Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Juan Menyatakan Cinta pada Amasya


__ADS_3

Akan ada waktu yang kamu sesekali. Jika kamu terus menunggu. Lebih baik lakukan untuk hari ini. Demi mendapatkan kepastian di masa mendatang.


Amasya adalah perempuan yang berhasil membuat Juan kembali dengan karakter lucunya. Amasya menikmati setiap kegaringan dari lakon yang diucapkan oleh Juan. Sulit untuk menemukan perempuan yang mampu bisa menerima apa yang kita maksud.


Dibalik meja kerjanya, Juan mulai memikirkan untuk segera menyatakan perasaannya pada Amasya. Mengingat hatinya juga telah begitu nyaman dengan Amasya. Tak ada keraguan, tapi Juan masih berani dan yakin dengan perasaan Amasya sendiri. Juan takut perasaan sukanya hanya pada dirinya saja. Tidak dengan Amasya.


Mencoba meyakinkan dirinya. Juan menceritakan kisah cintanya dengan Amasya pada Ratih. Dia adalah sekretaris Juan yang dikenal pintar dan berbakat dalam dunia percintaan. Juan meminta Ratih untuk duduk dikursi di depan meja kerjanya.


"Ada keperluan apa pak Juan memanggil saya kesini?" Tanya Ratih.


"Saya ingin ngomong sesuatu sama kamu. Tapi saya malu." Jawab Juan singkat.


Ratih bingung. Dia tak memahami maksud dari Juan. Wajahnya penuh pertanyaan.


"Maksud saya gini loh." Juan menarik nafas.


Kemudian Juan menghela nafas.


"Saya suka sama seseorang. Kita dekat banget. Tapi saya takut Ratih." Ucap Juan santai.


"Takut kenapa pak?" Tanya Ratih kembali.


"Saya takut ditolak Ratih. Menurut kamu saya bakal ditolak gak sama dia?" Jawab Juan yang balik bertanya.


"Saya pikir gak bakal ditolak pak. Apalagi seorang pak Juan yang menyatakan cinta. Perempuan mana yang mau menolak pak Juan." Jawab Ratih.


"Jadi menurut kamu saya tidak akan ditolak nih Ratih?" Tanya Juan.


"Tidak bakal pak. Apalagi kalau bapak sudah dekat sama dia. Saya pikir kemungkinan ditolak itu kecil banget." Tegas Ratih.


Juan berpikir sambil sedikit memainkan mulutnya yang membuat Juan terlihat begitu lucu. Tingkah konyol yang Juan lakukan, secara tak langsung membuat Ratih tersenyum. Dia tak kuat menahan tawa melihat betapa konyolnya atasannya tersebut.


"Kamu kenapa tertawa Ratih?" Tanya Juan.


"Enggak pak.. Saya hanya sedang berpikir satu adegan film yang saya tonton tadi. Scene filmnya lucu banget. Makanya saya tertawa." Alibi Ratih.


"Tapi kamu ada ide gak buat untuk saya?" Tanya Juan kembali.


"Ide apa pak?" Tanya balik Ratih.


"Ide... Bagaimana cara menyatakan cinta pada perempuan yang saya suka." Terang Juan.


"Bagaimana kalau dengan cara romantis macam di film-film gitu pak." Beber Ratih.


"Contohnya seperti apa?" Juan penasaran.


"Bapak nembak dia di sebuah restoran. Kemudian bapak sewa satu restoran itu, supaya jadi tempat yang special buat bapak dan calon pacar bapak tersebut." Saran Ratih.


Juan meletakkan dua jarinya disamping dahi kanannya. Dia memikirkan ide yang diberikan Ratih untuknya. Apakah dia terima, atau sebaliknya.


"Tapi setelah saya pikir bagus juga ide kamu itu. Tapi apa itu gak lebay Ratih, saya itu suka yang simple dan gak ribet Ratih." Ucap Juan.

__ADS_1


"Ya sudah pak kalau begitu, cukup setangkai bunga. Kemudian bapak tembak cewek bapak itu di mobil. Itu juga cukup kalau mau mau low budget doang." Saran Ratih.


"Cocok! Saya suka ide kamu yang kedua ini." Jawab Juan menunjuk Ratih dengan jari manisnya.


