
Kesuksesan Devi dalam menghapus seluruh photo bugil dirinya di handphone seorang Willy. Telah membuat dirinya terbebas dari segala ancaman yang mungkin akan diberikan Willy padanya. Kini Devi merdeka sepenuhnya dari Willy. Dia tak harus takut akan ancaman yang mungkin akan diberikan Willy padanya. Mengingat semua ancaman berupa photo bugil yang akan disebarkan oleh Willy, sudah tidak ada. Semuanya telah hilang.
Tak ada beban berat yang membayangi Devi kembali. Lega rasanya kini Devi tidak memiliki beban moral yang harus ditanggung oleh ulahnya sendiri. Devi menjadi manusia merdeka sepenuhnya.
Untuk merayakan kemerdekaan yang telah kembali ia dapatkan. Devi mengajak salah seorang temannya untuk parti di salah satu klab malam. Namun kali ini Devi harus lebih berhati-hati lagi, mengingat hal serupa jangan sampai kembali terulang.
Ajakan dari Devi diterima oleh Ayu. Dari beberapa teman Devi yang diajak parti malam ini. Hanya Ayu yang bersedia untuk menemani Devi parti. Permasalahan rumah tangga yang cukup pelik, membuat Ayu ingin melepaskan semua beban yang ada di hidupnya dengan berpesta pora. Salah satunya tentu melakukan parti di klab malam.
Dengan pakaian super minim, Devi berpamitan pada Ratna dan Alvin. Tak ada raut wajah sedih seperti hari-hari kemarin. Kini Devi mulai terlihat lebih ceria, hingga Alvin mempertanyakan apa yang membuat Devi sudah tak sesedih hari-hari yang lalu. Mungkinkah Devi sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
Devi tak menjelaskan apa yang membuatnya bahagia kembali. Tetapi Devi mengatakan jika satu beban besar dalam hidupnya kini telah tiada. Beban seberat paus orca yang terus menghantui Devi selama ini, kini sudah hilang.
Tak mau terlalu lama berbicara, Devi akhirnya berpamitan pada Ratna dan Alvin untuk pergi. Mengendarai sendiri mobilnya, Devi penuh percaya diri memacu mobilnya menuju rumah Ayu. Musik favoritnya tak ketinggalan Devi putar untuk menemani perjalanan Devi menuju rumah Ayu. Terlebih suasana hati Devi yang sudah kembali normal. Semakin membuat Devi bersemangat untuk bernyanyi sepanjang perjalanan tersebut.
Devi yang larut dengan lagu-lagu yang ia putar sendiri. Tanpa disadari telah tiba di depan rumah Ayu. Tak kalah seksi dari Devi, Ayu yang menggunakan baju crop top serta rok ketat pendek. Terlihat begitu menggoda setiap pria yang menatapnya.
Beberapa bulan tak bertemu, Devi begitu bahagia kembali bertemu dengan Ayu. Devi memeluk erat Ayu didalam mobilnya. Sebelum mengutamakan kalimat-kalimat lebay akan rasa kangen Devi yang tak bersua Ayu cukup lama.
Perjalanan menuju klan malam itu, dipenuhi dengan curhatan dari seorang Ayu yang jenuh dengan pernikahannya. Memiliki dua orang anak yang masih balita, membuat Ayu begitu kerepotan. Sekalipun Ayu memiliki dua orang baby sitter yang menjaga anaknya. Tapi Ayu tetap dilanda kerepotan dan kejenuhan.
__ADS_1
Hubungan Ayu dengan suami juga cukup membosankan. Tidak ada yang spesial yang membuat pernikahan mereka terasa indah. Hanya aktivitas yang sama, dengan waktu yang berbeda yang dilakukan oleh keduanya. Ayu terkadang menyesali pernikahan yang ternyata membosankan tersebut.
Mendengar cerita Ayu akan pernikahannya yang dipenuhi dengan kejenuhan. Justru membuat Devi ingin merasakan apa itu pernikahan. Mungkin suatu yang membosankan untuk Ayu, belum tentu membosankan juga untuk Devi.
