Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Juan Bertemu Bi Eem


__ADS_3

30 menit terjebak macet di jalanan. Terpaksa membuat Juan harus menahan rindunya kala bertemu dengan bi Eem. 30 menit waktu yang membuat Juan emosi sendiri dengan kondisi jalanan yang tak kunjung lancar.


Telepon ketiga dari Amasya, sedikit mengobati kekesalan Juan akan jalanan yang macet. Amasya kembali menanyakan perjalanan sejauh apa yang telah ditempuh oleh Juan. Sebab bi Eem sudah begitu rindu pada Juan. Juan selalu mengatakan hampir sampai, walaupun ada 20 kilometer lagi yang harus di tempuh untuk sampai ke ruang perawatan Bi Eem.


Tak hanya bi Eem yang sudah rindu pada Juan. Juan sendiri juga begitu rindu pada bi Eem. Dimana hampir beberapa bulan ini Juan tak mengunjungi rumah bi Eem yang biasanya dia kunjungi beberapa kali dalam sebulan. Sehingga tiada terkira akan seperti apa kerinduan yang akan ada kala Juan bertemu dengan bi Eem.


Juan berusaha mencari cara agar segera keluar dari kemacetan yang harus dilalui. Mulai dari mencari jalan tikus yang bisa dilalui. Hingga menyewa pak Ogah untuk menunjukkan jalan yang cepat menuju rumah sakit.


Keputusan untuk menyewa pak Ogah nampaknya sukses. Joki itu sukses mengantarkan Juan ke rumah sakit dengan cepat dan selamat. Hingga sebagai imbalan, Juan langsung mengganjar joki itu dengan uang satu juta rupiah.


Sudah tiba, Juan yang membawa sebuah keranjang berisi buah langsung bergegas menuju ruang perawatan bi Eem. Dengan wajah sedikit lelah, Juan mencoba tetap semangat untuk bertemu dengan bi Eem.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Juan langsung membuka pintu ruang perawatan bi Eem. Air matanya hampir jatuh kala Amasya dengan lembut menyuapi bi Eem bubur. Tak hanya itu, Amasya juga mengajak bi Eem bercanda. Hingga tawa begitu terlukis di wajah bi Eem.


Satu demi satu langkah kaki Juan mendekat menuju ranjang perawatan bi Eem. Sebuah salam seketika Juan ucapkan, kala tiba tepat di samping Amasya.


"Juan..." Ucap Amasya.


"Malam sayang." Sapa Juan pada Amasya.


Amasya sedikit malu-malu.


"Juan....." Bi Eem menyebut nama Juan dengan lembut.


Dengan tetesan air mata yang masih membungkus kedua bola matanya. Juan langsung memeluk bi Eem untuk melepas rindu padanya.


"Bibi kangen sekali sama Juan. Bibi pengen banget ketemu Juan setiap hari. Bisa ngurus Juan seperti dulu lagi." Ucap bi Eem.


"Iya bi Juan juga kangen banget sama bi Eem." Ucap Juan dengan suara sendu.


"Lama gak ketemu Juan, sekarang Juan kelihatan semakin dewasa." Ucap bi Eem.


"Iya bi. Juan sudah lama tidak bertemu dengan bibi." Jawab Juan.


"Juan sudah makan?" Tanya bi Eem kembali.


"Belum sih bi. Juan dari kantor langsung berangkat kesini. Jadi belum sempat makan malam." Jawab Juan.

__ADS_1


"Kalau begitu Juan sama Amasya makan malam dulu. Dari tadi Amasya suapin bibi terus, tapi dia sendiri belum makan malam. Kalian berdua makan malam saja berdua." Titah bi Eem.


"Jadi sayang kamu belum makan malam?" Tanya Juan pada Amasya.


"Belum Juan. Aku belum sempat makan malam." Jawab Amasya.


"Kalau gitu bi, Juan ngajak pacar tercinta Juan dulu untuk makan malam. Bibi mau nitip sesuatu?" Tawar Juan.


"Gak usah Juan. Bibi gak mau makan apapun. Bibi hanya mau istirahat saja." Jawab bi Eem.


"Kalau gitu Juan mau cari makan dulu di restoran sekitar rumah sakit."


"Iya Juan hati-hati." Ucap bi Eem.


"Assalamualaikum bi." Ucap Amasya.


