DIARY ALYA

DIARY ALYA
128


__ADS_3

Alya memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus guru, Dia melihat sepeda motor Angga sudah berada di sana namun yang biasanya dia berjaga di gerbang masuk kali ini tak ada.


"Mas Angga kemana."


Dalam hati Alya sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok Angga.


" Sepertinya dia menghindari ku, ya sudah ke lab aja langsung."


Alya kemudian berlalu dan langsung menuju ke lab.


"Mas Angga benar - benar marah sama aku."


Alya badannya terasa lemas dia pun duduk di kursi sambil melihat ponselnya mengecek beberapa pesan yang telah Ia kirimkan ke Angga dan sama sekali tak ada yang terkirim.


"Huukk.. huukk..."


Alya sesenggukan sendiri dan mengelap air matanya yang tak terasa jatuh begitu saja.


"Jangan nangis di sini Alya."


Dia menyemangati dirinya sendiri.


Bel masuk berbunyi dan siswa - siswi mulai masuk ke dalam lab.


Alya memulai pelajaran hari itu dengan badan yang kurang semangat.


Hingga akhirnya Bel istirahat pun berbunyi, dia setelah itu sudah tidak ada jam mengajar lagi dia ingin meneruskan programnya biar segera bisa menyelesaikan skripsinya dan mendaftar sidang.


Joko datang dan melihat Alya yang seperti kurang bersemangat hari itu.


"Al.."


"Iya, kenapa."


"Kamu sakit."


"Nggak." Alya menggelengkan kepalanya.


"Pucat wajah kamu."


"Capek aja, kurang tidur semalam menyelesaikan program tapi debug terus."


"Jangan terlalu dipaksakan, badannya kalau capek itu diistirahatkan nanti malah jatuh sakit."


"Iya.."


Alya fokus kembali ke laptopnya, seharian ini Dia menghabiskan waktu di dalam lab, keluar hanya untuk ke kamar mandi kemudian sholat juga dia memilih sholat di dalam lab karena akan menguras emosinya jika ketemu dengan Angga.


Waktu pulang telah tiba tapi ayah masih fokus aja dengan laptopnya, masih terdapat banyak sekali masalah di dalam program yang sedang dia buat.


"Hufftt..."


Alya menghela nafasnya dan terdengar keras sekali oleh Joko.


"Berat banget Al."


"He he he... Pusing aku Ko."


"Sudah istirahat dulu, nggak pulang kamu."


"Bentar ah... Kepala ku pusing mau istirahat sebentar dulu disini."


Alya mengambil ponselnya dan mengecek kembali apakah pesan yang sudah terkirim ke Angga.


Ternyata belum juga terkirim ke Angga itu tandanya Angga belum menyalakan ponselnya juga sampai saat ini.


"Kemana sih Mas."


Alya berujar di dalam hatinya.


Joko sebenarnya curiga jika Alya hari ini sedang berantem dengan Angga, karena biasanya Angga sering menyambanginya ke Lab tapi hari ini tidak sama sekali, dan tadi Joko ketemu Angga juga terlihat lesu dan lemas.


"Al.."

__ADS_1


"Hmmmm.. iya."


Alya mengangkat kepalanya yang tadi dia letakkan di atas meja.


"Pulang, kalau capek."


"Iya sebentar lagi."


Alya meletakkan kembali kepalanya di atas meja sambil menunduk karena kepalanya terasa pusing dan matanya terasa berat sekali.


"Aku duluan nggak papa Al."


"Nggak Ko, duluan aja nanti aku juga pulang."


"Oke, hati-hati kalau pulang. Apa kamu janjian sama Pak Angga."


"Nggak."


Alya menggelengkan kepalanya tanpa mengangkat kepalanya masih menunduk di atas meja.


Joko pun keluar dari dalam Lab dan berjalan menuju ke parkiran.


Sebelum sampai di parkiran dia dari jauh melihat Angga yang duduk di atas motornya dan mengamati sepeda motor Alya yang masih berada di sana.


Joko pun mendekatinya dan basa-basi pura-pura tidak tahu saja.


"Pak Angga."


"Eh, Pak Joko."


Angga menoleh ke belakang.


"Belum pulang Pak."


"Bentar lagi, Pak Joko sendirian."


"Iya, memang biasanya sendirian kan Pak."


Angga bertanya seperti itu supaya Joko menyinggung soal Alya.


"Nungguin..?"


Nada bicara Joko sebenarnya sudah menuju ke arah Alya.


