
"Bu Alya sakit."
Pesan itu masih belum di buka Alya, baru terdengar adzan Ashar Alya menggeliatkan badannya yang terasa lebih segar dari sebelumnya.
" Alhamdulillah, sudah agak enakan ini mata."
Alya duduk di samping ranjangnya kemudian mencari ponselnya yang masih berada di dalam tas semenjak dia pulang dari sekolahan tadi.
"Pak Angga."
Alya tersenyum mendapati ada notifikasi pesan dari Angga.
Alya membuka pesan itu dan senyumnya semakin sumringah dan lagi - lagi Angga perhatian dengannya.
"Matanya terasa pegal aja Pak."
Balasan itu ia kirim kemudian ponselnya ia letakkan di meja dan Alya ke kamar mandi segera membersihkan diri untuk melaksanakan shalat ashar .
Selesai sholat Alya melihat ponselnya kembali dan ternyata sudah ada balasan dari Angga.
"Jangan terlalu lama kalau memandang layar laptop. Mata juga butuh istirahat, badan juga jangan terlalu di paksa kalau sudah capek."
Alya bahagia mendapat perhatian seperti itu dari Angga tetapi dalam hatinya dia menunggu kepastian. Buat apa cuma perhatian-perhatian saja yang diberikan tanpa adanya status yang jelas antara mereka berdua.
"Kamu baik Pak Angga, tapi apa arti dari semua ini. Aku terlalu takut untuk berharap Pak."
Gumam Alya sendiri sambil memandangi layar ponselnya.
Alya menghela nafasnya dan mengetikkan balasan lagi kepada Angga.
"Ya Pak, makasih sudah mengingatkan."
Terdengarnya kaku tetapi Alya sengaja tidak membalas dengan kata-kata yang manja ataupun merasa kepedean kalau dia terlalu diperhatikan sama Angga.
Malam semakin menunjukkan dirinya dan matahari telah kembali ke peraduan.
Balasan Alya yang terakhir tadi belum juga di balas oleh Angga.
Ada rasa gusar juga di dalam hati Alya, apa kata-katanya terlalu kasar mengucapkan terima kasih pun tidak.
__ADS_1
Alya cuma tidak mau terlalu larut dalam perasaannya takut sakit karena harapannya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
๐น๐น๐น๐น๐น
Malam menjelang selesai makan malam Angga bersantai menonton televisi sambil mengamati ponselnya.
Angga mengerutkan dahinya begitu melihat balasan dari Alya yang baru ia buka.
"Apa Dia marah."
Dalam hati Angga sambil memahami kata-kata yang dikirimkan oleh Alya.
Angga menghela nafasnya dan menyandarkan dirinya di sofa.
"Biasanya santai balasannya kenapa ini terdengarnya serius dan kayak jengkel."
Angga larut dalam pikirannya sendiri.
"Sekarang bagaimana keadaannya Bu, apakah sudah membaik, sudah diperiksakan."
Angga mengetik pesan lagi dan mengirimkannya.
Lama sekali tak ada balasan hingga malam menjelang dan Angga sudah merasakan matanya mengantuk karena jam di dinding juga sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Angga bicara sendiri di dalam kamar sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan memainkan ponselnya.
Ting...
Terdengar nada notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Angga.
Wajahnya langsung sumringah serasa ngantuk nya sirna.
" Alhamdulillah Pak sudah mendingan, tadi sudah dikasih obat tetes mata hanya capek saja."
Angga menekan huruf-huruf yang ada di layar ponselnya untuk membalas lagi pesan dari Alya.
"Jam segini masih terjaga, apa mau lembur lagi lebih baik buat istirahat dulu jangan di paksa."
Angga masih setia menunggu balasan dari Alya.
__ADS_1
"Baru bangun tidur Pak, sekarang jadi kebiasaan habis maghrib jadi ngantuk."
Angga semakin sumringah, Alya masih mau bales pesannya.
"Berati Dia nggak marah ini."
Gumam Angga sendiri.
"Buat tidur lagi Bu, masih malam."
Kirim Angga lagi.
"Iya Pak, selamat malam."
Balasan dari Alya dan Angga juga sudah merasakan mengantuk.
"Malam juga, Selamat beristirahat."
๐น๐น๐น๐น๐น
Tapi sebenarnya berbeda dengan Angga, Alya masih terjaga malah tidak merasakan ngantuk sama sekali.
Alya merebahkan badannya namun matanya masih enggan untuk terpejam kembali.
"Aku bingung sama Pak Angga. Haruskah aku bahagia atau bersedih kalau seperti ini."
Alya larut dalam pikirannya.
Dia mengingat setiap perlakuan yang diberikan Angga kepadanya, jujur dia senang sekali diperhatikan seperti itu apalagi di suasana saat seperti Dia sangat membutuhkan seseorang yang selalu memberinya semangat untuk bisa segera menyelesaikan skripsinya agar targetnya untuk memakai toga tahun ini pun tercapai.
Rasanya sesak di dada menanti kepastian padahal nyatanya ada seseorang yang telah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya namun Dia tolak.
Alya menolak Adit karena saat itu memang telah tumbuh benih-benih cinta di dalam hatinya kepada seorang Angga.
Apalagi Angga seperti memberikan sinyal jika dirinya pun mempunyai rasa yang sama ini membuat Alya betapa bahagianya di dalam hati tapi setelah sekarang bisa dekat bahkan bisa dikatakan mereka seperti teman tapi mesra namun Angga belum juga memberikan kepastian kepada Alya.
Menunggu adalah hal yang membosankan, entah masihkah bisa bertahan Alya untuk menunggu kepastian dari Angga atau akan beralih ke lain hati.
๐ข๐ข๐ข๐ข๐ข
__ADS_1
...๐ฅณSelamat Tahun Baru 2022๐ฅณ...
Semoga di tahun yang baru ini kita bisa menjadi sosok pribadi yang lebih baik, โบโบโบโบโบ