
Sebulan kemudian Mereka kembali lagi ke rumah sakit dan agenda kali ini pemeriksaan Angga.
Mereka telah bersiap untuk berangkat namun Alya malah duduk terdiam melamun di ruang tamu.
"Sayang."
Angga memanggilnya.
Alya masih diam terhanyut dalam pikirannya sendiri.
"Sayang."
Angga mendekatinya dan memegang pundaknya membuat Alya kaget.
"Eh... Ya Allah Mas bikin kaget Alya aja."
"Kamu kenapa."
Angga menatap wajah Alya yang kelihatan tak bersemangat.
"Nggak papa Mas, kita berangkat sekarang."
Alya akan beranjak berdiri namun di cegah oleh Angga dan memintanya duduk kembali.
"Sayang, kenapa. Hmmmm...."
Angga menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya dan menengadahkan wajah Alya menatap dirinya.
"Nggak papa Mas."
Kata Alya dengan tersenyum supaya suaminya tidak berpikiran yang aneh-aneh.
"Mikirin apa."
" Nggak ada kok Mas, kita berangkat sekarang yuk nanti keburu siang."
Alya mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kita nggak akan berangkat kalau kamu nggak mau jujur sama Mas."
Angga berkata dengan serius dan membuat Alya takut jika suaminya itu marah. Angga memang jarang marah tapi sekali marah menakutkan bagi Alya karena seram dan menakutkan.
Alya terdiam sambil menatap Angga.
"Mas ini suami kamu, kenapa sih kamu enggak mau cerita sama Mas."
Alya masih diam tapi sambil menahan air matanya dia pasti akan menangis jika Angga bicara dengan nada agak tinggi dan mengintrogasi.
"Sayang, kamu anggap Mas apa."
Alya langsung meleleh air matanya, bukannya dia tidak mau bicara tetapi Alya tidak mampu bicara untum mengungkapkannya kepada suaminya itu.
Angga menghela nafasnya, begitu melihat air mata Alya meleleh.
"Huffft.... Kenapa sih Sayang."
"Hiks...hiks..."
"Maaf, maafin Mas."
Angga akan merasa bersalah begitu melihat Alya menangis.
"Hiks...hiks... Mas..."
"Iya Sayang, jangan diam aja Mas nggak paham."
"Apa kita sudahi aja, sudah cukup Mas. Sekarangkan sudah ketahuan jika Alya yang bermasalah, jadi itu penyebab kita belum punya momongan."
Angga menggelengkan kepalanya.
"Kita lanjutkan Sayang, selama Mas masih mampu kita akan melanjutkan program hamil kita."
"Mas, biayanya mahal uangnya kan bisa untuk kita tabung."
"Sayang, buat apa sih punya uang banyak kalau rumah tangga kita masih sepi belum ada tangisan bayi."
__ADS_1
"Alya yang belum bisa hamil Mas."
"Sudah, yuk sekarang kita berangkat nanti malah kena macet kalau keburu siang."
Alya tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan suaminya. dia beranjak dari duduknya dan kemudian mengenakan jaket dan helm lalu mengikuti Angga keluar rumah.
Angga melihat helm Alya belum dikaitkan, Dia meraihnya sambil berkata.
"Bismillah Sayang, Semoga kita segera diberi momongan Kita sebagai manusia diwajibkan untuk berusaha dan serahkan semua hasilnya kepada Allah."
"Iya Mas."
"Jangan berpikiran yang aneh, Insya Allah rezeki akan datang dari mana saja tanpa kita sangka - sangka."
"Iya Mas."
Alya naik ke atas motor mengikuti Angga yang telah menyalakan mesin motornya.
"Sudah Sayang."
"Iya Mas."
Sepeda motor melaju meninggalkan rumah menuju ke arah kota. Perjalanan cukup padat karena pagi pasti berbarengan dengan jam kantor.
Hampir sekitar satu jam perjalanan sepeda motor Angga telah terparkir di rumah sakit.
Mereka berdua masuk ke dalam setelah memastikan sepeda motor mereka telah terkunci dan aman.
Di depan ruangan sudah ada suster untuk melakukan reservasi, dengan menunjukan buku pemeriksaan suster sudah paham apa yang harus dia lakukan dengan membaca dari tulisan dokter.
Angga di arahkan ke sebuah ruang dan diminta untuk mengeluarkannya dan kemudian akan dilakukan pemeriksaan di laboratorium.
Setelah berhasil mengeluarkan, Mereka berdua menunggu hasil lab setelah itu akan bertemu dengan dokter untuk menerima penjelasan.
🙏🙏🙏🙏🙏
Mulai UP lagi nih.. Mana dukungannya 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1