
Sebuah film bagus sedang tayang saat ini di bioskop. Film itu mendapat banyak perhatian dari publik. Hingga jutaan orang antre untuk menonton film yang bercerita tentang setan tersebut.
Semua orang ramai membicarakan film tersebut. Termasuk semua karyawan di perusahaan Juan. Sambil mengerjakan tugas yang ada, mereka terus berbicara akan film yang mendapat rating 9/10 tersebut.
Massive dan semakin nyaring terdengar. Obrolan akan film itu akhirnya sampai ke telinga Juan. Tanpa sengaja dia mendengar judul film yang dibicarakan oleh banyak orang di perusahaannya tersebut. Hingga rasa penasaran mulai menghinggapi Juan.
Juan memanggil Ratih ke ruangannya. Juan meminta Ratih duduk di kursi dihadapannya. Juan langsung memberondong Ratih dengan pertanyaan seputar film yang tengah naik daun tersebut.
"Kamu tahu film yang lagi viral itu Ratih?" Tanya Juan.
"Film apa pak?" Tanya balik Ratih.
"Masa kamu gak tahu. Film yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu. Film hantu semak-semak itu." Ucap Juan.
"Oh iya saya tahu pak. Beranak di semak-semak maksud bapak?" Tebak Ratih.
"Nah itu... Coba kamu ceritakan sedikit tentang film tersebut." Pinta Juan.
"Pokoknya seru banget pak filmnya. Bapak harus nonton film tersebut." Pinta Ratih.
"Iya saya mau nonton, tapi saya pengen tahu dulu ceritanya." Pinta Juan.
"Tapikan pak gak boleh spoiler. Nanti saya kena undang-undang pak." Jawab Ratih.
"Lucu banget kamu. Masa cuman spoiler kamu bisa kena Undang-undang. Kecuali kalau kamu membajak film tersebut. Baru kamu kena Undang-undang. Cuman spoiler sedikit gak bakal kena undang-undang juga Ratih." Tegas Juan.
"Oh jadi gak bakal kena pasal dan sebagainya?" Tanya Ratih.
"Enggak. Saya jamin. Ayo kamu ceritakan sama saya tentang film tersebut." Pinta Juan antusias.
"Baik kalau gitu saya spoiler." Balas Ratih.
Bukan spoiler, Ratih justru malah menceritakan keseluruhan isi dari film tersebut. Hingga dia bercerita hampir 20 menit, dan membuat Juan menjadi mengantuk.
"Sudah...?" Tanya Juan menguap.
__ADS_1
"Iya pak. Gimana menurut bapak film tersebut?" Tanya Ratih dengan antusias.
"Biasa saja. Mending saya cari film lain yang lebih menarik, daripada menonton kuntilanak beranak di semak-semak." Jawab Ratih.
"Tapi seru banget pak. Apalagi pas beranak itu kuntilanak benar-benar mendalami karakternya." Ucap Ratih tetap antusias.
"Mana ada nonton kuntilanak beranak itu seru. Melihat kuntilanak adu kekuatan baru itu seru. Masa nonton kuntilanak beranak itu seru." Balas Juan.
"Tapi emang seru kok pak..." Ratih mencoba merayu.
"Sudah, saya mending nonton film romance bareng Amasya besok malam. Sekaligus saya malam mingguan bareng dia." Ucap Juan.
"Tapi bapak yakin gak mau nonton film itu. Pemainnya seksi-seksi tahu pak." Tawar Ratih.
"Saya mau nonton film horor, bukan nonton film porno. Jadi saya gak peduli dengan pemainnya. Mau seksi atau tidak." Tolakan tegas dari Juan.
Ratih cemberut tawarannya di tolak. Tanpa memperdulikan Ratih yang telah capek memberikan spoiler yang begitu detail akan film yang tengah viral itu. Juan yang ingin melanjutkan pekerjaannya mengusir Ratih dari ruangannya. Dengan wajah kesal, Ratih meninggalkan ruangan Juan.