Melihat antusiasme yang tinggi dari Devi akan pernikahan. Ayu pun menyarankan Devi untuk segera menikah dengan Willy. Namun Devi yang sudah sangat benci pada Willy, dengan tegas tidak akan pernah menikah dengan pria jahat tersebut. Bahkan jika Devi bertemu dengan Willy, ia akan segera memutuskan Willy sebagai pacarnya.
Devi menceritakan semua kebejatan dari Willy yang mengidap Stockholm Syndrom. Dimana Willy selalu memposisikan dirinya sebagai seorang yang memiliki rasa iba pada Devi. Tetapi Willy adalah orang yang membuat Devi menderita. Bahkan jauh lebih menderita dari apa yang mungkin dirinya pikirkan.
Ayu terkejut dengan kondisi dari seorang Willy yang ternyata mengidap Stockholm Syndrom. Mengingat Willy terlihat seperti orang normal yang penuh kasih. Tidak nampak dari raut wajah Willy yang menunjukkan dirinya adalah pengidap Stockholm Syndrom seperti yang Devi ungkapkan. Semuanya terlihat baik-baik saja, dalam pandangan seorang Ayu.
Saking asyiknya mengobrol, tanpa disadari Devi telah melewatkan tempat klab malam yang biasa mereka jadikan untuk dugem. Devi harus memutar kembali mobil miliknya. Mengingat jarak yang cukup jauh telah Devi lewatkan.
Akhirnya Devi benar-benar memarkir mobil miliknya tepat di parkiran klab. Diawali Ayu yang turun terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Devi. Keduanya berjalan berdampingan, masuk kedalam klab.
Tanpa disengaja, Devi dan Ayu bertemu dengan seorang Willy tepat di pintu masuk klab. Willy yang datang sendiri ke klab, seketika langsung naik darah melihat Devi yang juga berada di klab saat itu.
"Mau ngapain kamu kesini?" Bentak Willy pada Devi.
"Klab ini punya bokap loe? Ini bukan punya bokap loe, jadi semua orang bebas buat ke klab ini." Balas Devi tak kalah galak dari Willy.
__ADS_1
"Oh iya, kenapa kamu blokir semua akses sosial media aku?" Tanya Willy semakin marah.
"Karena kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi." Jawab Devi semakin tegas.
"Apa kamu bilang! Berani banget kamu mengatakan kalimat itu." Ancam Willy menarik keras tangan Devi.
Ayu yang mulai panik akan keributan yang terjadi antara Devi dengan Willy. Langsung memanggil sekuriti klab. Dengan adanya sekuriti, Ayu berharap Willy tidak akan berbuat kasar lagi pada Devi.
Tak perlu mencari jauh-jauh, Ayu dengan mudah menemukan sekuriti yang bisa melerai pertikaian antara Devi dengan Willy. Ayu langsung membawa sekuriti itu ke tempat pertikaian antara Willy dan Devi.
Willy yang menarik kasar tangan Devi. Langsung dibentak kasar oleh sekuriti yang ada. Dia meminta Willy untuk tidak berbuat kasar pada Devi, terlebih Devi adalah perempuan.
Willy melempar tangan Devi dengan begitu kasarnya.
"Ok kalau kamu mulai berani, kamu tanggung sendiri resikonya." Ancam Willy menunjuk kearah wajah Devi sambil berjalan pergi.
"Gue gak takut sama cowok pecundang kayak loe." Teriak Devi pada Willy.
Ayu mencoba menenangkan Devi, begitu Willy telah pergi. Ayu mengelus lembut pundak Devi. Sesekali Ayu meminta Devi untuk bisa lebih sabar lagi menghadapi Willy yang terlihat seperti pecundang.
__ADS_1
Begitu Devi sudah mulai tenang. Ayu dan Devi pun berjalan masuk kedalam klab. Disana Devi dan Ayu bisa bersenang-senang dengan sepuas hati. Melepas penat, dengan semua masalah yang terjadi.