Ratih sedikit bergumam saat Juan memilih ide keduanya. Dengan budget yang minim dan sederhana. Padahal Juan adalah bos besar pemilik sebuah perusahaan ternama.


Juan yang sudah tak membutuh lagi untuk mendapatkan ide untu menyatakan cinta pada Amasya. Segera mengusir Ratih dengan halusnya. Ratih yang paham dengan maksud Juan, langsung pergi meninggalkan Juan di ruangannya.


Juan yang hanya ingin menyatakan cinta di dalam mobil. Segera menelepon Amasya. Tak perlu lama menunggu, Amasya langsung mengangkat telepon dari Juan.


"Hallo Juan." Sapa Amasya.


"Sepulang ngajar, kamu ada acara lagi gak?" Tanya Juan.


"Sepertinya tidak ada Juan. Memang kenapa?" Tanya balik Amasya.


"Aku mau antar kamu pulang pake mobil aku." Tawaran Juan.


"Tapi aku bawa mobil sendiri Juan." Jawab Nania.


"Mobil kamu simpan di parkiran sekolah, tetapi kamu pulang bersama aku." Pinta Juan.


"Tapi..." Amasya berpikir.


"Please Amasya..." Juan memohon.


"Baiklah kalau kamu mau seperti itu."


"Yes... Terima kasih Amasya. Aku jemput kamu nanti." Juan full senyum.


"Selamat mengajar Amasya." Tutup Juan.


Amasya dibuat penasaran dengan alasan Juan ingin menjemputnya. Sebab tidak biasanya Juan meminta Amasya memarkir mobilnya di sekolah. Mungkin Juan hanya sekedar ingin berjalan-jalan saja dengannya, pikir Amasya.


Berbeda dengan Amasya yang bingung dengan apa yang ingin Juan berikan padanya. Juan justru langsung berlatih untuk menyatakan cinta pada Amasya. Tanpa menggunakan objek apapun, Juan berbicara sendiri. Hingga nampak seperti orang gila. Tetapi Juan tetap berlatih, demi menyatakan cinta secara sempurna pada Nania.


Tiba waktu di tunggu oleh Juan. Jam pulang sekolah tiba, yang mana Amasya juga menghentikan aktivitas mengajar di sekolah. Dia mempersiapkan diri untuk pulang. Baru akan bangkit dari kursi tempatnya duduk. Tiba-tiba Juan menelpon Amasya. Amasya kembali duduk di kursinya untuk menerima panggilan telepon dari Juan.


"Hallo sayang." Juan keceplosan.


Amasya terdiam dengan sedikit tersenyum malu.


"Maaf... Maksud aku hallo Amasya." Sapa Juan.


"Hallo Juan. Selamat siang." Balas Amasya.


"Siang Amasya. Kamu sekarang sudah pulang kerja?" Basa basi dari Juan.


"Aku mau pulang ini. Baru saja aku selesai mengajar siang ini." Jawab Amasya.


"Tapi kamu masih di sekolahkan?" Tanya Juan sedikit panik.

__ADS_1


"Emmm iya Juan. Malah aku masih duduk di kursi aku. Aku masih di kelas." Jawab Amasya santai.


"Kamu jangan pergi dulu Amasya. Aku akan segera jemput kamu ok. Nanti kalau aku sudah di depan gerbang sekolah kamu, aku bakal hubungi kamu." Pinta Juan meninggalkan kantornya.


"Iya. Tapi jangan lama-lama yah Juan." Balas Amasya.


"Siap. Kalau gitu sudah dulu yah. Aku sudah ada di parkiran mobil. Aku siap menjemput tuan putri." Ucap Juan sedikit hiperbola.


"Siap tuan. Akan aku tunggu." Balas Amasya sedikit tertawa.


Juan mematikan panggilan teleponnya. Dia masuk kedalam mobil untuk segera menjemput Amasya. Dikelas Amasya kembali mengingat ucapan sayang dari Juan padanya. Walaupun hanya keceplosan biasa, tetapi Amasya begitu senang dengan ucapan yang keluar dari mulut Juan tersebut.


