
Alya terkulai lemas setelah keluar dari ruangan dosen pembimbingnya.
"Gimana Al."
Vera yang menunggu di depan melihat muka Alya sudah bisa menebak.
"Ini lihat sendiri."
Alya memberikan berkas satu bendel yang dia pegang tadi ke Vera.
"Apa ini jadi buku gambar, ha ha ha..." Tawa Vera.
"Kejam kamu."
Alya duduk di samping Vera.
"Udah nggak usah lemes gitu, kita perbaiki lagi. Kamu aja algoritma kayak gini kan pinter masih aja di coret - coret gimana punya ku nanti, bisa jadi lukisan."
"Ha ha ha..."
Mereka bisa tertawa bareng walau pikiran lagi kalut.
"Yuk makan, lapar."
Alya mengambil berkasnya dan memasukannya ke ransel kemudian keluar mencari isi perut.
Dia kebiasaan kalau lagi kalut dan banyak pikiran larinya ke makanan.
"Aku bisa tambah bulat Al, tiap hari sama kamu."
"Nggak papa bulat yang penting sehat, ha ha ha.."
Mereka mencari makan di depan kampus yang banyak berjajar berbagai macam jajanan di sana.
Setelah menikmati Alya dan Vera menuju ke masjid karena adzan sudah berkumandang, setelah salat nanti giliran Vera yang akan bertemu dengan dosen pembimbingnya.
Alya menunggu di depan ruang dosen sambil memainkan ponselnya sedangkan Vera sudah di dalam.
Ting...
Masuk notifikasi pesan.
"Bu Alya masih di kampus."
Pesan dari Angga.
Alya tersenyum mendapatkan pesan dari Angga dan segera membukanya.
"Masih Pak, ini lagi nunggu Vera yang sedang bimbingan."
Balasan di kirimkan oleh Alya .
"Pulang jam berapa."
"Ngapain coba kepo."
__ADS_1
Gerutu Alya, kadang dia merasa seperti buat apa sih Angga perhatian seperti ini.
"Habis ini selesai pulang Pak."
Balas Alya.
"Masih lama."
Masuk lagi pesan.
"Belum tau, Vera baru aja masuk ke dalam ruangan."
"Kalau pulang hati - hati."
"Iya , Makasih."
Begitu pesan terakhir yang Alya kirimkan.
"Ngapain kamu Al."
Vera tahu-tahu sudah duduk disebelah Alya.
"Kok udah Ver."
"Kamu sih, lihatin hp mulu dari tadi."
"he he he, biasa. Gimana."
"Nih..."
Vera membersihkan berkas skripsinya kepada Alya.
Tawa Alya.
"Memang hobi ya dosen bikin buku gambar."
"Udah yuk pulang."
Alya memberikan berkasnya kepada Vera.
"Kamu masih chat sama Pak Angga."
Alya tersenyum saja.
"Mau sampai kapan kalian kayak gitu Al, kamu sabar banget nungguin Pak Angga. Kalau ada yang lain kenapa nggak di coba Al."
"Kalau aku mau udah sama Adit aku Ver dari kemarin."
Mereka ngobrol sambil jalan ke parkiran.
"Kenapa kamu nggak mau."
"Udah lah Ver, aku anggap Adit temen aja."
"Kamu beneran suka sama Pak Angga, tapi gimana coba Pak Angga sama kamu dia cuma php kan Al."
__ADS_1
"Tau Ver, tapi aku yakin dia juga punya rasa sama aku."
"Sudah berapa bulan coba dari kalian jalan, nggak ada perkembangan sama sekali."
"Udah 2 bulan ini Ver, tapi biarkanlah semoga nantinya beneran bisa bersama."
"Al, jangan sia - siakan waktu kamu."
"Nggak papa Ver, aku juga konsen ke skripsi dulu di buat sebagai penyemangat aja he he he..."
"Kamu bilang gitu Al, tapi hati kamu sakit kan apalagi di jodohkan sama guru - guru di sekolahan kamu. Kamu sebenarnya tertekan kan Al."
Vera menghentikan langkah Alya.
"Entah Ver, tapi tenang Ver aku juga punya batas sabar."
Kata Alya dengan tersenyum.
"Aku takut kamu tambah sakit Al, kamu sudah menunggu sampai seperti ini dan dia tidak merespon apapun. Saran aku lebih baik kamu move on deh coba buka hati kamu untuk orang lain."
Alya matanya terlihat berkaca-kaca merasakan sesak di dada menunggu sampai sekian lama seperti ini tapi Angga tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang perasaannya padahal setiap hari mereka bertemu dan hampir setiap hari mereka berbalas pesan.
"Kamu masih kurang sabar apalagi Al, cowok kayak gitu enggak usah diharapkan."
"Srutt...."
Alya tak terasa meneteskan air matanya.
"Kamu pantas bahagia Al, Aku gak mau melihat kamu sakit padahal kamu harus berjuang untuk menyelesaikan skripsi mu.
Aku tahu bagaimana perjuangan mu untuk bisa kuliah seperti ini aku cuma nggak mau lihat kamu kecewa Alya dan akan berpengaruh pada kuliah mu ini."
Alya mendengar ucapan veera bisa menangis dan akhirnya memeluk tubuh sahabatnya itu.
Dia menumpahkan semua rasa sesak yang ada di dadanya.
"Kamu berhak bahagia Al, jangan sia - siakan perasaan mu hanya untuk cowok yang tidak pernah serius dengan mu."
Alya mencoba tersenyum dan mengusap air matanya, kemudian Vera mengajaknya untuk pulang.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Sepertinya pas ini jika aku nanti nembak dia pas di Bali."
Angga merebahkan dirinya dan menjadikan tangannya sebagai bantal sambil memandangi langit-langit kamarnya.
"Tapi bisa nggak ya, dia kan sering dengan guru-guru perempuan yang lain."
"Aku juga nggak mau, kalau aku didahului sama yang lain. Aku nggak mau dia memilih yang lain."
"Ya Bali tempat yang tepat, aku juga bisa kasih hadiah buat Dia."
Angga kemudian terlelap di alam tidurnya.
😉😉😉😉😉
__ADS_1
Hari ini sudah double up ya 😀😀😀
jadi jangan lupa tinggalin jejaknya ya ☺☺☺☺