Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Amasya Datang Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Darmi. Amasya terlebih dahulu mengubungi Juan. Dia ingin meminta izin pada Juan untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk Darmi.


Pesan singkat yang dikirim oleh Amasya pada Juan. Seketika dibalas Juan dengan begitu cepatnya. Juan mengizinkan istrinya tersebut untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi Juan mengingatkan Amasya untuk lebih dulu makan, sebelum pergi ke rumah sakit.


Perhatian yang diberikan Juan pada Amasya, langsung mendapat respon yang cukup positif dari Amasya. Dia sudah makan siang, hingga tak harus kembali makan siang. Justru Amasya yang ingin mengingatkan Juan makan. Sebab Juan terkadang lupa untuk makan siang dengan aktivitas padat yang dijalaninya.


Juan juga ternyata sudah makan siang. Juan membuktikan dengan sebuah pesanan secara daring, menu makan siang yang ia pesan. Sehingga Amasya tidak harus khawatir akan Juan. Sebab Juan sudah mengisi amunisi di siang ini.


Cukup 5 menit untuk saling berbalas pesan akan makan siang. Kini Amasya sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Tetap mengendarai mobil secara pribadi. Amasya sebagai seorang perempuan yang tangguh, berusaha menjadi seorang yang mandiri. Tanpa bergantung pada siapa saja yang mungkin dia akan repotkan.


Sekeranjang buah tak boleh Amasya lewatkan. Tentu buah cukup baik untuk orang sakit seperti Darmi. Buah itu akan menjadi vitamin yang, dalam pemulihan dari Darmi itu sendiri. Sehingga sudah tepat bagi Amasya untuk membawakan Darmi satu keranjang buah sebagai buah tangan.


Setibanya di rumah sakit, Amasya langsung menelpon Alvin. Dia ingin menanyakan ruangan tempat Darmi di rawat. Tadi Alvin hanya memberikan nama rumah sakit yang merawat Darmi. Sehingga Amasya tidak mengetahui ruangan tempat Darmi di rawat.


Beruntung bagi Amasya, Alvin yang hendak dia telepon. Ternyata baru saja dari musholla. Alvin baru selesai mengerjakan shalat ashar. Sehingga harus meninggalkan rumah sakit dalam waktu sejenak.


Amasya dan Alvin bertemu tepat di halaman rumah sakit. Amasya langsung memeluk tubuh Alvin yang semakin terlihat kurus. Walaupun hanya perpisahan Amasya dan Alvin tidak berlangsung lama. Tapi rasa rindu Amasya pada Alvin sudah cukup menggelora.


"Bagaimana keadaan bi Darmi?" Tanya Amasya sambil berjalan.


"Tadi dia baru menyelesaikan operasi pertama. Alhamdulillah operasi yang dijalani Darmi berjalan lancar. Mungkin beberapa saat lagi dia akan siuman." Jawab Alvin.


Amasya dan Alvin berjalan secara berdampingan menuju ruangan Darmi. Melihat Amasya yang menenteng sebuah keranjang buah, membuat Alvin merasa kasihan pada putrinya tersebut. Dia menawarkan diri untuk membawa keranjang buah itu. Tapi Amasya menolaknya, dia mengatakan masih mampu untuk membawa keranjang buah itu. Terlebih keranjang buah itu tidak seberat yang Alvin pikir. Ini cukup ringan untuk Amasya.


Setibanya di depan ruangan Darmi, Amasya yang penasaran dengan kondisi dari Darmi. Meminta izin pada Alvin untuk melihat kondisinya. Tentu Amasya juga ingin meletakkan keranjang buah yang dia bawa. Mengingat semakin lama, keranjang buah itu terasa berat juga dipangkuan Amasya.


Alvin mengizinkan Amasya untuk masuk kedalam ruang perawatan dari Darmi. Mungkin Darmi akan siuman saat Amasya masuk. Doa yang coba Alvin panjatkan akan kesembuhan dari Darmi.

__ADS_1


Mengucapkan salam terlebih dahulu, Amasya dengan begitu hati-hati membuka pintu ruang perawatan dari Darmi. Begitu telah berada di dalam ruang perawatan itu, Amasya kembali menutup pintu rapat-rapat. Lalu dia menghampiri Darmi.


Apa yang Alvin doakan, menjadi sebuah kenyataan. Sesaat setelah Amasya menaruh keranjang buah miliknya di samping ranjang Darmi. Tangan Darmi mulai bergerak. Begitu juga dengan kedua matanya yang perlahan terbuka lebar.


