
Tak terasa sudah hampir setengah tahun Alya bekerja di pabrik dan semakin banyak orang yang di temui.
Alya di pindahkan dari bagian produksi saat awal dia masuk tetapi masih dalam satu bidang pekerjaan dan dia tetap dipercaya sebagai quality control.
Sekitar satu bulan yang lalu ada orang baru yang baru masuk di bagian produksinya dan di percaya sebagai mekanik tetapi dengan tetap masih di dampingi oleh seniornya.
Alya sebagai partner kerja kadang juga bertemu dengannya dalam satu shift. Singkat cerita dia bernama Tri dan menurut beberapa cewek karyawan lainnya dia termasuk memiliki postur tubuh yang menjadi idaman para wanita. Tinggi dan putih kita serta memiliki wajah yang lumayan tampan.
Banyak yang menyangka jika Alya ada hubungan dengannya namun, mereka hanya berteman kadang tak jarang juga para senior mereka menjodohkannya, hingga kadang membuat beberapa karyawan cewek yang masih muda di sana memandang sinis kearah Alya.
"Alya."
panggil Alya saat mereka akan istirahat.
"Ya Mas Tri, ada apa."
"Gimana udah oke kan warnanya."
dengan senyum khasnya, maklum biasalah kalau mekaniknya tidak sama Quality control nya bakalan jadi masalah.
"Kurang dikit aja merahnya. Istirahat dulu lah."
Alya menaruh pekerjaannya dan beranjak istirahat ke ruangannya.
"Oke."
Alya hanya menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan ruang produksi menuju ke ruangannya untuk beristirahat.
__ADS_1
Selesai istirahat dan tentunya sudah makan sekaligus melaksanakan kewajibannya kepada Sang Khalik dia kembali lagi ke ruang produksi yang menunggu dirinya untuk memutuskan supaya produksi bisa berjalan.
"Ini Al yang baru."
Tri sudah menunggunya dengan sampel baru yang akan dilakukan pengecekan oleh Alya.
Alya serius melakukan pekerjaannya dia tak mau melakukan kesalahan dan akibatnya akan sangat fatal.
"Oke..."
Mendengar komentar Alya, Tri tersenyum lebar dan langsung semangat menyuruh tim produksi mulai bekerja memproduksi produk hari itu.
Di sela bekerja Alya suka mengobrol santai dengan Tri karena pekerjaan mereka tidak terlalu berat yang penting tanggung jawabnya untuk memastikan produk yang sedang diproduksi benar-benar produk yang bagus.
"Al, katanya mau kuliah."
"Iya, tapi dimana ya Mas yang bisa sambil kerja. Aku kasihan sama kedua orang tuaku kalau harus menanggung semua biaya kuliah."
Kata Tri, yang sudah semester 3 di tahun ini.
"Bisa sambil kerja Mas."
Alya masih belum paham bagaimana nanti mengatur waktunya untuk kuliah dan bekerja.
"Bisa, nyatanya aku bisa kan. Ambil aja yang kelas karyawan kalau kamu di sini shift pagi kamu ambil kuliah malam kalau kamu shift malam ambil aja kuliah pagi." terang Tri.
"Kalau aku siang shift gimana."
__ADS_1
"Ya ambil kuliah pagi aja Al, kan masih bisa masuk kerja siangnya."
"Iya juga ya, Ya udah besok bawakan brosur nya dulu Mas mau konsultasi dulu sama orang tuaku."
"Oke, Semangat.."
Senyum Tri yang bikin jantung wanita mana pun bergetar.
"Manis banget senyumnya.."
batin Alya.
"Astaghfirullahaladzim."
Alya mengusap-usap dadanya mohon ampun.
"Kenapa Al."
Tri yang masih berdiri di dekatnya memandang Alya aneh.
"He he he.. nggak papa Mas."
Alya jadi kikuk sendiri.
Tri pergi meninggalkan Alya yang masih melakukan pekerjaannya dengan tersenyum lagi.
Itulah yang sering membuat orang salah paham dengan kedekatan Alya dan juga Tri di lokasi kerja karena mereka memang harus saling berkomunikasi untuk menghasilkan produk yang bagus.
__ADS_1
Kalau dari pribadi Alya dan Tri sendiri mereka profesional dalam bekerja, ada saatnya bercanda dan serius.
😁😁😁😁😁