Bukannya melanjutkan pekerjaan, Juan malah langsung menelpon Amasya. Satu persatu nomor Amasya yang mulai Juan ingat di tekan oleh Juan. Lalu panggilan telepon langsung ditekan oleh Juan untuk menelpon Amasya.
"Selamat pagi juga pacar." Balas Amasya sembari tersenyum lebar.
"Pacar pasti lagi ngajar?" Tebak Juan.
"Enggak." Jawab Amasya singkat.
Juan heran.
"Enggak salah lagi." Lanjut Amasya sambil memutar kameranya kearah para siswa yang dia ajar.
"Maafin aku yah ganggu kamu. Soalnya aku kangen banget sama kamu." Gombal Juan.
"Masa kangen. Tadi pagi kita sudah ketemukan. Masa masih kangen sih?" Tanya Amasya.
"Nama juga rasa kangen. Jadi gak bisa ditebak. Walaupun sudah ketemu tadi pagi. Tetapi rasa kangennya tumbuh lagi. Habisnya kamu ngangenin banget sih." Juan semakin gombal.
__ADS_1
Nania hanya tersenyum mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Juan. Walaupun sebenarnya dia juga ingin melihat wajah Juan terus-menerus.
"Oh ya, malam ini kamu ada acara gak?" Tanya Juan.
"Enggak. Memangnya kenapa?" Tanya balik Amasya.
"Bagaimana kalau malam ini kita nonton film di bioskop?" Ajak Juan.
"Film yang lagi viral itu?" Tanya Amasya.
"No... Aku gak suka nonton film horor. Apalagi jalan ceritanya kurang menarik. Masa kuntilanak melahirkan di semak-semak." Jawab Juan.
"Haha.. Masa sih jalan ceritanya seperti itu. Tapi kenapa banyak yang menonton film itu?" Tanya Nania kembali.
"Entah. Tapi feeling aku film itu biasa saja. Tetapi karena marketing yang dibuat sangat apik. Akhirnya film itu laku keras." Ucap Juan.
"Bisa jadi sih."
"Terus kita nonton film apa?" Tanya Amasya.
"Kita nonton film romance saja. Aku pikir itu jauh lebih seru, dibanding dengan film kuntilanak beranak di semak-semak." Beber Juan.
"Ok kalau kamu memang mau menonton film tersebut. Mau berangkat jam berapa?"
"Gimana kalau jam 7. Kita makan malam dulu di restoran. Sehabis itu kita nonton." Ajak Juan.
"Boleh juga."
"Jadi kamu mau buat nonton malam ini?" Tanya Juan.
Sebelum Amasya menjawab pertanyaan dari Juan. Amasya langsung mematikan handphone miliknya. Bu kepsek datang untuk menyerahkan beberapa berkas penting untuk Amasya. Hingga Juan yang terus memanggil nama Amasya tak mendapat jawaban apapun.
Begitu melihat handphonenya, Juan baru menyadari Amasya telah mematikan telepon darinya. Juan bertanya-tanya mengapa Amasya mematikan panggilan telepon darinya. Tapi Juan mencoba berpikir positif. Sebuah insiden mungkin membuat Amasya terpaksa mematikan panggilan telepon dari Juan.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk kedalam handphone milik Juan. Amasya mengabarkan jika dia terpaksa mematikan panggilan telepon dari Juan, sebab ada kepala sekolah yang datang. Amasya pun mengatakan jika dia bersedia untuk kencan bersama Juan malam ini.
__ADS_1
Hore.... Juan memukul meja kerjanya dengan begitu keras. Pukulan yang dilakukan oleh Juan terdengar hingga keluar ruangannya. Beberapa staf kantor Juan langsung masuk kedalam ruangan Juan. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada Juan. Tetapi Juan baik-baik saja, hingga mereka kembali keluar dari ruangan Juan.