DIARY ALYA

DIARY ALYA
172


__ADS_3

Malam makin larut, Angga sudah memejamkan kedua matanya dan terlelap di samping Alya. Namun berbeda dengan Alya di juga sudah berusaha memejamkan kedua matanya tapi belum bisa tidur juga pikirannya masih melayang.


"Apa Ibu setuju ya, kalau aku tinggal di sini."


"Gimana caranya aku ngomong sama ibu."


"Aku takut Ibu marah, tapi mau bagaimana lagi suami jauh lebih utama."


Begitulah yang ada di dalam pikiran Alya dia masih mencari cara bagaimana caranya bicara dengan kedua orangtuanya, terutama ibunya yang sangat menginginkan dirinya untuk tetap tinggal di dekatnya.


Pikirannya gelisah mencari cara agar tidak menyinggung perasaan orang tuanya mengenai permintaan Angga yang menghendaki untuk tinggal di dekat orang tua suaminya itu.


Angga yang terlihat sudah memejamkan kedua matanya, sebenarnya juga merasakan jika istrinya itu belum tidur. Dia memiringkan tubuhnya dan memeluk Alya.


"Sayang, nggak tidur. Lagi mikirin apa."


Angga mengusap kepala istrinya.


"Nggak papa Mas."


Alya pun memiringkan tubuhnya ke samping dan memeluk Angga, Dia membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Tidur Sayang udah malam, besok ngantuk lho."


"Iya Mas."


Alya memeluk erat suaminya itu untuk mencari ketenangan dan kedamaian agar dia bisa segera terlelap.


"Mas tau apa yang kamu pikirkan Sayang." Dalam hati Angga, dia dapat merasakan apa yang menjadi kegelisahan istrinya namun Dia ingin menunggu supaya Alya nanti bercerita sendiri.


Semakin lama Alya merasakan kehangatan di dalam pelukan Angga begitu pula dengan suaminya itu ikut masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang, Angga menggerakkan badannya membuka kedua matanya. Dia memandangi wajah alami sang istri yang masih terlelap.


"Sayang..."


Angga mengusap pipi Alya dengan lembut supaya istrinya itu tidak kaget.


"Hmmm...."


"Bangun Sayang, udah subuh."


Alya mengerjapkan kedua matanya, Dia merasakan matanya masih terasa sangat lengket.


"Bangun Sayang.."


"Iya Mas."


Setelah ia membuka kedua matanya dia pun bangun dan duduk. Angga juga ikut duduk, namun dia mencegah Alya yang mau turun dari tempat tidur.


"Tunggu Sayang."


"Kenapa Mas."


Alya terdiam kenapa suaminya tiba-tiba memeluknya.


"Jangan terlalu dipikirkan, kita nikmati saja dulu ya Sayang sebagai pengantin baru kalau mau tinggal di rumah Ibu kita tidur sana kalau mau tidur di sini ya kita ke sini." Kata Angga sambil membelai kepalanya istrinya itu dan menciumi pucuk kepalanya.


Alya terdiam mendengar suaminya bicara begitu dia tidak menyangka jika Angga tahu apa yang ada dipikirannya.


"Kita nikmati saja dulu sayang. Masalah pindah kapan kita pikirkan saja nanti."


Alya membalas pelukan suaminya itu namun sayang dia tidak bisa menahan air matanya lagi.

__ADS_1


"Sayang, kok malah nangis..."


Angga dengan Sayang membelai kepala Alya yang masih merasakan berat untuk berpisah dengan kedua orangtuanya.


"Maafin Alya Mas."


"Nggak papa Sayang, kita bicarakan lagi nanti ya. Sekarang bangun dong, senyum Sayang."


Angga mengangkat wajah Alya dan tersenyum dan membuat Alya ikut tersenyum.


"Bangun yuk, kita sholat subuh."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Ternyata Ibu mertuanya sudah bangun dan bersiap untuk memasak.


"Masak apa Bu, maaf Alya baru bangun."


"Masak sayur aja, nggak papa kamu sholat dulu nanti kesiangan."


"Iya Bu."


Alya membersihkan dirinya dan kembali ke kamar untuk sholat berjamaah dengan suaminya.


Selesai mereka sholat Alya membantu Ibu mertuanya di dapur untuk mempersiapkan sarapan karena dia gak mau juga dianggap menantu yang malas tinggal di rumah mertua tapi tidak pernah ke dapur.


"Al, kamu bersiap kerja aja udah siang ini nanti sarapan bareng."


"Iya Bu."


Alya jam dinding dan benar juga waktunya sudah siang jadi harus segera mempersiapkan keperluannya sendiri dan suaminya untuk berangkat mengajar.

__ADS_1


Setelah rapi Angga dan Alya bergabung bersama kedua orang tuanya untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolahan.


☺☺☺☺☺


__ADS_2