
Alya dan Angga sudah siap akan berangkat ke sekolahan, setelah berpamitan dengan kedua orang tua Alya, Mereka menaiki sepeda motor dan segala melajukannya.
Angga rasanya senang sekali berangkat bekerja bersama sang istri, Angga mengusap tangan Alya yang melingkar di perutnya.
"Sayang, nggak capek bonceng nya miring gitu."
"Alya pakai rok Mas, nggak papa Alya udah biasa kok Mas."
"Besok pakai celana aja dulu nanti bisa ganti di sekolahan. Kasihan kamu kalau capek miring."
"Nggak papa Mas."
Sesampainya di sekolahan Angga memarkirkan sepeda motornya di tempat khusus untuk guru dan karyawan.
"Ciye.. Pengantin baru."
Ledek Bu Eni yang juga berada di parkiran itu baru saja datang.
"Bu Eni."
Alya mengeluarkan tangannya dan mereka bersalaman.
"Pak Angga sekarang kelihatan lebih fresh Bu." Canda Bu Eni.
"Pasti dong Bu, kan sudah diurus sama istri sekarang." Celetuk Angga.
"Mas, Alya ke sana sama Bu Eni ya mau ke ruang guru dulu."
"Iya Sayang."
"Uhuk..uhuk..." Bu Eni berlagak tersedak melihat ke-uwu-an mereka berdua.
Angga memandangi istrinya berjalan menuju ke ruang guru dan datang Pak Ahmad mereka akhirnya bersama ke ruangan masing - masing.
Bel sekolah berbunyi tanda masuk untuk memulai pelajaran jam pertama. Alya mulai mengajar di dalam lab komputer sedangkan Angga masih sibuk menertibkan siswa yang datang terlambat.
Hingga tak terasa waktu istirahat pun telah tiba, Angga merasakan tiba-tiba kepalanya terasa pusing sedangkan Alya juga tidak menghampiri ke ruangannya karena disibukkan juga dengan pekerjaannya sendiri.
Angga mengistirahatkan dirinya di dalam ruangan saja tanpa memberitahu ke Alya.
"Alya kenapa nggak ke sini."
Gumam Angga sendiri, Dia membuat teh hangat dan meminumnya berharap rasa sakit kepalanya akan hilang.
Alya memang tidak menghubungi Angga karena ditinggal cuti pekerjaannya pun menumpuk waktu istirahat pun Ia manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tak terasa waktu pulang pun tiba, Alya sama sekali tidak punya firasat jika Angga kurang enak badan, Dia berpikiran jika Angga sibuk biasanya suaminya itu yang menghampirinya ini tidak.
Alya menunggu Angga di lab sambil membereskan laptopnya.
"Ayo pulang."
Suara Angga mengagetkan Alya, Dia masih membereskan laptopnya.
"Iya Mas bentar."
Angga terlihat seperti kurang bersemangat dan beda saja dari hari-hari biasanya yang perhatian dengan Alya.
"Ayo Mas."
Alya menghampiri suaminya yang menunggu di depan.
"Lama banget, sibuk ya baru diberesin." Entah kenapa suara Angga terdengar tidak enak ditelinga Alya seperti orang marah.
"Baru selesai Mas, mau makan apa pulang Mas."
Alya mengikuti suaminya yang berjalan menuju ke parkiran.
"Pulang aja."
__ADS_1
"Mas Angga kenapa, apa aku berbuat salah." Dalam hati Alya.
Angga naik ke atas motor dan Alya juga segera naik, kemudian motor segera melaju meninggalkan sekolahan.
Sepanjang jalan Angga hanya diam, Alya jadi bingung dia berbuat salah apa hingga membuat suaminya marah.
Sepeda motor Angga berhenti di teras dan Mereka berdua masuk ke dalam setelah mengucapkan salam dan menuju ke kamar mereka.
Angga meletakan tasnya dan melepaskan jaket, Dia langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur tanpa melepas bajunya.
Alya kaget dan menghampiri Angga.
"Mas, kenapa."
Angga diam saja dan memejamkan kedua matanya, lengannya ia letakan di dahi.
"Mas..."
Angga hanya diam, Alya memegang dahinya dan merasakan badan Angga sedikit hangat.
"Astaghfirullahaladzim, Mas demam."
