
Berbeda dengan Aris yang tampil cukup keren dengan sebuah sweater berwarna hitam serta sepatu sneaker berwarna senada. Devi yang belum sempat pulang ke rumah, hanya mengenakan pakaian kerjanya. Sebuah blazer berwarna coklat, serta celana bahan berwarna senada di kenakan oleh Devi. Tidak terlalu istimewa di sore ini.
Penampilan sederhana dari Devi tetap terlihat begitu cantik. Di tambah ketika Devi tersenyum. Dia semakin terlihat begitu cantik. Aris yang berada di samping Devi ketika mengemudi, beberapa kali tidak fokus saat melihat kecantikan Devi dari kaca yang ada di hadapannya. Dimana kecantikan Devi terlihat dengan begitu jelasnya, meskipun kaca tersebut berukuran sangat kecil.
"Ris, terima kasih yah kamu sudah mau nganter aku buat jenguk kakak tiri aku." ucap Devi mengelus tangan Aris.
Elusan lembut dari Devi, semakin membuat Aris grogi. Dengan kondisi Aris yang sedang menyetir mobil, dia begitu gugup saat Devi mulai menyentuh tangan kekarnya.
"Sama-sama Bu. Saya juga senang bisa mengantar ibu buat ketemu sama kakak tiri ibu." balas Aris yang terlihat gugup.
"Ris, jangan panggil Ibu dong. Kita tidak sedang di klinik. Jadi panggil nama saja. Devi. Cukup Devi saja, tidak usah panggil Ibu. Itu terlalu kaku Ris." Pinta Devi.
__ADS_1
Aris hanya membalas senyuman dengan permintaan dari Devi tersebut. Tidak ada kata lagi yang Aris ucapkan. Kini Aris mulai memfokuskan diri untuk menyetir, membawa mobil Devi menuju rumah sakit. Dengan begitu, mereka berdua bisa segera sampai di rumah sakit.
Di setengah perjalanan menuju rumah sakit. Devi baru kembali membuka obrolan dengan Aris. Obrolan itu cukup serius, sebab Devi mulai mencari tahu tentang kehidupan pribadi seorang Aris. Aris mencoba menghindari pertanyaan dari Devi yang semakin menjurus ke arah kehidupan pribadi seorang Aris.
Sampai akhirnya Aris mengakui pada Devi, jika dia memang telah memiliki seorang pasangan. Pasalnya di awal interview Aris mengaku sebagai seorang yang jomblo, alias tidak memiliki pacar sama sekali. Tapi setelah sedikit di interogasi oleh Devi. Aris akhirnya mengakui bahwa dirinya telah memiliki pasangan.
Ada sedikit kekecewaan dari seorang Devi. Pasalnya usaha Devi untuk mendapatkan Aris akan terhalang tembok besar dari pacar Aris. Terlebih Aris dan pacarnya sudah lama berpacaran. Namun itu juga semakin memacu adrenalin dari seorang Devi. Rasanya akan sangat menyenangkan bagi Devi jika dia akan bertarung dengan pacar Aris. Bertarung dalam merebut Aris.
Aris mulai terlihat menyukai Devi. Apalagi hari-hari Aris lebih banyak di habiskan dengan Devi. Hari-hari yang akan menjadi ujian bagi Aris untuk mempertahankan cintanya pada pasangannya.
Sebenarnya Devi sudah mengetahui Aris sudah punya pacar. Namun Devi sengaja kembali melakukan check ulang. Mengingat Devi ingin semakin yakin, jika Aris telah memiliki pacar. Hingga akhirnya Aris mengakui dirinya telah memiliki pacar. Namun Aris meminta Devi untuk tidak memecatnya, sebab Aris pernah berbohong tidak memiliki pacar. Namun ternyata Aris sudah memiliki pacar.
__ADS_1
Pikiran Aris dan Devi kembali menuju ke tempat tujuan mereka berdua. Tentu rumah sakit tempat Amasya di rawat akan menjadi destinasi utama Aris dan Devi. Tempat di mana Amasya harus merasakan kehilangan bayi. Calon bayi yang di dambakan oleh Amasya selama ini.
Sampai di rumah sakit, tiba-tiba Devi kembali merasa malas untuk dapat bertemu dengan Amasya. Apalagi Devi sudah cukup muak melihat wajah Amasya. Bagi Devi wajah Amasya adalah sebuah petaka. Sehingga dia enggan untuk melihat wajah Amasya.
Aris yang sebenarnya orang baik. Mengingatkan Devi untuk berhenti berpikiran negatif terhadap Amasya. Sebab bagi Aris, apa yang di pikirkan oleh Devi. Tidak sepenuhnya benar, sebab Devi hanya di kuasai oleh rasa benci saja. Devi harus bisa melawan rasa benci tersebut. Hingga Devi bisa menerima Amasya apa adanya.
Aris membuka pintu kamar perawatan Amasya. Dia menyapa Juan yang sedang menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut Amasya. Sementara Devi yang berada di belakang Aris. Terlihat tidak menyukai keberadaan dirinya sendiri di kamar perawatan tersebut. Devi berdiri tepat di depan pintu kamar perawatan dari Amasya. Wajah Devi tidak menunjukkan keramahan sama sekali. Dia terlihat masih cukup kesal pada Amasya. Walaupun hingga kini Amasya tidak tahu apa yang membuat Devi kesal pada seorang Amasya.
"Dev kok kamu gak masuk?" tanya Amasya.
Aris dengan inisiatif sendiri, mengajak Devi untuk masuk kedalam kamar perawatan dari Amasya. Devi sebenarnya menolak masuk. Namun berkat rayuan dari Aris, akhirnya Devi mau masuk kedalam kamar perawatan dari Amasya.
__ADS_1
Di dalam kamar perawatan Amasya, wajah jutek dari Devi tetap terlihat. Dia tidak mengubah wajah juteknya. Sekalipun Amasya menyapa Devi dengan wajah ramahnya. Sementara Juan dengan wajah yang kurang senang. Menyambut kedatangan Devi tidak seantusias Amasya. Juan tahu, Devi datang ke kamar perawatan Amasya pun dengan maksud tersendiri. Tidak ada keinginan yang tulus dari dalam diri Devi. Selain untuk maksud terselubung. Hingga Juan tidak menyambut baik kedatangan dari Devi. Apalagi dengan raut wajah jutek yang di tunjukkan oleh Devi. Semakin menambah rasa curiga dari Juan akan kedatangan dari Devi.