
Hancur seketika dunia Devi kala sahabatnya, dokter Irna memberitahu bahwa Devi terkena PCOS. PCOS (Polycystic ovary syndrome) merupakan kondisi terganggunya fungsi ovarium. Tanda-tanda awal PCOS adalah masa ovulasi atau subur yang tidak beraturan dan munculnya banyak kista (kantong berisi cairan) pada ovarium.
Dengan diagnosa yang ada. Sulit rasanya untuk Devi dapat hamil. Mengingat penyakit ganas yang telah menimpanya. Tangisnya tak bisa terbendung lagi. Dengan diagnosa yang ada.
Hancur setengah hidupnya, pasalnya impiannya untuk hamil dan punya anak sudah tak bisa lagi. Mental Devi semakin terganggu, dia pun merasa hidupnya sudah tak ada gunanya lagi. Pikirannya untuk mengakhiri hidup semakin besar. Sebab tak ada masa depan cerah dalam hidupnya sebagai seorang perempuan.
Dengan membawa tangis, Devi pulang ke rumahnya. Air matanya tak henti menetes membasahi wajahnya. Pikirannya tetap kacau dengan kenyataan yang harus dia dapatkan.
Devi mengacuhkan sapaan dari ayah tirinya kala bertemu di halaman rumahnya. Mereka seolah tak peduli dengan sapaan dari ayahnya tersebut. Sehingga ayah tirinya mengira Devi marah padanya. Tetapi apa yang membuat Devi marah padanya.
Begitu juga ketika bertemu dengan ibunya sendiri. Devi juga mengacuhkan ibu kandungnya tersebut. Dia memilih masuk kedalam rumahnya. Mengunci erat dari dalam kamarnya. Untuk menangis sekuatnya diatas kasur.
Tangis keras yang keluar dari mulut Devi. Langsung membuat Ratna panik. Dia terus mengetuk pintu kamar Devi untuk memintanya membuka pintu kamarnya. Tapi Devi tak kunjung membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Paniknya Ratna dengan kondisi Devi didalam kamarnya. Tutut menyeret Alvin dalam kepanikan tersebut. Alvin mencoba membuat Ratna sedikit tenang. Tetapi tangisan Devi yang semakin kuat, membuat Ratna tak bisa tenang. Dia terus dilanda kepanikan.
Bergantian dengan Ratna, Alvin kini yang mengetuk keras pintu kamar Devi. Tapi usaha Alvin sia-sia, pasalnya Devi tetap tak membuka pintu kamarnya. Devi tetap mengurung diri didalam kamarnya.
Pilihan terakhir adalah mendobrak pintu kamar Devi. Ratna segera memanggil Heri yang merupakan sopir pribadi Alvin untuk mendobrak pintu kamar Devi yang terkunci dari dalam.
Sekali, masih belum berhasil. Dua, sudah mulai terbuka sedikit. Ketiga, baru pintu itu berhasil di buka. Ratna langsung menghampiri Devi yang mencoba menyakiti dirinya dengan sebuah gunting.
Ratna merebut gunting tersebut. Kemudian memeluk erat Devi untuk menenangkan Devi. Dipelukan Ratna, Devi sedikit bisa lebih tenang. Amarahnya yang sempat menggebu-gebu perlahan menghilang. Berubah menjadi sedikit tenang.
Alvin pun meninggalkan kamar Devi untuk membiarkan Ratna mengobrol hati ke hati dengan Devi. Sebab Devi terlihat ingin mengobrol serius dengan Ratna. Sehingga keduanya harus mengobrol berdua.
"Kamu kenapa sayang bisa jadi seperti ini?" Tanya Ratna terus mengelus rambut Devi.
__ADS_1
Devi tak menjawab, dia hanya terisak-isak saja dengan tatapan kosong.
"Terus bagaimana hasil pemeriksaan yang dilakukan tadi?" Tanya Ratna kembali.
Devi akhirnya merespon ucapan dari Ratna. Dia mengarahkan pandangannya menuju wajah Ratna.
"Mama tahu hasil pemeriksaan dari seperti apa?" Tanya Devi tetap terisak-isak.
"Bagaimana hasilnya sayang!" Ratna antusias.
"Aku terkena PCOS (Polycystic ovary syndrome) itu artinya aku sudah tidak ada harapan buat hamil ma." Terang Devi kembali menangis.
Ratna yang awalnya panik. Berubah menjadi sedih dengan kenyataan pahit yang diterima oleh anaknya tersebut. Dia menangis seperti halnya Devi. Ratna memeluk erat Devi sambil juga menangis seperti Devi.
__ADS_1
"Kamu harus sabar sayang. Ini bukan akhir dari hidup kamu. Kamu harus bisa kuat sayang dengan semua cobaan yang kamu hadapi hari ini." Tegas Ratna sambil menangis.
Devi hanya bisa menangis tanpa bisa membalas ucapan dari Ratna.