
Pulang dari kantor polisi, Devi dengan wajah galau, kesal dan sebagainya. Terlihat masih cukup emosi dengan keputusan Polisi yang memberikan dirinya surat tilang. Selain harus membayar denda, Devi juga harus mengurus beberapa surat yang memakan waktunya.
Devi bertemu dengan seorang ibu hamil yang terlihat bahagia. Kebahagiaan ibu hamil itu langsung mengingatkan Devi pada sosok Amasya. Sehingga Devi berharap Amasya tidak akan merasakannya kebahagiaan yang sama seperti ibu hamil tersebut.
Devi langsung menelepon Parni. Tapi Parni yang sedang asyik berpacaran dengan pacar barunya. Memilih untuk mematikan ponsel miliknya. Sehingga Parni bisa bermesraan berdua dengan pacar barunya tersebut.
Devi begitu kesal dengan Parni yang tidak dapat di hubungi oleh dirinya. Devi sempat ingin membanting handphone miliknya sendiri. Saking kesalnya pada Parni yang tidak dapat di hubungi oleh Devi. Devi ingin Parni segera melakukan eksekusi untuk Amasya. Sebab dengan begitu Amasya tidak akan pernah hamil lagi. Sebab ada obat KB yang membuat Amasya tidak akan hamil. Tapi Parni sendiri tidak dapat di hubungi oleh Devi. Itu yang membuat Devi begitu emosi pada seorang Parni.
Devi yang sudah menyerah dengan Parni yang tak kunjung dapat di hubungi oleh diri. Berniat mendatangi Parni di rumah Amasya. Dengan beralasan untuk menjenguk Alvin, Devi siap memerintahkan Parni untuk melakukan eksekusi pada seorang Amasya.
__ADS_1
Devi mulai memacu mobilnya menuju rumah Amasya. Dia berharap Amasya tidak ada di rumah, sehingga dia bisa dengan leluasa bertemu dengan Parni. Devi sangat muak jika harus bertemu dengan Amasya. Apalagi harus mengobrol langsung dengan Amasya. Hal yang begitu Devi benci dalam hidupnya.
Tiba di depan rumah Amasya, Devi tanpa permisi sedikit pun. Langsung masuk kedalam rumah Amasya, sampai akhirnya dia ditegor oleh Darmi.
"Mbak Devi mencari siapa?" tanya Darmi.
"Parni sedang keluar sama pacarnya. Buat apa kamu cari dia?" jawab Amasya yang datang tiba-tiba.
"Itu bukan urusan kamu!" ujar Devi mengumpat pada Amasya.
__ADS_1
"Jelas itu adalah urusan saya. Parni adalah asisten rumah tangga saya. Jadi saya berhak tahu kamu mau apa mencari dia." ucap Amasya dengan begitu tegas.
Devi yang begitu muak melihat wajah Amasya. Akhirnya memilih pergi, tapi sebelum pergi Devi menyumpahi Amasya untuk tidak bisa hamil lagi. Bahkan Amasya akan lebih parah dari apa yang Devi rasakan. Amasya tidak akan pernah hami.
Amasya tidak peduli dengan ucapan dari Devi tersebut. Devi bukan Tuhan yang mengatur hidupnya. Sehingga sumpah seperti apapun yang diucapkan oleh Devi pada seorang Amasya. Tidak akan berpengaruh besar pada seorang Amasya. Amasya akan tetap yakin dirinya akan hamil kembali di kemudian hari.
Sumpah Devi yang tidak beralasan, tentu tidak akan mendapatkan jawaban yang pasti dari Tuhan. Sebab Devi melakukan hal terpenting atas dasar kebencian pada seorang Amasya. Sehingga Devi harus banyak belajar untuk tidak mengucapkan sumpah secara asal. Sebab itu bisa berbalik pada Devi sendiri.
Devi tidak peduli dengan ucapan dari Amasya. Dia tetap yakin sumpah yang dia ucapkan akan berbalik pada seorang Amasya. Sehingga Amasya tidak akan bisa hamil seperti Devi. Amasya tidak akan mengalami kehamilan seperti perempuan pada umumnya. Sama halnya dengan Devi.
__ADS_1