku ingin pernikahan kita di percepat. Mungkin 2 minggu dari sekarang kita bisa mempersiapkan pernikahan kita nanti. Aku tidak ingin terlalu mewah. Sederhana, tetapi khidmat."Ucap Juan.


"Aku setuju banget. Aku ingin acara pernikahan kita nanti, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang membutuhkan. Jadi dibanding dengan merayakan pesta mewah. Mending kita pakai buat sedekah ke orang-orang yang membutuhkan." Saran Amasya.


"Aku setuju ide kamu. Aku pikir itu hal yang bagus untuk kita. Dimana akan banyak doa dalam pernikahan kita." Ucap Juan.


"Benar banget sayang." Amasya keceplosan.


"Apa.... Aku gak dengar tadi kamu ngomong apa?" Juan menggoda.


"Iya sayang....." Amasya tanpa ragu.


"Senang banget, sekarang udah di panggil sayang sama pacar. Kedengarannya enak banget gitu." Goda Juan.


Amasya hanya tersenyum menatap wajah Juan yang begitu bahagia.


"Kalau gitu udah dulu. Aku mau siap-siap buat berangkat ke kantor. Kamu hari ini ngajar jugakan?" Tanya Juan.


"Iya aku hari ini ngajar. Memang kenapa sayang?" Amasya semakin lihai memanggil sayang pada Juan.


"Aku mau ngajak kamu buat berangkat bareng. Sekaligus mau ngajak kamu buat sarapan bareng juga. Kamu mau berangkat bareng aku?" Ajak Juan.


"Enggak!" Ucap Amasya singkat.


Juan kaget dengan terdiam sejenak.

__ADS_1


"Enggak salah lagi. Aku mau berangkat bareng kamu sayang." Lanjut Amasya tertawa.


Wajah panik yang melanda Juan pun seketika menghilang. Sedikit kesal dengan prank yang dibuat oleh Amasya. Juan lantas memasang wajah bad mood di depan layar ponselnya. Bukannya meminta maaf Amasya, malah semakin tertawa melihat wajah bad mood dari Juan. Hingga Juan tak sanggup lagi menahan kekesalannya pada Amasya. Dia pun akhirnya tertawa juga.


Hampir 20 menit saling memberi kabar lewat panggilan video call. Tiba untuk Amasya mempersiapkan diri berangkat menuju sekolah. Diawali dengan mandi, sedikit make up. Sebelum diakhiri dengan seragam wajib yang harus dikenakannya. Selesai! Amasya segera meninggalkan kamarnya untuk menunggu Juan menjemput diluar rumahnya.


Dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Amasya berjalan dengan penuh percaya diri menuju gerbang rumah. Amasya dibuat terkejut kala melihat Devi yang termenung menekuk kedua kakinya diatas kadur didalam kamar. Pandangan Devi kosong dengan setetes demi setetes air mata membasahi wajah mulusnya. Amasya berjalan sedikit kearah pintu kamar Devi yang terbuka sedikit. Amasya mengintip dari celah pintu yang terbuka tersebut. Dia dapat merasakan apa yang Devi rasakan.


Setelah terjadi pergulatan didalam hatinya, akhirnya Amasya memberanikan diri untuk menghampiri Devi. Baru masuk beberapa langkah kedalam kamar Devi. Langkah Amasya langsung tertahan. Devi dengan penuh Amarah mengusir Amasya keluar dari kamarnya. Tanpa ragu Devi mendorong Amasya keluar dari pintu kamarnya, lalu mengunci rapat pintu kamar.


Segala ucapan Amasya dibiarkan berlalu begitu saja oleh Devi. Kepedulian Amasya tak berarti di mata Devi yang tak ingin Amasya mengetahui kesedihan yang dialaminya. Devi memilih untuk menyimpan kesedihannya sendiri, tanpa harus orang lain mengetahui. Juga pada Amasya yang merupakan kakak tirinya sendiri.


Amasya menyerah. Akhirnya Amasya meninggalkan kamar Devi untuk segera bergegas berangkat menuju sekolah. Sepanjang perjalanan menuju gerbang rumahnya, Amasya tak henti terpikir akan Devi. Apa yang membuat Devi menangis, hingga bisa membuatnya semurung tersebut.