Amasya yang bahagia, langsung menyambut siuman dari seorang Darmi dengan senyuman. Kedatangan dari seorang Amasya, seketika membuat Darmi tersadar.


"Saya ada dimana mbak Amasya?" Tanya Darmi yang terlihat masih begitu kesakitan.


"Bi Darmi ada di rumah sakit. Tadi bibi jatuh dari tangga." Jawab Amasya mengelus lembut tangan Darmi.


Darmi kembali mengingat kejadian yang membuatnya jatuh. Dari awal dia membereskan kamar Devi. Sampai akhirnya dia akan mengangkat panggilan telepon rumah. Sebelum akhirnya Darmi terjatuh dari atas tangga. Semuanya terasa begitu cepat.


"Saya ingat kejadian itu. Tadi tangganya licin mbak. Makanya saya jatuh dari tangga." Jelas bi Darmi yang masih terus merintih kesakitan.


"Iya bi. Kata ayah juga, tadi ada minyak di tangga. Entah siapa yang menjatuhkan minyak disana." Jelas Amasya.


"Mbak Amasya yang membawa saya ke rumah sakit?" Tanya bi Darmi kembali.


"Boleh mbak kalau tidak keberatan." Jawab Darmi tetap dengan wajah lesuhnya.


Amasya kembali keluar ruangan Darmi. Dia hendak memanggil Alvin untuk melihat kondisi Darmi. Tentu Alvin harus tahu kondisi dari Darmi. Mengingat Darmi adalah asisten rumah tangga yang bekerja pada Alvin.


"Ayah..." Panggil Amasya dengan sedikit membuka pintu ruangan Darmi.


Alvin yang sedang bermain handphone. Seketika langsung mematikan handphonenya. Sebelum akhirnya menemui Amasya.


"Ada apa sayang?" Tanya Alvin sambil berjalan menghampiri Amasya.

__ADS_1


"Bi Darmi sudah siuman. Ayah diminta masuk kedalam." Jawab Amasya.


"Alhamdulillah....." Syukur dari seorang Alvin.


Alvin masuk bersamaan dengan Amasya kedalam ruang perawatan dari Darmi. Dia begitu bahagia melihat Darmi telah siuman.


"Syukur alhamdulilah kamu sudah siuman Darmi. Tadi saya begitu khawatir melihat kondisi kamu yang dipenuhi dengan darah." Ucap Alvin.


"Iya pak Alvin. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih pada pak Alvin. Saya tidak tahu harus mengatakan apalagi pada pak Alvin. Jika pak Alvin tidak membawa saya ke rumah sakit. Mungkin nyawa saya tidak akan tertolong." Jelas Darmi dengan begitu panjang.


"Iya Darmi, sama-sama. Itu sudah jadi kewajiban buat saya untuk menolong kamu. Mengingat kamu itu asisten rumah tangga di rumah saya. Masa saya biarkan kamu terkena musibah. Jadi itu hal yang wajar." Alvin merendah.


"Sekali lagi terima kasih pak Alvin." Darmi kembali mengucapkan terima kasih pada Alvin.


"Ngomong-ngomong Darmi, tadi kamu bawa jirigen minyak tidak keatas. Atau sebaliknya?" Tanya Alvin pada Darmi.


"Jirigen minyak pak?" Tanya balik Darmi dengan raut wajah bingung.


"Iya jirigen minyak. Soalnya pas tadi saya mau jalan diatas tangga. Anak tangga itu penuh dengan minyak. Siapa tahu kamu bawa jirigen minyak. Lalu jirigen itu bocor, akhirnya minyak tumpah diatas anak tangga." Terang Alvin.


"Tidak pak Alvin. Saya tidak membawa jirigen minyak." Bantah Darmi.


"Terus siapa yah yang buang minyak disana. Apa mungkin Ratna." Duga Alvin dengan berhati-hati.


"Ayah jangan suudzon dulu. Kita tidak punya bukti apa-apa. Jadi jangan pernah berasumsi sebelum ada bukti valid." Pinta Amasya dengan bijak.


"Terus kalau bukan Ratna siapa lagi. Saat ayah dan Darmi naik, tidak ada ceceran minyak disana. Jadi ada sedikit kejanggalan disana." Terang Alvin.

__ADS_1


"Kita serahkan saja semuanya pada Allah. Nanti juga pasti terbongkar semuanya." Ucap Amasya kembali.


Tak ingin mengganggu istirahat dari Darmi. Amasya dan Alvin pun meminta izin pada Darmi untuk keluar dari ruang perawatannya. Terlebih Amasya yang ingin memesan makanan di kantin.


__ADS_2