DIARY ALYA

DIARY ALYA
18


__ADS_3

"Al... maaf ya."


Silvi dan Ana mengambil tempat duduk di depan Alya dan menghadap ke arahnya.


Alya diam saja sambil memainkan ponselnya.


"Al..."


Silvi menggoyang-goyangkan lengan tangan Alya.


"Apa sih Sil."


"Hmmm... maaf."


Silvi dengan memasang muka memelas.


"Huffttt... iya."


jawab Alya singkat.


"Nggak ikhlas gitu."


Silvi masih menambahkan wajah sok imut.


"Maunya gimana."


Alya meletakkan ponselnya dan memandang kedua sahabatnya yang ada di depannya.


"Maafin."


"Iya udah aku maafin."


"Bukan maksud kami bohong Al, tapi sebenarnya itu atas permintaan Mas Wahid." jujur Ana.


"Kenapa Mas Wahid begitu."


"Kita juga nggak tau, bilangnya biar kamu datang aja." tambah Ana.


"Udah aku nggak akan datang, mau pulang sama Ibu."


🌹🌹🌹🌹🌹


Di lain sisi Wahid sedang menghubungi Rafi dia memberitahu jika Alya tidak akan datang setelah dapat kabar dari Ana.


"Temui dia sekarang Fi, ke sekolahan atau kamu nggak akan ketemu lagi sama dia." kata Wahid.


Rafi kemudian bergegas untuk berangkat ke sekolah ingin menemui Alya dan sekaligus berpamitan, nantinya juga dia akan mengundang teman-temannya untuk makan bersama tetapi acaranya masih nanti siang.


Sesampainya di sekolahan Rafi sudah membuat janji dengan Wahid untuk menemaninya dan Wahid juga sudah meminta Ana untuk meminta tolong agar Alya bisa keluar dari kelas.


"Al, temani aku."

__ADS_1


Ana yang tadi sudah keluar dari kelas Alya kembali lagi duduk di depannya.


"Kemana."


"Ke Basecamp sebentar mau copy file yang kemarin itu."


Ana memang sedang tidak bohong dia sedang mempersiapkan untuk acara lomba pramuka sebentar lagi.


"Kenapa nggak kemarin di copy sekalian sih."


Meskipun Alya menggerutu dia berdiri juga dari tempat duduknya, senyum sumringah nampak di bibir Ana rencananya berhasil.


Ana membuka pintu basecamp dan kemudian masuk ke dalamnya bersama Alya.


Saat Ana menyalakan komputer Alya duduk saja di sampingnya.


"Assalamualaikum."


terdengar dua orang mengucapkan salam di depan pintu.


"Waalaikumsalam."


jawab Alya dan Ana, mereka berdua pun kompak menoleh ke arah pintu.


Ana tersenyum dan bersikap biasa saja seolah tak ada rencana di antara mereka. Sedangkan Alya memandang Ana sepertinya ini akal - akalan mereka bertiga.


"Mas Rafi, Mas Wahid ada acara apa ke sekolahan."


tanya Ana sedangkan Alya diam saja menggantikan Ana yang tadi mengcopy file tapi nggak jadi.


tanya Wahid.


"Ini Mas, copy file Otong persiapan lomba."


"Iya.. ya bentar lagi ya."


Wahid asyik ngobrol sama Ana, Rafi juga memilih diam tak bersuara.


"Udah An, ke kelas yuk sebentar lagi ibu ku pasti datang."


"Oke.."


Ana setuju saja tetapi dia memberi kode kepada Wahid dan Rafi.


Alya beranjak berdiri tetapi Rafi langsung membuka mulutnya.


"Alya, bisa kita bicara sebentar."


Alya menatap Rafi kemudian gantian ke Ana yang mendapat senyuman darinya.


"Bicara saja Mas."

__ADS_1


Alya bersikap biasa saja tapi memang semenjak kejadian itu Dia jadi irit bicara sama Rafi.


Rafi menoleh ke Wahid meminta waktu sebentar untuk bisa bicara dengan Alya.


"An, bisa keluar sebentar."


pinta Wahid dan Alya menahan lengan Ana.


"Di sini aja An, kalau Mas Rafi mau bicara kalian berdua di sini saja ikut mendengarkannya aku nggak mau hanya berdua di sini sama Mas Rafi."


pinta Alya dan Rafi pun menganggukkan kepalanya.


"Oke."


kata Wahid dan Mereka semua duduk.


"Alya.. Aku mau minta maaf jika selama aku ada di sini pernah menyakiti hati kamu." ucap Rafi.


Alya mendengarkannya dan menunggu apa kata Rafi selanjutnya.


"Mungkin aku pernah menyakiti hati kamu dan sekaligus aku mau pamit."


lanjut Rafi.


"Mas Rafi nggak punya salah sama saya, Saya juga minta maaf jika saya punya salah sama Mas Rafi baik yang saya sengaja maupun tidak sengaja."


kata Alya dengan tersenyum.


Rafi pun tersenyum lega rasanya, tapi masih ada yang ingin dia katakan namun apakah harus mengatakannya atau tidak masih bimbang.


"Makasih Al, semoga studi kamu lancar dan bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi."


"Aamiin makasih Mas, semoga mas Rafi di sana juga sukses kuliahnya."


"Aamiin.." ucap Mereka bersama.


"Maaf Mas saya harus ke kelas, sebentar lagi wali kelas akan datang dan membagikan raport."


"Sebentar Al."


Rafi kemudian membuka tasnya dan memberikan sesuatu kepada Alya.


"Ini untuk kamu, dibuka di rumah saja ya dan aku berharap nanti kamu bisa datang ikut makan bersama."


"Makasih Mas, tapi maaf Mas, saya gak bisa datang sudah janji sama Ibu."


Ada raut kecewa di wajah Rafi, tapi mau bagaimana lagi dia tetap tersenyum.


"Oke nggak papa Al, saya beruntung mengenal sudah pernah mengenalmu." katanya dan membuat Alya merasakan getaran itu lagi.


"Makasih ya Mas kenang - kenangannya."

__ADS_1


kata Alya sambil berdiri dan beranjak pergi dari ruangan itu.


😉😉😉😉


__ADS_2