
Angga membantu Alya membereskan laptopnya, kemudian mereka berdua pun berjalan menuju ke parkiran.
"Bonceng Mas aja ya, sepeda motornya tinggal di sini nanti titipkan ke rumah Pak Roni."
Pak Roni penjaga sekolahan yang mempunyai rumah di dalam sekolahan.
"Nggak Mas, Alya masih kuat untuk naik sepeda motor sendiri."
"Sayang, Mas khawatir sama kamu naik motor sendiri."
"Alya nggak papa Mas, masih kuat kok sampai rumah naik motor."
"Yakin."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, Mas akan mengikuti Mu dari belakang."
Mereka berdua naik motor sendiri - sendiri meninggalkan lingkungan sekolah.
Angga mengajak Alya untuk makan siang terlebih dahulu dan membawanya ke rumah makan padang kesukaannya.
"Kesini Mas."
"Iya, kenapa nggak suka ya Sayang."
"Nggak papa Mas, Alya apa aja mau."
Mereka berdua masuk ke dalam dan membuat pesanan sesuai dengan selera mereka masing-masing.
Angga menu favorit yaitu rendang sedangkan Alya hanya memilih telur dadar saja ala masakan Padang.
"Sayang, kok pesan telur. Di rumah kan udah sering makan telur dadar."
"He he.. Suka aja Mas, ini beda sama di rumah."
Mereka menyantap hidangan masing - masing dan beberapa menit kemudian Angga telah habis duluan dan Alya masih menikmatinya.
"Kenapa Mas lihatin Alya kayak gitu." Angga setelah menghabiskan makanannya dia mengamati Alya yang masih menikmati hidangannya.
Angga tersenyum manis, membuat jantung Alya berdegup.
"Maafin Mas ya Sayang, buat kamu jadi pucat kayak gitu. Mas jadi merasa bersalah sama kamu, kenapa Mas buru-buru mengambil keputusan mematikan ponsel tidak membaca pesan dari kamu dulu."
"Udah Mas, Alya nggak papa ini capek aja."
"Capek mikirin Mas ya, mudah ngambek."
Alya tersenyum saja dan menyeruput minuman yang ada di depannya.
__ADS_1
"Memang, bikin tambah beban pikiran aja dikit - dikit marah."
Alya berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Alya yang salah gak bisa ngertiin Mas Angga."
Angga meraih tangan Alya,
"Sayang, Mas janji nggak akan mengulangi."
"Iya, kita sama - sama instrospeksi diri kita sendiri Mas. Alya juga salah kenapa nggak ngomong dulu sama Mas Angga."
"Kita harus lebih saling terbuka lagi, kamu jangan sungkan untuk minta tolong sama Mas dan jika kamu butuh apa-apa bilang sama Mas."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kita pulang ya Mas, Alya ngantuk."
"Kalau Kamu ngantuk nanti bahaya pulangnya, bonceng Mas aja ya, Mas anterin sampai rumah."
"Motornya."
"Kita balik sekolahan sepeda motornya tinggal aja di rumah Pak Roni."
"Angga Mas, Alya masih kuat."
Alya membuka kedua matanya lebih lebar.
"Iya, yuk Mas pulang."
"Oke."
Angga kemudian ke kasir dan Alya pun mengikutinya. Kemudian mereka berdua meninggalkan rumah makan itu dan menuju ke rumah masing-masing.
"Sayang, pelan-pelan aja ya."
"Iya Mas."
Angga mengikuti Alya dari belakang, dan akan berpisah di pertigaan menuju ke tujuan masing - masing.
Beberapa menit kemudian Alya telah sampai di rumah,Dia merasakan matanya yang sudah sangat mengantuk sekali. Dia ingin segera menyegarkan badannya dan berganti pakaian setelah itu tidur.
Sebelum Alya tidur dia tak lupa mengirimkan pesan kepada Angga memberitahu jika dia sudah sampai rumah dan ingin tidur takutnya nanti Angga menghubunginya dan tak terjawab karena ditinggal tidur olehnya.
Setelah pesan terkirim Alya sudah tak bisa menahan lagi kedua matanya dan dia terlelap ke alam mimpi.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Kasihan Dia."
__ADS_1
Angga bicara sendiri sambil memandang ponselnya membaca pesan dari Alya.
"Maafin Mas ya Sayang."
Angga berbicara sendiri dan tak sengaja Adiknya yang baru masuk ke dalam rumah mendengarnya.
"Cie.. Punya pacar baru ya Mas."
"Ngagetin aja sih Dik."
"Kenalin Mas."
"Kepo kamu, nanti kalau udah waktunya."
"Orang mana Mas, teman kerja."
Adiknya masih mengorek terus informasi tentang pacar kakaknya itu.
"Mau tau aja kamu."
"Pelit banget sih Mas."
Bapak dan Ibunya Angga mendengar perdebatan kedua anaknya itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau Mas Mu serius nanti juga dibawa ke sini." Kata Ibunya dan Angga langsung menatap ke arah ibunya.
"Udah umur berapa Mas, cari yang serius ngajak nikah."
"Maunya begitu." Jawab Angga.
"Kamu laki - laki Ga, jangan suka mempermainkan hati perempuan kalau memang sudah merasa cocok ya sudah kapan Bapak diajak ke sana untuk melamarnya."
Angga tercengang mendengar ucapan Bapaknya.
"Angga serius Pak tapi dia masih kuliah dan dia maunya nanti setelah wisuda baru menikah."
"Ya bagus dong, berarti dia perempuan yang bertanggungjawab juga dengan orang tuanya."
"Iya Pak, Insya Allah kalau dia memang jodoh Angga nggak akan kemana kok."
"Ingat pesan Bapak tadi jangan suka mempermainkan hati perempuan."
"Iya Pak Angga ingat, dan Angga juga enggak pernah itu mempermainkan hati perempuan."
"Begitu jadi cowok yang tanggung jawab, itu anak orang, dia dibesarkan oleh orang tuanya disekolahkan sampai sarjana jangan kamu sia-siakan dia. "
Angga mendengarkan nasehat dari orang tuanya dengan seksama dan meresapinya.
"Mas akan menunggu Mu, sesuai permintaan kamu Sayang."
__ADS_1
Dalam hati Angga.
😌😌😌😌😌