
Sambut meriah langsung diberikan kedua orangtua Juan. Mereka menyambut kedatangan Juan dan Amasya dengan begitu meriahnya. Berbagai jenis makanan telah tersedia di meja makan. Mereka benar-benar siap untuk menyambut kedatangan menantu mereka.
Juan terus memberikan kabar sepanjang perjalanan pada ibunya. Juan ingin membuat sedikit kejutan yang bisa dirasakan Amasya kala berada di rumahnya. Sehingga Juan harus mempersiapkan semuanya secara detail dan rapi.
Mobil yang ditumpangi Juan sudah memasuki jalanan kompleks. Dimana hanya tinggal ratusan meter saja, perjalanan menuju rumah Juan akan segera usai. Juan kembali mengirim pesan pada ibunya untuk segera menyambut kedatangan Amasya dengan begitu meriahnya.
Ayah Juan mulai siap dengan sebuah terompet yang akan ditiupkan begitu Amasya dan Juan masuk. Sementara ibu Juan telah siap dengan sebuah selendang yang terbuat dari kertas berwarna emas dengan tulisan menantu idaman. Keduanya siap menyambut Amasya ke rumah mereka.
Begitu terdengar gerbang rumah mereka di buka oleh pak Nio, satpamnya. Kedua orangtua Juan yang bersembunyi di samping pintu rumah mereka. Siap untuk memberikan sedikit kejutan untuk kedatangan Amasya.
Tiga..... Dua... Suara high heels dari Amasya sudah mulai terdengar. Satu..... Juan membuka pintu rumahnya. Ayahnya dengan sekuat tenaga meniup terompet berbahan kardus tebal itu dengan begitu kerasnya. Sementara Ibunya langsung menghampiri Amasya untuk memasang selendang berbahan kertas ke tubuh Amasya. Sebelum memeluk erat Amasya.
Amasya begitu bahagia dengan sambutan yang diberikan oleh kedua orangtua Juan. Dia merasa dihargai oleh kedua orangtua Juan yang telah resmi menjadi mertuanya. Sedikit tangis haru tak dapat Amasya sembunyikan dengan kejutan kecil yang diberikan oleh kedua orangtua Amasya. Dimana Amasya begitu bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh mertuanya tersebut.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, kedua orangtua Amasya pun segera membawa Amasya menuju meja makan. Amasya siap mencicipi hidangan lezat yang telah dipersiapkan oleh ibu mertuanya. Hebatnya semua hidangan yang ada merupakan hasil dari masakan ibu Juan. Sehingga Amasya bisa belajar banyak dari kedua orangtua Amasya.
__ADS_1
Amasya begitu tergoda dengan warna yang ada pada setiap hidangan yang tersedia. Merahnya balado, cukup menggoda mata. Putih kental yang membungkus potongan dari daging ayam dan telur dalam satu mangkuk besar opor. Cukup membuat Amasya menelan ludahnya sendiri. Warna hijau yang mempesona dari sayuran yang dihidangkan di meja makan. Juga cukup menggiurkan untuk segera di cicipi. Semua masakan itu dibuat untuk menyambut kedatangan Amasya.
Duduk berhadapan dengan Juan serta berada disamping kedua mertuanya. Amasya tak henti mendapatkan perhatian dari ketiganya. Bak ratu yang mendapat banyak keistimewaan. Amasya begitu dimanja oleh Juan dan kedua orangtuanya.
Amasya diambilkan nasi untuknya makan. Pun semua lauk dimasukkan kedalam piring Amasya oleh ibu mertuanya. Amasya diminta mencicipi masakan lezat yang dibuat oleh ibu mertuanya tersebut.
Segelas air putih juga dituangkan oleh sang suami. Sebagai seorang pangeran yang sigap, Juan mencoba melayani istrinya dengan begitu istimewa. Meskipun seharusnya Amasya yang melakukan hal tersebut. Tetapi Juan Sebagai tuan rumah memberikan pelayanan yang cukup prima untuk Amasya.
Semua orang telah menyendok makanan mereka keatas piring masing-masing. Amasya pun diminta untuk membaca doa sebelum makan. Dengan tangan yang diangkat dibawah dagu. Amasya mulai membaca doa makan dengan begitu indahnya.
Juan sebagai seorang suami Amasya juga tak ketinggalan memuji Amasya. Dia begitu bahagia mendengar suara merdu yang keluar dari mulut Amasya. Semuanya begitu bahagia dengan suara merdu dari seorang Amasya kala membaca doa.
Pujian yang dilontarkan pada Amasya. Sedikit membuat Amasya malu-malu. Dia tak menyangka, pujian akan datang bertubi-tubi padanya dari kedua mertuanya serta suami tercinta.
Tak lama, semuanya pun mulai menyuap makanan yang telah mengisi piring masing-masing. Diawali dari Juan yang nampak sudah mulai tak sabar menyantap makanan ibunya yang terkenal sangat lezat. Kemudian secara bersamaan Amasya, ibu dan ayah mertuanya mulai makan.
__ADS_1
Tak ada percakapan diawal-awal makan. Sampai di pertengahan makan, obrolan mulai tercipta yang semakin mencairkan suasana.
"Gimana honeymoon selama 5 hari kalian?" Tanya ibu Juan penasaran.
"Menyenangkan. Bahkan kita inginnya malah lebih dari 5 hari saja. Kalau bisa sih sebulan dengan berbagai destinasi wisata." Jawab Juan berandai-andai.
"Itu maunya kamu. 5 hari aja cukup ayah rasa. Dulu ayah sama mama kamu cuman 3 hari doang. Seminggu kemudian langsung dikasih hadiah, kamu." Lanjut ayah Juan.
Semuanya tertawa dengan ucapan dari ayah Juan.
"Oh iya sayang, kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan belum. Misalnya mual, pusing atau apa gitu. Gejala orang hamil?" Tanya ibu Juan kembali.
"Untuk saat ini belum sih ma. Tapi semoga secepatnya dikasih momongan. Ayah Amasya juga ingin segera mendapatkan cucu dari Amasya." Jawab Amasya penuh keyakinan.
"Aamiin. Mama harap juga begitu. Mama ingin secepatnya mendapatkan cucu dari anak mama paling tampan ini." Dia mama Juan.
__ADS_1
Semuanya langsung mengucap amin untuk doa yang dipanjatkan oleh mama Juan. Sebuah harapan akan kehamilan Amasya yang banyak dinantikan.