DIARY ALYA

DIARY ALYA
84


__ADS_3

"Al.."


Ana yang menyetir memanggil Alya yang di belakang membonceng dirinya.


"Kenapa An."


"Adit sepertinya suka sama kamu."


"Uhuuukkk..."


Alya batuk seketika.


"Kelihatan tau Al, kamu nggak rasa apa."


"He he he.. nggak tau. Udah belok itu jangan bicara terus."


Mereka berhenti di depan kafe tempat nongkrong anak-anak muda menghabiskan waktu liburan.


Suasana liburan jadi tempatnya begitu rame hingga susah mencari tempat duduk namun untungnya masih ada.


"Itu kosong."


tunjuk Adit.


"Yuk ke sana."


Silvi menggandeng Alya dan di ikuti yang lainnya.


Mereka memesan beberapa menu untuk di santap bersama, sembari menunggu pesanan mereka ngobrol santai aja.


Silvi menyenggol Adit untuk mulai bicara kepada Alya.


Adit menatapnya, dalam hatinya bingung mau bicara apa.


"Al, masih liburan."


Adit mulai bicara.


Silvi tersenyum dan Dia mendekat ke Ana supaya mereka berdua bicara, kalau Shifa sudah asyik sama pacarnya.


"Besok udah masuk Dit, udah 2 minggu liburnya."


Adit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sudah semester berapa kuliahnya."


"Ini semester 7."


"Bentar lagi ya wisuda."


"Aamiin, Insya Allah."


Obrolan mereka berhenti saat pesanan datang.


"Yuk makan dulu."


Silvi memulainya.


Mereka semua menyantap menu yang sudah terhidang di atas meja bersama.


Tak terasa hari semakin siang dan Mereka memilih untuk pulang cuaca juga sudah mendung.


Saat di parkiran Adit mendekati Alya atas desakan Silvi dan Ana.


"Al..."

__ADS_1


"Iya Dit, kenapa."


"Aku mau tanya sesuatu boleh."


"Boleh Dit, tanya apa."


Alya bersiap mengenakan helm.


"Kamu sudah ada pasangan."


Alya terdiam dan menatap ke arah Adit, kemudian melihat ke arah ketiga sahabatnya yang seolah pura - pura tak mendengar percakapan mereka.


"Pasangan gimana Dit."


Alya bukannya tak paham tapi ingin menegaskan saja apa yang dimaksud Adit.


"Ya pasangan, pacar atau mungkin lagi dekat dengan seseorang."


Alya tersenyum,


"Emang kenapa Dit."


"Ya mungkin kalau belum ada aku masih punya kesempatan untuk mendekati kamu."


Kata Adit sambil tersenyum menatap Alya.


Alya terdiam dan kemudian menjawab apa yang Adit tanyakan.


"Gini Dit, maaf ya sebelumnya saat ini aku mau konsen dulu sama kuliah aku. Bukan berati aku tidak membuka hati ku tapi memang lebih baik sepertinya kita berteman saja."


Kata Alya dengan halus takut menyinggung perasaan Adit.


Adit tersenyum walaupun di dalam hati ada rasa kecewa belum juga nembak sudah ditolak.. (Eyaaaa.. kayak lagu aja.) 😁😁😁😁


"Iya Al nggak papa."


Silvi melihat raut wajah Adit yang berubah dia langsung mendekati mereka berdua.


"Pulang yuk, mau hujan nih."


"Ayo, An aku bonceng."


Alya menggerakkan kedua alisnya.


"Enak aja kamu yang di depan, tadi kan berangkatnya udah aku yang nyetir."


Ana langsung duduk di belakang.


"Ya udah."


Alya duduk di depan menyalakan mesin motor dan kemudian menjalankannya menuju ke rumah Silvi karena sepeda motor Ana ditinggal di sana.


"Adit ngomong apa tadi Al."


Ana pura-pura nggak tahu.


" nggak usah pura-pura kamu nggak tahu, pasti kamu sama Silvi sekongkol."


"Sekongkol buat apaan."


"Udah lah, aku sama Adit temenan aja."


" Belum nembak udah kamu tolak Al, wah udah hebat kamu Al kayak pencipta lagu aja ha ha ha.."


Ana ketawa sendiri hingga membuat motor lain yang persimpangan menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


"Pelan suara kamu, malu itu diliatin orang-orang."


"Ha ha ha...


Kan helm Ku nggak tembus jadi Dia enggak lihat wajah ku kali."


"Aku cuma enggak mau ngasih harapan aja An sama Adit jujur aku nggak ada rasa sama dia."


" Sebenarnya Adit juga sudah pernah mendekati ku dulu saat aku dekat sama itu yang udah jadi mantan."


Lanjut Alya yang membuat Ana kaget karena baru tahu ternyata Adit sudah pernah mendekati sahabatnya itu.


"Wah.. Kejam kamu Al."


" Terserah mau dibilang kejam nyatanya aku nggak ada rasa sama dia."


"Kamu punya cowok."


"He he he... nggak ada juga sih An. Ada sih yang sepertinya ada yang mau mendekat tapi suka bikin gemas ngapain juga dia ngirimin messenger padahal dia punya nomor aku itu di grup."


Mereka bercerita sepanjang jalan hingga kadang di klakson oleh orang.


"Teman kuliah apa teman kerja."


"Teman kerja, tapi enggak tahu deh An takut juga berharap."


"Semoga saja jodoh, kalau memang dia untuk kamu enggak akan kemana-mana."


"He he he.. tapi aku nggak enak ya sama Silvi kalau Adit cerita sama dia."


"Ya nggak papa, perasaan kan bisa dipaksakan Al."


Tak terasa sudah sampai di depan rumah Silvi, Ana dan Alya pun segera berpamitan dengan kedua orang tua Silvi untuk pulang ke rumah.


Adit masih ada di sana juga tapi Alya dan Ana memilih untuk langsung pulang saja.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Hai.. apa kabar, Selamat tahun baru ya."


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Angga.


Angga pagi itu tidak kemana-mana hanya di rumah saja karena semalam habis nongkrong dengan teman-temannya menghabiskan malam tahun baru.


Dia mengambil ponselnya dan mengintip notifikasi yang masuk tertera sebuah nama di sana yang mengirimkan pesan "Tiara."


Sang mantan yang harus berpisah dengan dirinya dikarenakan jarak yang memisahkan mereka dan juga faktor orang tua yang sama-sama menginginkan anak-anaknya untuk tetap tinggal di kota mereka.


"Tiara."


Ucap Angga lirih karena dia masih mengucek kedua matanya bangun tidur.


Angga duduk dan membuka pesan yang dikirimkan oleh Tiara.


"Baik, gimana kabar kamu."


balas Angga.


"Alhamdulillah baik juga, udah menikah belum."


Balasan dari Tiara seperti menohok jantung Angga.


"Belum, kamu sudah mau menikah."


Tanya Angga.

__ADS_1


"Belum, aku masih belum bisa melupakan kamu."


Jreng.... 😝😝😝😝😝


__ADS_2