"Nungguin siapa Pak."


Angga pura - pura tidak paham.


"Ah.. Pak Joko ini pura-pura aja tidak tahu, itu dia masih di dalam lab pucat banget wajahnya."


Kata Joko sambil naik ke atas motornya dan langsung mengenakan helmnya.


Ekspresi Angga rasa berubah begitu mendengar wajah Alya pucat.


"Apa benar dia pucat."


Dalam hati Angga bertanya-tanya sendiri.


"Dia sakit, apa aku terlalu egois."


Angga terlihat melamun sambil berbicara sendiri dalam hatinya.


"Pak Angga, kasihan Alya kayaknya lagi banyak banget beban pikirannya."


Kata Joko sebelum menjalankan sepeda motornya dan pergi meninggalkan parkiran.


Angga berpikir lagi, dengan keputusannya mengabaikan Alya dari kemarin.


"Aku egois ya, mengabaikan dia. Tapi dia juga tidak mau mengerti perasaan ku, malah mementingkan teman-temannya."


"Kalau Dia sakit gimana gara - gara aku."


Angga nampak gelisah dan mulai merasa bersalah telah mengacuhkan Alya dari kemarin karena Alya yang tidak mau main ke rumahnya dan memilih untuk main ke rumah temannya.

__ADS_1


Angga kemudian membuka tasnya dan mengambil ponselnya, Dia menekan tombol power dan menyalakan kembali ponselnya.


Ting....


ting ...


ting...


Banyak sekali notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya, terutama pesan dan panggilan dari Alya yang baru masuk semuanya ke dalam ponselnya.


Angga mulai membacanya satu persatu dan sekarang dia mengetahui kenapa Alya pergi ke rumah temannya, yang awalnya Angga berpikir Alya lebih mementingkan teman-temannya ternyata salah, Alya pergi ke sana itu untuk meminjam buku Silvi.


Angga langsung memasukan ponselnya ke saku dan berjalan dengan cepat ke lab tapi sebelumnya Dia membeli minuman di kantin.


Angga masih berdiri di pintu lab komputer, Dia melihat Alya yang menundukkan kepalanya di atas meja dengan laptop yang masih menyala.


Angga perlahan masuk ke dalam dan kemudian mengambil kursi dan meletakkannya di samping Alya dengan pelan - pelan.


Alya masih belum menyadarinya karena dia merasakan sangat berat untuk membuka kedua matanya apalagi dia habis menangis dan kepalanya terasa pusing.


Masih terdengar suara sesenggukan dari Alya karena habis menangis, Angga perlahan ingin menyentuh kepala Alya yang tertutup oleh hijab.


"Sayang... Ini Mas Sayang, bangun sayang."


Angga setelah mengusap kepala Alya yang menunduk di meja.


Alya perlahan menggerakkan kepalanya ke samping ingin melihat apakah benar itu suara Angga.


"Sayang."


Alya melihat Angga yang tersenyum disampingnya sambil mengusap kepalanya.


Alya mencoba mengangkat kepalanya dan mengusap sisa air mata yang ada di pipinya namun sudah terlihat jelas dari kedua mata Alya yang terlihat memerah habis menangis.


"Kamu sakit Sayang."


Alya menggelengkan kepalanya.


"Maafin Alya Mas."


Alya menunduk dan tak terasa air matanya jatuh lagi.


Angga meraih tangan Alya dan menggenggamnya.


"Maafin Mas juga, Mas egois menuruti emosi diri sendiri."


"Alya yang salah Mas, maafin Alya."


"Sudah Sayang, jangan nangis. Mas juga salah."


Angga perlahan mengusap air mata Alya dengan jempol tangannya yang membasahi pipi mulusnya.


"Mas sudah tahu setelah membaca pesan kamu. Mas kira kamu ke sana itu untuk main-main sama teman-teman kamu."


"Alya mau pinjam buku Mas, Alya udah kirim pesan ke Mas Angga tapi HP-nya mati."


"Maaf Sayang."


Angga membuka botol minum banyak dia beli tadi dan memberikannya kepada Alya.


"Minum dulu Sayang, wajah kamu pucat banget. Sudah makan belum tadi."


Alya menggelengkan kepalanya dan mengambil botol yang ada di tangan Angga dan menenggaknya.


"Makasih Mas."


"Kita cari makan ya."


Alya menganggukkan kepalanya.


😌😌😌😌😌😌


Damai itu indah 😆😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2