Tak harus berlama-lama. Juan akhirnya tiba tepat di depan gerbang sekolah dengan sebuah bucket bunga yang telah dia siapkan untuk Amasya. Dengan segera Juan menelepon Amasya untuk memberitahu jika dia sudah sampai di depan gerbang sekolah.


"Hallo Amasya. Aku sudah tiba di depan gerbang sekolah."


"Iya Juan. Aku segera bergegas ke gerbang sekolah." Jawab Amasya menutup teleponnya.


Amasya terkejut kala melihat Juan menenteng bucket bunga yang terlihat segitu indah di genggaman Juan. Amasya berpikir bunga tersebut akan diberikan oleh Juan padanya. Sedikit malu-malu, Amasya sesekali mengarahkan pandangannya pada bucket bunga yang disemprot parfume juga oleh Juan.


"Siang Amasya. Kamu semakin cantik." Juan memulai pembicaraan.


"Siang Juan. Terima kasih." Amasya malu-malu.


Tak berselang lama, Juan perlahan memberikan bucket bunga tersebut pada Amasya. Tak ada kata romantis yang diucapkan oleh Juan. Dia hanya memberikan bunga itu secara simbolis semata. Tetapi tindakan yang Juan lakukan cukup untuk membuat Amasya terkesan. Mengingat tindakan Juan cukup untuk melukiskan bagaimana Juan begitu romantis.


Usai memberikan bucket bunga kepada Amasya. Juan juga membuka pintu mobilnya untuk Amasya masuk disertai sebuah senyuman yang begitu manis.


Amasya masuk kedalam mobil Juan dengan memeluk bucket bunga indah itu didalam mobil. Tak lama Juan masuk kedalam pintu kemudi mobilnya. Menutup pintu terlebih dahulu, sebelum akhirnya memasangkan sabuk pengaman untuk melindungi Amasya dari benturan.


Amasya semakin dibuat meleleh, kala Juan tanpa ragu mengelap keringat yang membasahi sedikit bagian atas kepala Amasya. Juan dengan tissue yang dipegangnya, secara telaten mengeringkan wajah Amasya dari keringat tersebut. Jantung Amasya hampir jatuh dengan sikap super romantis yang ditunjukkan oleh Juan padanya.


"Oh iya Amasya. Kamu sudah makan siang belum?" Tanya Juan.


"Emmm belum. Kamu sendiri?" Tanya balik Amasya.


"Belum juga. Gimana kalau kita makan siang dulu sebelum pulang ke rumah kamu?" Ajak Juan.


"Boleh kalau kamu gak keberatan." Amasya menyetujuinya.


Juan dengan segera membawa mobilnya menuju sebuah restoran terdekat. Juan membuka obrolan untuk membuat perjalanan yang panas siang ini terasa sejuk.


"Gimana hari ini ngajarnya?" Tanya Juan.


"Lumayan seru. Mereka gak susah diatur. Jadi seru banget ketika ngajar mereka." Jawab Amasya.


"Jadi kamu suka yang gampang diatur gitu?" Tanya Juan kembali.


"Kalau yang gampang diatur lebih enak, kenapa harus yang susah diatur. Itu hanya pilihan saja kok Juan."


"Benar juga. Kalau menurut kamu, cowok penurut itu gimana?" Juan kembali bertanya.

__ADS_1


"Sebenarnya bukan penurut sih. Tapi lebih kearah mengalah. Sebab dalam rumah tangga, sejatinya si pria adalah seorang nahkoda. Semenjak si perempuan ini sebagai asisten si nahkoda. Jadi segala keputusan harus di ambil oleh si nahkoda, sebab dia yang memiliki kendali. Tapi ada baiknya si nahkoda juga mendengar saran dari asistennya. Di poin itu aku pikir, bagus untuk seseorang mengalah jika memang itu demi kebaikan. Sebab tak ada salahnya masukan diambil dalam memutuskan suatu tindakan." Jawab Amasya secara mendetail.


Jawaban Amasya yang cukup mendetail serta berbobot. Telah membuat Juan semakin terkesima. Juan pun semakin Yakin jika memilih Amasya sebagai pasangan darinya adalah sebuah keputusan yang tepat.


__ADS_2