
Dua hari kemudian Alya akhirnya bersama dengan Yuli mendaftarkan diri mereka ke kampus, untuk menjadi mahasiswa baru di tahun ajaran baru nantinya yang akan dibuka tiga bulan lagi.
Setelah melalui tahap seleksi dan juga memenuhi semua administrasinya akhirnya Alya sudah diterima menjadi mahasiswa di sana.
Alya memutuskan mengambil jurusan komputer bisnis dan Yuli mengambil jurusan komputer akuntansi. Sedangkan Tri yang sudah memasuki semester 4 dia mengambil jurusan desain grafis.
Setelah dari kampus Alya pulang ke rumah menceritakan kepada Ibu dan Bapaknya jika dia sudah diterima dan akan kuliah mulai 3 bulan lagi.
Pesan Ibu dan Bapaknya agar Alya serius dengan kuliahnya dan tetap bisa membagi waktunya kuliah sambil bekerja.
Ketiga sahabat Alya juga ikut senang mendengar kabar jika Alya sudah mendaftar kuliah walaupun bukan di kampus yang begitu favorit. Mereka saling mensuport apapun yang terbaik bagi sahabatnya.
Alya, Silvi, Ana dan Sifa weekend ini berencana kumpul bersama, Mereka sudah 1 bulan ini nggak kumpul, rasanya sudah rindu bercanda bersama dan saling mengejek satu sama lain.
Kali ini Alya, Ana dan Sifa tidak mau lagi kumpul dulu di rumah Silvi karena pasti dia akan lama dan masih mengerjakan pekerjaan rumah yang tak selesai - selesai.
Mereka membuat janji langsung bertemu di kedai mie ayam langganan mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Alya dan Ana sudah ada di lokasi menunggu Sifa yang katanya mau datang sama pacarnya.
"Kita kayak obat nyamuk ya An, si Sifa bawa pacarnya, Si Silvi mau bawa juga." ucap Alya sambil mengaduk es jeruknya.
"Kamu sama Aku aja Al.."
Ana melingkarkan tangannya di lengan Alya dan membuat Alya nyengir sambil memegang dahi Ana.
"Nggak Panas, kesambet ya."
"Enak aja."
Ana melepaskan tangannya.
"Ha ha ha.."
Kemudian datang Sifa yang beneran mengajak pacarnya yang dulu satu sekolahan juga sama mereka.
"Ehem...ehem...." dehem Ana.
"Apa sih Bebs..."
Sifa menyalami kedua sahabatnya dan cipika - cipiki lama tak bertemu.
"Apa kabar Ren."
tanya Ana pada pacar Sifa namanya Rendi.
"Ya begini lah, tambah subur."
"Ha ha ha... di pupuk ya sama Sifa." canda Ana dan mendapat pukulan dari Sifa.
__ADS_1
"Sembarangan kamu."
Rendi memang punya perawakan yang tinggi selain itu juga berisi badannya jadi terlihat gagah.
Diantara Mereka tempat memang paling laris itu Sifa selama di SMA, entah sudah berapa kali ganti pacarnya.
Tak lama kemudian datanglah Silvi bersama seorang cowok tapi bukan pacarnya.
" Assalamualaikum."
Dengan gaya centilnya Silvi menyalami semua orang.
"Waalaikumsalam."
"Lama amat, perut lapar nih."
Ana.
"Ya pesan - pesan."
Silvi mengambil duduk di tengah-tengah antara Ana dan Alya.
"Kamu ngapain sih itu ada kursi kosong." Alya merasa nggak nyaman di desak-desak oleh Silvi.
"He he he.. geser dong."
"Ini siapa nggak di kenalin."
"Masa nggak kenal kamu." Kata Silvi sambil mengambil sedotan dan menyeruput minuman Alya.
"Enak ya.." celetuk Alya.
"Segar he he he..."
Silvi mengusap tenggorokannya yang tadi terasa kering.
"Oh ya.. Kenalin itu Adit, sepupu Ku. Dia satu SMA lho dulu sama kita cuma dia IPS."
Kata Silvi yang memperkenalkan sepupunya itu, kalau Sifa sudah mengenalnya karena dulu dia juga satu SMP dengan Adit.
Sedangkan Alya dan juga Ana dan Rendi yang belum begitu mengenalnya.
"Pantesan kayak nggak asing wajahnya." kata Ana.
Kalau Alya memang sama sekali tidak mengenalnya maklumlah dulu Alya yang gak terlalu begitu gaul dengan anak-anak jurusan lain.
Kemudian pesanan mereka datang dan mereka bersama menikmati, Mie ayam dan Bakso yang di pesan.
"Setelah ini mau kemana." tanya Ana.
__ADS_1
"Ke rumah Alya yuk."
ucap Silvi.
"Mau ngapain."
Alya lagi kenapa harus ke rumahnya nggak ada rencana juga tadi setelah ini main ke rumahnya.
"Mau main aja, biasanya di tempatmu kan banyak buah kita rujakan yuk." rengek Silvi.
"Lagi enggak ada, cuma jambu aja yang lain beli dulu."
"Ayo.. kita ke pasar dulu deh baru setelah itu ke rumah kamu kita buat rujakan." Silvi semangat sekali.
"Ngidam kamu Sil." canda Sifa.
"Iya ngiler ini, nanti."
Silvi sambil bercanda sambil mengelus perutnya seakan hamil.
"Stres ini anak."
Ana memegang dahi Silvi.
"Enak aja kamu."
Silvi tak terima.
"Eh.. Dit, nggak papa ya habis ini main ke rumah Alya. Salah sendiri tadi mau ikut aku." ucap Silvi kepada Adit.
"Iya Mbak Nggak papa."
Adit memanggil Silvi dengan sebutan Mbak karena ibunya Adit itu adik dari ibunya Silvi.
"Oke.."
"Tapi Okta nggak marah kan, Mbak Silvi pergi sama aku."
Canda Adit, Okta itu pacarnya Silvi namun mereka jarang pergi bersama karena ibunya Silvi tidak begitu menyukainya.
"Nggak papa, aman dia."
"Kalau Okta orangnya nurut aja Dit, itu sepupu kamu yang pecicilan."
"Ha ha ha..."
Mereka tertawa senang mengerjai Silvi.
Selesai dari jajan bareng kemudian mereka pun akhirnya membeli buah-buahan dan jadi ke rumah Alya untuk membuat rujakan menuruti keinginan Silvi.
__ADS_1
☺☺☺☺☺