
Pagi hari Alya dan kedua adiknya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah saudaranya yang mempunyai hajat.
Dari habis subuh Angga sudah
ribut dengan mengirimkan pesan kepada Alya. Dia memberikan beberapa pesan kepada Alya dan yang tak terlupakan selalu bilang hati - hati dan jangan lupa kabari.
Alya naik motor sendiri sedangkan adiknya boncengan berdua. Kurang lebih hampir 1 jam akhirnya mereka sudah sampai.
Mereka membaur bersama dengan saudara - saudaranya hingga ponsel Alya berbunyi, siapa lagi kalau bukan pacarnya yang tersayang menghubunginya.
Alya mencari tempat yang sepi karena terganggu dengan suara sound system.
" Assalamualaikum Mas."
"Waalaikumsalam, sayang. Lagi apa."
" Lagi sama saudara-saudara Mas, Mas lagi ngapain."
"Lagi sarapan nih."
"Jam berapa Mas baru makan."
"He he he.. Ini sarapan kedua tadi pagi cuma sarapan lontong sayur udah lapar lagi sekarang."
" Astaghfirullahaladzim, itu perut apa karet sih Mas."
"He he he..Perut lah masa karet."
Angga malah terkekeh dikatakan perut karet sama Alya.
"Masa jam segini udah makan dua kali."
"Lapar Sayang. Dua hari nggak ketemu nanti Mas kalau kangen gimana."
Alya menggigit Bibir bawahnya mendengar Angga bilang seperti itu.
"Telepon lah Mas atau video call."
"Mau ketemu kok."
"Ya sabar nanti selasa Mas."
"Kamu lama banget di sana."
"Cuma dua hari besok sore juga sudah pulang Mas."
Saat Alya teleponan dia dipanggil oleh ibunya.
"Al, sini."
"Mas udah dulu ya dipanggil Ibu. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam sayang."
Alya menghadiri panggilan itu dan kemudian menuju ke arah ibunya.
"Kamu mau diajak sama Mbak Anis itu untuk ambil parcel."
__ADS_1
"Iya Bu."
Alya mengikuti kakak sepupunya itu untuk mengambil parcel yang akan digunakan esok hari untuk sasrahan acara pernikahan Mas Eki.
Seharian Alya sibuk membantu persiapan acara esok sambil kadang membalas pesan dari Angga.
Hingga malam menjelang kembali ponsel Anin berbunyi dan itu saat dirinya bersamaan dengan saudara - saudaranya.
"Siapa Al, nggak di angkat."
Tanya Mas Yosi, kakak dari Mas Eki.
"Ini, he he he.. Temen Mas."
"Temen apa temen, dijawab dulu sana berisik tahu bunyi mulu ponselnya dari tadi."
"Nanti aja Mas."
Alya menekan volume ponselnya agar silent, kalau Angga tau bisa langsung ngomel dia.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kemana sih Alya nggak diangkat."
Angga menggerutu sendiri di kamarnya.
Panggilannya tak terjawab kemudian Angga menekan nomor Alya kembali dan mencoba menghubunginya lagi.
"Kemana sih Sayang."
"Aku video call ah."
Angga kembali menekan nomor ponsel Alya.
"Kemana ini orangnya."
Angga kemudian mengirimkan pesan kepada Alya.
"Sayang, kemana sih ditelepon gak diangkat di video call gak dijawab lagi ngapain."
Angga gelisah menanti balasan dari Alya, karena pesannya juga tidak terbaca oleh Alya.
"Kemana ini Sayang, jangan - jangan dia sama cowok lain di sana." Angga sampai berpikiran seperti itu mencurigai Alya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Alya sendiri sebenarnya sudah melihat pesan yang masuk dari Angga lewat notifikasi yang masuk namun dia cuma mengintipnya dan melanjutkan obrolannya dengan saudara-saudaranya.
"Dia posesif gini ternyata."
Dalam hati Alya.
"Huffftt..."
Alya menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
"Kenapa Al."
__ADS_1
Mas Yosi melihat Alya memikirkan sesuatu.
Alya tersenyum saja.
"Nggak papa Mas, he he he. Alya masuk ya Mas udah ngantuk mau istirahat."
"Oke."
Alya masuk kedalam rumah budenya menuju ke kamar untuk beristirahat.
Kemudian dia membalas pesan Angga.
"Maaf Mas HP nya di kamar aku cash, dan aku lagi di depan sama saudara - saudara. Mas Angga sudah tidur."
Tak lama panggilan video call masuk. Alya menghembuskan nafasnya, kalau nggak di jawab bisa marah Angga.
"Assalamualaikum Mas."
Alya tersenyum supaya Angga juga percaya.
" Waalaikumsalam Sayang lagi di mana sih. Kok gak dijawab teleponnya, video call juga nggak di angkat lagi ngapain sih sayang."
Angga kayak emak - emak aja dengan muka yang sedikit kesal.
Alya tetap tersenyum walaupun Angga memberinya banyak pertanyaan yang membuatnya merasa di awasi terus.
"Maaf ya Mas, Hp nya Alya cash di kamar terus terus Alya tinggal ke depan ngobrol sama saudara-saudara."
"Lain kali jangan seperti itu."
"Iya, maaf ya Mas. Mas kok belum tidur."
"Mana bisa Mas tidur sebelum dengar suara kamu."
Alya tersenyum lagi biar Angga senang.
"Sayang, senyum terus bikin kangen. Kalau di sana jangan dekat-dekat sama cowok lain."
"Kan di sini banyak cowok Mas."
Alya bermaksud mencandai Angga tapi Dianya malah kebawa perasaan.
" Nggak boleh deket - deket, Mas lihat lho dari sini."
"Ini seriusan banget orangnya."
Dalam hati Alya.
"Iya Mas, Alya nggak dekat sama cowok lain."
"Janji dulu."
"Iya Janji."
😊😊😊😊😊
Entah itu cinta atau apa malah kesannya protektif banget
__ADS_1