DIARY ALYA

DIARY ALYA
124


__ADS_3

Alya menatap Angga begitu pula sebaliknya, kemudian Angga mulai menceritakannya.


"Mantan Mas kemarin menghubungi lagi dan minta balikan."


Ucapan Angga membuat Alya merasakan panas di dada, tetapi dia berusaha untuk menutupinya dengan tersenyum.


Alya masih diam saja, Dia ingin mendengarkan kelanjutan cerita dari Angga.


"Mas menolaknya, karena itu bukan yang pertama juga sebelum jadian sama kamu dia juga sudah pernah mengajak balikan."


"Kenapa Mas menolaknya."


"Mas sudah move on, dan gak mau mengulangi masa lalu."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia rasanya ingin sekali bertanya banyak tentang mantannya Angga itu tetapi Alya urungkan. Dia nggak mau nantinya malah menjadi pengganjal di dalam hubungan mereka.


"Kamu nggak mau tanya apa gitu Sayang." Malah Angga yang menawarkan kepada Alya jika ingin tahu sesuatu tentang dirinya atau mantannya.


"Tanya apa Mas."


"Ya mungkin gimana hubungan Mas dulu sama dia."


"Kalau Mas mau bercerita Alya bakalan dengerin, tapi Alya nggak mau mengorek masa lalu dari Mas Angga." Kata Alya sambil tersenyum.


"Kenapa begitu, biasanya kan cewek ingin tahu siapa mantan cowoknya, kenapa putus terus udah berapa mantannya. Kok kamu nggak tanya begitu, Sayang nggak cemburu mantan Mas minta balikan."


Alya malah terkekeh.


"He he he.. Kenapa Mas Angga berpikir seperti itu. Kalau disuruh jujur Alya juga cemburu mantan Mas Angga minta balikan itu berarti Mas Angga masih terindah di hati mantan Mas Angga. Tapi Alya apa harus marah-marah memperlihatkan cemburu itu."


Alya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak Mas, itu masa lalu Mas Angga biarlah masa lalu karena Alya juga punya masa lalu. Yang penting kita sekarang berdua jalan dan punya tujuan yang jelas gitu aja Mas." Angga mendengarkan setiap ucapan Alya.


"Dewasa juga Alya."


Dalam hati Angga.


"Misalkan, maaf ya Mas. Mas Angga masih ada rasa dengan mantan Mas Angga silakan aja lebih baik Alya yang mundur."


"Apa kamu nggak sayang sama Mas."


Alya tersenyum manis kepada Angga, dia akan berusaha bijak.


"Bukan berarti Alya yang nggak sayang sama Mas Angga tapi, Mas Angga sendiri yang tidak serius dengan Alya. Kalau nggak sayang sama Mas Angga nggak mungkin Alya mau jalan sama Mas Angga karena Alya sudah bilang nggak mau menyia-nyiakan sebuah hubungan lagi Mas, Alya pengen cari yang serius."


Angga menatap Alya tanpa berkedip, kemudian terbit senyuman di bibirnya.


"Maafin Mas ya Sayang."


Angga meraih tangan Alya yang berada di atas meja dan menggenggamnya.


"Kenapa minta maaf Mas."


"Mas malah mengira kamu enggak sayang sama Mas. Tapi ternyata malah kamu yang jauh lebih dewasa dibanding Mas."


"Sudah makan yuk, lapar. Dingin ini baksonya."


Alya melepaskan tangannya yang di genggam oleh Angga kemudian mengambilkan sendok dan garpu mengelapnya dengan tisu dan meletakkannya di mangkok milik Angga.


"Makasih Sayang."

__ADS_1


"Sama - sama, makan Mas biar kuat."


"Kuat apa." Angga menganggapnya serius.


"Kuat menghadapi kenyataan, ha ha ha.." Tawa Alya.


"Kamu ya, bikin gemes aja."


Mereka menghabiskan mangkok yang ada di hadapan masing-masing kemudian menenggak minuman dingin yang dapat menyegarkan tenggorokan mereka.


"Alhamdulillah."


Ucap Alya dan Angga terkekeh melihat kelakuan pacarnya itu.


"Kenapa Mas, ketawa mulu."


"Kamu itu lucu ya."


"Emang boneka apa."


"Iya boneka Ku, nggak boleh lucu di hadapan cowok lain ya."


"Mulai lagi, bikin lapar kalau mas bilang kayak gitu."


"Ha ha ha..." Tawa Angga.


"Mas udah sore, pulang ya."


"Pulang ke mana."


"Ya pulang ke rumah masing-masing, masa pulang ke rumah Mas Angga."


"Nggak papa ayo, ketemu sama bapak dan ibu."


"Ya nggak papa, Mas tunggu kamu siap."


"Makasih Mas."


Angga kemudian berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka dan Alya menunggunya sambil mengenakan jaket.


"Udah yuk pulang Sayang."


Angga meraih tangan Alya dan mengajaknya keluar. Jantung Alya rasanya mau copot digandeng begitu.


Sesampainya di depan Angga masih menggandeng tangan Alya.


"Kenapa."


Angga pura-pura tidak tahu karena Alya menggerakkan jarinya.


"Lepasin Mas, gimana naik motornya kalau kayak gini."


"He he he.. masih kangen."


"Ayo Mas pulang."


"Iya, bentar aja."


Angga malah menggenggam tangan Alya makin erat.


"Mas, Alya ditunggu sama ibu."

__ADS_1


"Iya, janji dulu hati - hati."


"Alya janji hati - hati, udah Mas sore ini."


Angga masih senyum-senyum aja dan menggenggam tangan Alya.


"Mas.."


"Bu Alya, Pak Angga."


seseorang yang turun dari sepeda motor sambil membawa seorang anak kecil menyapa mereka berdua.


"Bu Eni."


Angga dan Alya serempak dan Angga masih menggenggam tangan Alya.


Alya berusaha melepaskan genggaman tangan Angga namun tak bisa. Bu Eni pun melihat jika Angga menggenggam erat tangan Alya dan terbitlah senyum di bibirnya.


"Cie... Selamat ya Bu."


Alya langsung menarik tangannya dari tangan Angga.


"He he he.. "


Alya menampakan gigi putihnya saja nggak mungkin kan dia mau bilang mereka nggak ada apa-apa.


Angga pun hanya tersenyum saja.


"Semoga sampai ke jenjang serius."


"Aamiin Bu, makasih doanya."


Ucap Angga dan Alya hanya nyengir aja.


Angga sebenarnya sudah siap saja jika rekan-rekan guru mengetahui hubungan mereka berdua namun Alya lah yang masih belum siap.


"Ya udah saya masuk ya hati-hati kalau pulang."


"Ya Bu." ucap Angga dan Alya.


"Mas, Alya pulang ya."


"Bentar Sayang."


Angga meraih tangan Alya.


"Kita hadapi bersama jika besok pagi di sekolahan kita bakal viral." Ucap Angga.


"Alya akan persiapkan diri dulu Mas."


"Kamu yakin kan sama Mas."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan tangan Angga dan segera mengenakan helm.


"Mas iringi dari belakang ya."


"Iya Mas."


Sepeda motor mereka meninggalkan kedai bakso itu menuju ke rumah masing - masing karena memang searah Angga pun mengikutinya dari belakang.


"Kenapa coba harus ketemu Bu Eni, besok pagi gimana coba."

__ADS_1


Alya harga sepeda motornya sambil bergumam sendiri.


☺☺☺☺☺


__ADS_2