Angga masih diam saja, Alya segera mengganti bajunya dan keluar dari kamar.
Alya mencuci tangan dan kakinya kemudian mengambilkan makan untuk Angga supaya bisa minum obat.
"Angga mana Al." Tanya ibunya.
"Tiduran Bu, badannya agak demam."
"Kasih paracetamol."
"Iya Bu, ini Alya ambilkan makan dulu."
Alya masuk ke dalam kamar lagi dengan membawa makan siang dan juga minum untuk suaminya.
Alya mengusap lengan Angga yang masih memejamkan matanya.
"Mas, bangun Mas makan dulu terus minum obat."
Alya membujuknya dengan suara yang lembut.
"Hmmm... "
Hanya begitu saja suara Angga.
"Ma, bangun yuk makan dulu. Minum obat biar adem badannya."
Angga menggeliatkan badannya dan memijat keningnya yang terasa pening.
"Pusing Mas."
Alya mengusap rambut Angga.
"Hmmm..."
"Mas, bangun yuk makan dulu."
Angga membuka kedua matanya dan kemudian duduk di pinggir kasur.
"Minum dulu Mas."
Angga memberikan gelas yang berisi air putih dan Angga pun menerimanya.
"Makan ya Mas."
Alya rasanya sudah bingung, Angga diam saja dia jadi merasa bersalah kurang memperhatikannya.
"Huh..."
__ADS_1
Terdengar helaan nafas dari Angga yang terasa berat.
"Mau ke kamar mandi dulu."
Angga bangun dan melepaskan seragamnya Alya pun dengan cekatan menyiapkan baju ganti untuk Angga.
Angga mengenakan kaos yang di ambilkan oleh Alya dan kemudian keluar dari kamar menuju ke kamar mandi.
Alya terdiam di dalam kamar, rasanya mau nangis saja didiamkan sama Angga.
Angga kembali ke dalam kamar tanpa bicara apapun.
"Mas makan."
Angga duduk di depan Alya dan menyantap makanan yang telah disediakan oleh istrinya tanpa bicara.
"Mas ini obatnya, supaya demamnya mereda dan pusingnya hilang."
Angga masih makan saja tanpa bicara, baru setengah dari porsi yang diambilkan oleh Alya, Angga pun meletakkan piringnya.
"Nggak dihabisin Mas."
"Males pahit."
"Ya udah, minum obat ya Mas."
Alya memberikan obat kepada Angga dan segera diminum oleh suaminya itu.
" Lebih penting pekerjaannya ya daripada suaminya."
Ucap Angga setelah menelan obat itu dan merebahkan dirinya lagi di atas kasur.
Deg..
Jantung Alya rasanya tertusuk sakit dibilang seperti itulah Angga.
"Maafin Alya Mas."
Pelupuk mata Alya sudah terasa penuh, Dia membereskan peralatan makan Angga dan keluar dari kamar.
Alya merasa sudah berusaha menjadi istri yang baik tapi kenapa Angga bilang seperti itu. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran dia menangis didalam.
"Hiks..hiks...Alya mana tau Mas, kalau Mas Angga sakit. Alya juga nggak main tapi kerja Mas."
Alya meracau sendiri di dalam kamar mandi setelah merasa lega dia ke kamar kembali menengok suaminya.
Angga terlihat tidur, Alya tidak naik ke kasur dia menunggu di bawah duduk di lantai menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya ke bawah dan tak terasa
Angga sebenarnya juga belum terlelap sepenuhnya, Dia merasa Alya diam dan memilih pergi setelah dirinya berkata seperti itu. Dia membuka matanya dan mencari istrinya yang ternyata terduduk di lantai.
Angga bangun dan menghampiri istrinya ada rasa bersalah sudah berucap begitu.
"Sayang..."
Angga mengusap kepala Alya dan istrinya itu menengadahkan wajahnya yang terlihat sembab.
"Tidur sana yuk."
Angga meraih tangan Alya dan Mereka ke atas kasur.
"Maafin Alya Mas."
Angga memeluk Alya dan mendekapnya.
"Maafin Mas ya, temenin Mas tidur ya Sayang kepalanya pusing."
Alya menganggukkan kepalanya dan sesenggukan.
😉😉😉😉
__ADS_1