
~Tri PoV~
Sejak awal aku bertemu Kamu Al, aku sudah jatuh cinta pada mu namun dalam hatiku masih aku sangkal.
Hingga hampir tiap hari kita bertemu dan kerja bareng, semakin membuat diri ini ingin mengenalnya.
Anaknya yang periang serta ramah pada semua orang ditambah lagi baik hati dia suka menolong tanpa memandang siapapun itu, membuat ku semakin menaruh hati pada mu.
Hingga aku berani menyatakan cinta kepada mu, dan tak ku sangka kamu pun membalasnya.
Selama bersama kamu bahagia rasanya, kamu lucu banget Al bisa membuatku selalu tertawa.
Hari - hari ku selalu terasa ceria dengan kelucuan mu, kamu yang periang bisa membuat diri ku selalu nyaman di dekat mu.
Namun aku merasa semakin ke sini aku jadi merasa tidak pantas untuk diri mu, tapi aku juga merasa tidak mau meninggalkan kamu.
Aku bukan cowok baik seperti yang kamu kira, aku merasa tidak pantas bersama mu, kamu layak mendapatkan cowok yang lebih baik dari ku.
Alya rasanya berat untuk bilang kita putus karena jujur aku masih sayang sama kamu, tapi maaf Al hati ku terbagi dengan yang lain.
Kamu lucu, baik, cantik tapi maaf Al, kamu terlalu sederhana dan polos.
Maaf sekali lagi Al, daripada semakin lama aku menyakiti perasaan mu memang lebih baik kita berteman saja dan maaf aku tidak bisa jujur dengan mu karena aku takut kamu membenci ku.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Mbak, Mas Tri nggak pernah main lagi ke sini."
Ikhsan yang baru pulang dari Pondok menanyakan Tri.
"Emang kenapa kalau nggak main."
Alya memang tidak cerita kepada orang rumah kalau dia sudah diputuskan oleh Tri.
"Mau di ajarin naik motornya Mbak, siapa tahu nanti Bapak mau belikan he he he."
__ADS_1
Ikhsan nyengir ada Bapaknya yang sedang menonton televisi.
"Ngarep Kamu.."
"Iya Pak, Nanti kalau udah SMK berikan motor seperti itu ya pak."
pinta Ikhsan kepada Bapaknya karena ini tahun terakhir di tingkat Sekolah Menengah Pertama.
"Doakan rejeki Bapak banyak dan barokah."
"Aamiin.."
Ikhsan paling kencang sendiri.
"Mbak.."
"Hemmm..."
Alya sambil main ponselnya.
Ikhsan menelisik Alya yang langsung menatapnya.
Namun Alya pandai menyembunyikannya, dia senyum saja dan main ponselnya lagi.
"Kepo."
"Mbak, suruh main ke pondok."
Alya menatap Ikhsan sambil mengerutkan dahinya.
"Ngapain, siapa yang nyuruh."
"Itu ada yang mau kenal sama kamu Mbak."
Ikhsan duduk disebelah Alya dan senyum sendiri.
__ADS_1
"Mbak kan nggak kenal sama teman pondok kamu, lagian anak kecil minta kenalan."
Alya terkekeh sendiri.
"Siapa bilang anak kecil, Dia udah dewasa Mbak udah lulus kuliah."
Ikhsan menghampiri gorengan yang dibawa ibunya.
"Tau ah Dek."
Alya nggak mau mikir pusing.
"Ada apa Ikhsan."
Ibunya yang duduk di samping Bapak penasaran dengan obrolan kedua anaknya.
"Ini Buk, Mbak Alya putus sama Mas Tri, lama kan Buk Mas Tri nggak ke sini."
Ikhsan dengan mengunyah gorengan di dalam mulutnya.
Alya melotot menatap Ikhsan.
"Bener kan Mbak."
Ikhsan senyum-senyum menggoda kakaknya.
Ibunya menatap Alya namun tak bertanya apapun. Naluri seorang ibu bisa menangkap isi hati anaknya dari raut mukanya.
"Kepo..."
Alya langsung pergi ke kamarnya nggak mau ribut sama Ikhsan.
"Kemana Mbak, bener kan Mbak."
Ikhsan masih saja menggoda kakaknya yang bungkam soal hubungannya dengan Tri.
__ADS_1