Amasya tak dapat menyembunyikan keinginan dirinya untuk mengetahui permasalahan yang dialami oleh Devi. Didalam mobil Juan, Amasya terus memikirkan Devi. Hingga Amasya tak fokus mendengar cerita dari Juan. Amasya pun gelagapan kala Juan menanyakan pendapat dirinya.


Meskipun awalnya ragu untuk bercerita, tetapi akhirnya Amasya menceritakan apa yang menjadi pikirannya saat ini. Amasya menceritakan Devi yang nampak murung dengan didalam kamarnya. Apa khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya. Hingga Devi terlihat semurung itu.


"Jadi Devi yang ada disamping ibu tiri kamu waktu lamaran adalah adik tiri kamu?" Tanya Juan sedikit mengingat.


"Iya. Dia adik tiri aku." Jawab Amasya singkat.


"Waktu itu aku pernah tolong dia saat dua orang jahat mencoba merampok dia di jalanan." Cerita Juan.


"Apa! Devi pernah di rampok?" Amasya terkejut.


"Iya. Dia hampir dirampok oleh dua orang penjahat. Untungnya saat itu aku datang buat tolong dia." Lanjut Juan.

__ADS_1


"Terima kasih Juan kamu sudah menolong adik aku." Ucap Amasya menggenggam tangan Juan.


Juan tersenyum.


"Sama-sama sayang. Jangan panggil Juan dong. Panggil sayang lagi." Pinta Juan.


"Iya sayanggggg." Jawab Amasya memanjang.


Juan mengajak Amasya untuk sarapan bubur di pinggir jalan. Memarkir terlebih dahulu mobil mewah miliknya. Dengan romantis Juan membuka pintu mobil tempat Amasya duduk. Juan juga menggandeng Amasya berjalan menuju tempat makan bubur tersebut.


Amasya dipersilakan untuk duduk terlebih dahulu. Sementara Juan memesan bubur yang akan menjadi menu sarapan keduanya. Tak perlu bertanya lagi, Juan memesan 2 mangkuk bubur ayam komplit.


Menunggu bubur yang dipesan diantar oleh pedagangnya. Amasya kembali membahas persoalan Devi yang terus membelenggu pikirannya. Amasya tetap khawatir sesuatu buruk terjadi pada Devi. Hingga dia berusaha meyakinkan dirinya Devi akan baik-baik saja.


"Masih kepikiran adik tiri kamu?" Tanya Juan.


"Seperti itulah. Aku benar-benar khawatir sama dia. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Devi selalu marah-marah, tapi dia tidak pernah murung seperti itu. Itu yang membuat aku bertanya-tanya." Jawab Amasya.


Juan merangkul tubuh Amasya. Matanya menatap tajam wajah Amasya.


"Dengarkan aku sayang. Kamu jangan terus-menerus berpikir seperti itu. Kamu harus coba untuk berpikir positif. Sehingga rasa khawatir kamu pada Devi akan hilang dengan sendirinya. Come on." Pinta Juan.


Amasya terdiam tak merespon permintaan Juan. Dia hanya menatap balik tatapan tajam kedua mata Juan.


Dua mangkuk bubur yang dipesan oleh Juan diantar oleh telah terhidang di meja panjang. Aroma bubur itu mulai tercium dengan berbagai toping tambahan yang disodorkan oleh pedagang bubur tersebut. Juan pun meminta Amasya untuk sarapan bubur terlebih dahulu, agar bisa berpikir jernih. Sehingga tidak terus terpikir akan adik tirinya tersebut.


Amasya menuruti permintaan dari Juan. Satu sendok pertama dari Amasya mulai mengisi perut Amasya. Rasa bubur yang begitu lezat, perlahan bisa membuat Amasya sedikit tenang. Ditambah dengan lelucon yang dibuat oleh Juan kala menyantap bubur tersebut. Semakin membuat Amasya bisa lebih tenang lagi. Hingga Amasya pun bersyukur, Juan bisa menjadi bagian hidupnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2