DIARY ALYA

DIARY ALYA
151


__ADS_3

Pagi itu Alya akan ke sekolahan dia ingin membagikan kebahagiaannya kepada semua guru yang ada, syukuran kecil - kecilan akan di adakan di sekolahan jadi pagi ini ia diantar Ikhsan untuk berangkat bekerja. Tadinya Angga mau jemput tapi Alya menolaknya nanti malah bolak - balik, kalau pulang saja nggak papa diantar.


Sesampainya di sekolahan Alya mendapatkan ucapan selamat dari semua bapak ibu guru yang ada, atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan sarjananya tepat waktu.


"Wah.. Bu Alya selamat ya. sekarang ijazah sudah didapatkan berarti tinggal Ijab sah saja ya." Canda Pak Abdi dan pas kebetulan di sana juga ada Angga.


Alya tersenyum saja, sambil mengucapkan terima kasih dan meminta doanya.


Acara doa bersama telah selesai dilaksanakan dan mereka semua sekarang makan bersama, Alya senang sekali bisa berbagi kebahagiaan dengan teman sejawatnya.


"Kamu nggak makan Dik."


Angga duduk di samping Alya yang hanya minum saja.


"Masih kenyang Mas."


"Disuapin dong Pak." Goda Bu Eni.


" Masa di sini suap-suapan Bu, nanti kalau Bu Eni iri gimana mau minta suapin siapa ayo."


Angga balik menggoda Bu Eni yang hanya terkekeh saja.


" Sekarang Pak Angga beda ya, bisa bercanda sama kita-kita." Celetuk Bu Eni.


Angga tersenyum saja dan meneruskan makannya dengan ditemani oleh Alya.


Tak terasa seharian itu waktu berlalu begitu cepat dan bel pulang sekolah telah berbunyi.


Angga dan Alya berjalan bersama menuju ke parkiran karena Angga akan mengantar Alya pulang.


"Helm kamu mana Sayang."


"Ya Allah Mas, Alya lupa di ruang guru tadi sebentar ya Alya ambil dulu."


"Nggak usah lari pelan-pelan saja."


Alya meninggalkan Angga yang melihat dirinya dari arah parkiran.


Tak butuh waktu lama Alya kembali ke parkiran lagi dan telah mengenakan helmnya.


"Sudah kan, ada yang ketinggalan lagi nggak." Tanya Angga.


"Nggak ada Mas, yuk pulang."


"Pulang ke rumah Mas."


Angga menatap kearah Alya yang diam saja.


"Ya udah yuk pulang."


Angga menaiki sepeda motornya kemudian Ia pun ikut naik ke atasnya. Dia mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan lingkungan sekolah menuju ke rumah Alya.


Seperti biasa Angga akan melingkarkan tangan Aliya di perutnya.


"Sayang, Mas ingin segera menghalalkan mu."

__ADS_1


Alya tersenyum saja tanpa menjawabnya.


"Kamu mau kan Sayang, nikah dalam waktu dekat ini."


"Alya, tergantung Bapak sama Ibu Mas."


Angga menganggukkan kepalanya.


Mereka menikmati perjalanan di siang hari itu, rasanya tak ingin berakhir hari itu ingin berdua terus.


Sekitar 30 menit setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka telah sampai di rumah Alya.


Rumah terlihat sepi, dan pintunya pun tertutup tak ada satu orang pun di rumah.


Alya juga tidak tahu pada kemana orang rumah kalau Bapaknya sudah pasti kerja karena tadi masuk pagi Ibunya nggak tahu juga, kalau Ikhsan pasti belum pulang sekolah, Dani apalagi dia entah kemana.


"Kok sepi Sayang."


"Nggak tau Mas."


Mereka berdua turun dari motor kemudian Alya pun bertanya ke rumah sepupunya yang berada di sebelah.


"Mbak, Ibu kemana."


"Ke rumah Bude Anik, paling sore baru pulang Al."


"Iya Mbak."


Alya kembali ke rumah dan Angga duduk di teras.


"Nggak papa Mas masuk ke dalam rumah kan nggak ada orang."


"Mas Angga mau di luar aja, aku ambilin minum ya."


"Ya udah Mas di sini aja nggak papa."


"Alya masuk dulu ya Mas, mau ambil minum buat Mas Angga."


"Iya Sayang."


Angga memilih duduk di kursi yang ada di teras dia merasa tidak enak aja bertamu ke rumah seorang gadis yang tidak ada orang tuanya di rumah.


Alya pun langsung keluar kembali dengan membawa nampan berisi minuman serta camilan.


"Diminum Mas."


"Makasih Sayang."


Angga kayaknya kehausan dia langsung menyambar air dingin yang ada di hadapannya.


"Haus ya Mas."


Angga menganggukkan kepalanya dan Alya pun tersenyum.


"Panas banget ya tumben."

__ADS_1


"Mau hujan kali Mas biasanya."


Mereka ngobrol aja di depan teras, dan tak terlalu lama Dia pun akhirnya pamit untuk pulang ke rumah.


"Hati - hati ya Mas, makasih ya sudah diantar pulang."


"Iya Sayang, Kamu di rumah hati-hati ya jangan terima tamu cowok. Tutup aja pintunya kalau mau istirahat di dalam kamar."


"Iya Mas."


"Mas pulang ya, jangan lupa pintunya dikunci dari dalam."


"Iya Mas, hati - hati jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah."


"Oke Sayang."


Angga pun pergi meninggalkan rumah Alya dan menuju ke rumahnya. Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya dia pun sampai di rumah.


Angga segera membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.


"Ga.." Panggil ibunya.


"Kamu punya uang belum."


Tanya ibunya.


"Buat apa Bu."


Angga kaget aja tiba-tiba ibunya tanya begitu.


"Ini Ibu ada sedikit rezeki besok cari cincinnya sama Alya."


Ibunya memberikan sebuah amplop yang berisi beberapa lembar uang.


"Bu, Angga sudah punya tabungan untuk beli cincin untuk Alya. Itu Ibu bisa gunakan untuk keperluan yang lain saja."


Angga menolaknya dengan halus karena dia ingin membersihkan cincin untuk calon istrinya itu menggunakan uangnya sendiri.


"Beneran Ga."


"Iya Bu, besok Angga ajak Alya beli cincin."


"Ya sudah kalau uang untuk beli cincin sudah ada, ini kamu bawa saja sekalian untuk beli seserahan. Kalian cari sendiri ya kalau ibu yang beliin nanti melangkah cocok untuk Alya."


"Angga punya uang Bu, iya nanti Angga akan ajak Alya juga untuk cari seserahan."


"Beneran punya uang."


"Iya Bu, simpan aja ya uang ibu."


"Ya udah kalau kurang nanti bilang sama ibu."


"Insya Allah cukup Bu, Angga tau selera Alya gimana."


"Ya udah.."

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2