"Assalamualaikum." Ucap Juan.


"Walaikumsallam." Jawab bi Eem.


Seperti biasa, seorang gritter yang bertugas menyambut tamu yang baru datang membukakan pintu restoran.


"Selamat malam kakak, berapa untuk berapa orang?" Tanya si gritter dengan ramahnya.


"Cuman 2 orang. Hanya untuk saya dan pacar saya ini." Jawab Juan dengan penuh senyuman.


"Baik, mari saya antar menuju meja yang ingin di pesan." Ajak si gritter dengan lembutnya.


Dengan mengikuti setiap langkah si gritter, Juan yang terus menggandeng tangan Nania. Mengikuti si gritter menuju meja yang akan di pesan. Sebuah meja dengan dua kursi di sudut restoran. Dirasa cocok untuk dijadikan tempat Juan dan Amasya mengganjal perut.


Selepas gritter itu pergi. Muncullah pelayan lain yang mendatangi meja pesanan Juan. Dengan senyuman tak kalah ramah dari gritter tadi. Si pelayan siap mencatat setiap pesanan dari Juan dan Amasya.


"Selamat malam kakak. Bisa saya catat pesanan kakak?" Tanya si pelayan sedikit kaku.


Juan membuka buku menu. Sebentar mencari menu yang nampak terlihat lezat. Tak lama kemudian, dia kembali menutup buku menu tersebut.


"Kalau boleh saya tahu, menu best seller di restoran ini apa saja?" Tanya Juan menatap dengan pandangan yang cukup lelah.

__ADS_1


"Kita ada lobster asam manis, beef serta beberapa menu lainnya yang bahannya berasal dari daging-dagingan." Ucap si pelayan nampak mengingatkan.


"Kamu baru jadi pelayan?" Tanya Juan.


"Emmm Iya kak." Jawab si pelayan menunduk.


"Pantas saja, kamu terlihat begitu kaku." Ucap Juan


Si pelayan tertunduk dengan gesture yang nampak kurang percaya diri.


"Kamu sayang mau pesan apa?" Tanya Juan pada Amasya.


"Emmm... Wagyu kayaknya bisa kita coba sayang." Jawab Amasya dengan meyakinkan.


"Boleh... Sepertinya itu enak." Balas Juan.


Si pelayan yang kurang percaya diri, tetap dengan gesture menunduk. Juan kembali menatap pelayan tersebut. Sebelum akhirnya mengatakan pesanan dia.


"Saya ingin pesan dua porsi Wagyu medium rare. Serta 2 teh manis hangat. Sama sebotol air mineral." Ucap Juan.


Dengan segera si pelayan menuliskan pesanan dari Juan. Setelah dicatat di buku kecil yang dibawanya. Si pelayan kembali mengulang pesanan dari Juan untuk memastikan kesesuaian apa yang di pesan oleh Juan. Tidak ada yang misk. Semua sesuai pesanan Juan. Si pelayan dengan segera meninggalkan meja Juan untuk melakukan pemesanan pada mesin orderan mereka.


Juan kembali memegang tangan Amasya yang tergeletak diatas meja makan. Kedua mata Juan menatap tajam wajah Amasya. Perlahan senyuman super manis ditunjukkan oleh Juan kala kedua matanya bertatapan mesra dengan Amasya. Tatapan yang membuat Amasya seketika menjadi salah tingkah.


"Sayang... Terima kasih kamu sudah mau menjaga bi Eem tadi. Kalau gak ada kamu. Aku gak tahu harus minta tolong pada siapa lagi." Ucap Juan dengan begitu lembutnya.


"Aku ikhlas kok Juan. Jadi kamu tidak harus mengucapkan terima kasih seperti itu. Aku senang bisa bertemu bi Eem. Dia begitu baik dan penuh nasehat. Aku senang bertemu dengan dia." Jawab Amasya dengan senyuman juga.


"Nasehat apa yang dia kasih buat kamu?" Tanya Juan penasaran.


"Tentang pernikahan. Dimana dia banyak menasehati aku jika suatu hari menikah..." Amasya sedikit menggantung.


"Dengan aku?" Potong Juan.


"Insyallah." Jawab Amasya sedikit tertawa.


"Alhamdulillah." Syukur Juan.

__ADS_1


__ADS_2