DIARY ALYA

DIARY ALYA
45


__ADS_3

"Sepatu baru Al."


Ibunya bertanya kepada Alya saat melihat sepatu itu di taruh di rak sepatu.


Alya tersenyum, dalam hati ingin cerita tapi takut kalau dimarahin ibunya.


"Di kasih Buk."


Ibunya mengerutkan dahinya.


"Dikasih siapa Al."


"Temen."


Ibunya Alya nggak mungkin percaya begitu saja mana ada teman membelikan sepatu bagus begitu.


"Temen...?."


Ibunya minta penjelasan Alya.


"Pacarnya kali Buk. Ini sepatu bagus mahal Buk."


Ikhsan yang berada di rumah ikut nimbrung membuatnya Alya mendelik.


Ibunya tersenyum saja, bukannya Ibunya tidak tahu tetapi ingin mendengar Arya bilang sendiri.


"Sok tau."


"Iya lah Buk, masa cuma teman aja memberi sepatu sebagus ini Buk."


"Mbak Alya punya pacar nggak dikenalin Ibu."


Ibunya coba memancing Alya supaya bercerita.


Alya masih ragu ingin bercerita takut kalau dilarang sama ibunya punya pacar.


"Emang Alya boleh punya pacar Buk."


"Bukan boleh atau tidak Al, tetapi Ibu ingin kamu terbuka sama ibu biar Ibu bisa mengawasi pergaulan kamu. Ibu tau kamu sudah dewasa dan masanya mengenal cinta lawan jenis tapi pesan ibu yang selektif jangan sembarang menerima laki - laki."


"Kita perempuan jangan gampangan jatuh cinta sama laki - laki, nanti ujung - ujungnya sakit hati." nasehat Ibunya.


"Iya bu, Dia teman Alya kerja dan Dia kuliah juga."


"Rumahnya mana."


"Rumahnya daerah X, Buk."


Ibunya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Usianya terpaut 4 tahunan Buk sama Alya."


"Udah dewasa Dia Al."


"Iya Buk, dulu kerja di luar kota sekarang balik ke kotanya dan kerja di pabrik. Dia juga yang kemarin kasih info kuliah sama Alya, Dia udah semester 5 ini Buk."


Ibunya menganggukkan kepalanya.


"Soal sepatu itu, Kamu di belikan Dia, siapa namanya."


"Tri Buk namanya, Ia Alya dibelikan kemarin Alya udah nolak tapi tetap suruh pakai."


"Terima aja mbak bagus."


Ikhsan nyela terus.

__ADS_1


"Boleh menerima barang pemberian dari pacar tapi jangan terlalu sering Al dan lihat juga harganya laki-laki biasanya nggak gratis memberikan sesuatu. Ibu hanya mengingatkan kamu saja yang berhati-hati walaupun sudah kenal dekat."


"Iya Buk, Dia kemarin bilang mau main ke sini boleh enggak."


"Boleh, main boleh tapi jangan sering-sering ibu malu sama tetangga anak gadis Ibu dikunjungi sama laki-laki terus yang belum ada hubungan."


"Iya Buk, Alya tahu."


"Mbak, kenalin pacarnya."


Ikhsan mendekat ke Ibunya untuk berpamitan balik ke pondok.


"Kepo."


"Siapa tahu Ikhsan lihat di jalan dia jalan sama cewek kan Ikhsan bisa kasih tahu sama Mbak Alya."


Alibi Ikhsan yang suka menggoda Mbaknya.


"Rese kamu San."


"Kan perlu waspada Mbak."


"Heleh... "


Alya meninggalkan Ibu dan Ikhsan menuju ke kamarnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Tri menikmati sore hari dengan bercanda dengan keponakannya di depan rumah.


"Sepatu baru lagi Mas."


ledek adiknya Rima namanya yang hanya terpaut 2 tahun dengannya.


"Iya, kenapa pingin ya."


Rima kepo karena Dia pernah melihat sepatu model itu dan sepatu itu ada couple nya.


"Sok tau, kalau couple kenapa."


"Mana yang ceweknya, nggak mungkin kan Mas Beli cuman yang cowok aja."


"Ya mungkin aja lah, aku beli yang cowoknya aja, emang kenapa."


"Ha.... jangan - jangan beli couple sama ceweknya ini."


Rima menelisiknya mencari kebenaran jika Kakaknya pasti punya pacar lagi setelah putus dari pacarnya yang di luar kota itu.


"Kepo, kamu."


"Pacarnya orang mana Mas, cantik nggak."


Rima mendekati kakaknya itu dan berbisik.


"Apa sih Dek, naik motor aja yuk. kita tinggalin itu tante kamu yang kepo ."


Tri memilih pergi dan mengajak keponakannya untuk jalan-jalan naik sepeda motor.


"Hu.. kabur..."


ledek Rima.


Hari berganti malam Tri setelah sholat maghrib makan bersama keluarganya kemudian selesai makan memilih menonton televisi ada sepak bola kesukaannya.


"Mas.."

__ADS_1


"Apa sih Dek."


"Remote, gantian."


"Nggak ada kamu nonton dikamar sana aja."


"Nggak seru, antenanya enggak jelas. Lagian ini kan malam minggu nggak ngapel."


Rima mulai lagi isengnya.


"Kamu sendiri nggak ada yang ngapelin."


"Kerja dia, lembur.."


"Kasihan ha ha ha..."


"Mas, gantian lah."


"Enggak ada."


Ayahnya yang melihat mereka berdua geleng-geleng kepala saja sudah sama-sama dewasa tetapi kalau lagi kumpul kayak anak kecil semua.


"Mas.."


"Hemmm.... pinjam hp nya kalau gitu."


"Enggak ada, sana ah ganggu aja."


Kemudian nada notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Tri.


"Cie.. Sayang..."


Rima melihat sebuah pesan yang masuk kedalam ponsel kakaknya yang tertulis sayang pengirimnya.


"Apaan sih, kepo."


Tri membuka ponselnya dan menutupi dari adiknya.


"Sana telepon dulu, gantian aku mau nonton sinetron."


Rima mengambil Remote tv karena Tri beranjak menuju ke teras depan ingin menelpon kekasih hatinya.


"Waalaikumsalam Sayang. Lagi apa."


Suara Tri terdengar lembut menjawab salam dari Alya.


Rima yang kepo bukannya menonton sinetron yang ingin ditontonnya tadi malah nguping kakaknya yang sedang teleponan dengan Alya dari ruang tamu.


"Ngapain Rima."


tanya Ibunya.


"Susstt.. Itu Mas lagi telepon pacarnya Mah."


"Kamu itu kurang kerjaan aja nanti Mas Mu bisa marah kalau tahu, udah sana nonton tv aja."


"Mamah nggak asyik, aku kepo Mah siapa sekarang pacarnya Mas. Apalagi habis beli sepatu baru pasti samaan sama pacarnya."


"Udah biarin aja, Mas mu beli pakai uangnya sendiri dia kerja, biarin aja lah."


"Rima waspada aja Mah, siapa siapa tahu ceweknya kayak kemarin cuma mau uangnya aja jadi mas Tri."


"Kamu itu su'udzon mulu."


"he he he..."

__ADS_1


😁😁😁😁😁


__ADS_2