
Hari berganti hari, kemarin hari terakhir Alya bekerja. Dia berpamitan dengan semua rekan kerjanya yang hampir 3 tahun ini menemani hari-harinya dan sangat membantu dirinya.
Alya berterima kasih kepada semuanya, dan berharap semoga komunikasi mereka tidak putus.
Yuli teman sehari-hari Alya di pabrik, malah sudah duluan keluar kerja karena memang kontraknya yang juga sudah habis dan sekarang fokus kuliah.
Pagi ini Alya duduk santai di rumah tiba - tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk.
"Mang Ahsan."
Katanya, saat melihat ponselnya dan tertera nama Mang Ahsan di panggilan masuk itu.
" Assalamualaikum."
Ucap Alya setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya ke arah atas.
" Waalaikumsalam."
terdengar jawaban salam di seberang teleponnya.
"Ada apa Mang."
"Kangen."
Begitu jawaban Mang Ahsan membuat Alya serasa mau muntah.
"Kangen sama pacarnya, kenapa telepon Alya."
"Kan pacar aku yang ngucapin salam tadi."
"Udah Mang, nggak usah ngelantur ada apa pagi-pagi sudah telepon."
Alya lama-lama merasa bosan terlalu manis ucapannya.
"Jutek amat Mbak, nggak kerja ya kok pagi-pagi di rumah."
begitu kebiasaan Mang Ahsan kalau tidak diladeni dia manggil lagi mbak, tapi Alya malah merasa lebih nyaman begitu.
__ADS_1
"Pengangguran Mang, nggak kerja."
Balasan Alya.
"Enak dong Mbak sekarang, nggak sibuk banget."
balasan Mang Ahsan, dan Alya sudah malas untuk membalas lagi.
Alya meletakkan ponselnya dan kemudian berlalu menuju ke dapur membantu ibunya mempersiapkan makan siang.
Setelah sore hari Alya bersiap untuk berangkat ke kampus karena dia ada jam kuliah sore.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah orang tua Angga sudah ramai menjelang pernikahan adik semata wayangnya besok pagi yang akan melaksanakan ijab dan resepsi di rumah.
"Ga.."
Panggil Om nya.
"Iya Om."
"Kapan kamu nyusul, hmmm."
Kata Om nya sambil menepuk pundak keponakannya itu yang mempunyai tinggi hampir sama dengan dirinya.
"He he he.. doa kan ya Om."
Kekeh Angga.
"Kerja sudah, umur juga sudah cukup wajah juga nggak jelek-jelek amat masa nggak ada calon ini."
Ledek Om Tirto adik dari ayahnya Angga.
"Om bisa aja, belum ada jodohnya Om."
"Jodoh itu di kejar jangan diam aja mana ada wanita mendekat sendiri."
__ADS_1
"He he he... nanti Om, fokus kerja dulu."
"Jangan nanti - nanti, entar baru sadar kalau umur sudah lanjut. Nikah muda aja biar nanti seperti kakak adik sama anaknya ha ha ha..."
Tawa Om nya.
"Doakan Om segera ketemu jodohnya."
"Pasti kalau itu. "
Kata Om nya sambil menepuk - nepuk pundak Angga.
Malam semakin larut Angga masih berjaga bersama tetangga dan juga keluarga.
Besok dia juga ijin tidak masuk kerja karena ini acara penting adiknya, sekaligus ada adat langkahan yang harus dilaluinya.
"Ga."
Panggil tetangganya yang sekaligus kawannya.
"Iya Pri."
"Di tanyakan Susi terus itu, katanya sekarang kamu kerja dimana."
"Susi teman SMP kita itu."
"Iya Susi mana lagi kalau tidak dia, yang ngejar kamu dari dulu."
"Kamu Pri, aku anggap dia teman aja nggak lebih."
"Itu kamu, tapi dia itu suka sama kamu dari dulu."
"Biarin aja, aku nggak bisa anggap dia lebih."
Katanya dengan tersenyum.
Susi anaknya centil hingga membuat Angga nggak ada rasa sama sekali sama dirinya.
__ADS_1
Angga suka dengan perempuan yang kalem dan cenderung diam penurut.
☺☺☺☺