
Tibalah hari di mana Alya akan pindah bersama dengan suaminya mereka memutuskan untuk hidup mandiri.
Sesuai tradisi yang ada di daerah Alya mereka akan diantar oleh sanak saudara menuju ke tempat tinggal baru yang akan mereka tempati.
Alya sudah mengemasi semua barang yang ingin dia bawa namun masih ada beberapa baju yang ia tinggal supaya nanti kalau ke rumah Ibunya sudah ada baju ganti begitu saran Angga.
"Sayang."
Angga mendekati istrinya yang duduk di tepi tempat tidur yang biasa iya tempati dan terlihat wajahnya yang sendu namun masih menampakan senyumnya.
"Iya Mas."
Alya tersenyum menatap suaminya.
Angga meraih tubuh Alya dan membawanya kedalam pelukannya. Tak terelakkan lagi air mata Alya tumpah di dada sang suami yang sejak tadi sudah ia tahan.
Dia membiarkan Alya menangis di pelukannya supaya lega istrinya itu yang terlihat menahan sedihnya dan berusaha selalu tegar untuk terlihat baik - baik saja di depan mereka semua.
"Menangis lah Sayang, tapi jangan lama - lama. Kita harus berangkat, kita akan memulai membangun keluarga kecil kita sendiri."
Dengan lembut Angga mengusap kepala Alya yang tertutup hijab dan mencium pucuk kepalanya.
Semakin lama Alya bisa tenang dan mengangkat kepalanya, Angga mengusap air mata yang membasahi pipinya dan tersenyum.
"Maafin Alya Mas."
"Nggak papa Sayang, Mas ngerti kamu pasti berat meninggalkan rumah ini yang sejak kecil kamu huni, banyak kenangan semasa kecil tercipta disini."
"Alya hanya merasa kangen aja Mas nantinya."
"Kita akan kesini Sayang kalau libur, Kita bisa menginap di sini."
__ADS_1
"Iya Mas."
Kemudian pintu kamar mereka di ketuk.
"Alya.. Angga ayo keluar."
Suara Kakak sepupunya Alya memanggil.
"Iya Mbak." Jawab Alya dari dalam kamar.
"Ayo Sayang, sudah siap semua kan."
"Iya Mas."
"Jangan sedih, Mas nggak bermaksud memisahkan kamu dengan keluarga kamu Sayang tapi Mas ingin membangun keluarga kecil kita."
"Iya Mas, Alya paham dan sudah memantapkan hati bersama Mas Angga."
Angga mencium kening Alya dan kemudian mereka berdua keluar dari kamar karen sudah di tunggu saudara - saudara yang akan mengantarnya.
Setelah doa dipanjatkan Mereka pun bersiap dan kendaraan mulai melaju meninggalkan rumah kedua orang tua Alya menuju ke rumah Angga.
Setelah menempuh perjalanan akhirnya rombongan mereka telah sampai di kediaman kedua orang tua Angga.
Prosesi pindah tempat tinggal dilaksanakan dengan doa yang dipanjatkan oleh seorang pemangku agama dan diaminkan semuanya, semoga kelak kehidupan keluarga mereka selalu diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari segala marabahaya.
Setelah acara makan bersama akhirnya rombongan keluarga kedua orang tua Alya pamit untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Alya menatap mereka semua dengan perasaan sedih namun lagi - lagi ia masih bisa tersenyum supaya mereka semua juga senang melihat kebahagiaan Alya.
Kendaraan perlahan meninggalkan rumah Angga meninggalkan Alya yang ini akan hidup dengan keluarga barunya.
__ADS_1
Angga merangkul pundak Alya dan mengusapnya sambil tersenyum. Alya pun sebaliknya ikut menunjukan senyumnya kepada Suaminya.
"Semua akan baik - baik saja Sayang."
"Iya Mas."
Angga mengajak Alya masuk ke dalam rumah setelah rombongan mereka tak terlihat lagi.
"Alya makan dulu, tadi belum makan kan." Kata ibu mertuanya yang juga sangat baik sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
"Iya Bu nanti Alya makan, masih kenyang."
Angga mendekatinya dia membawa piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.
"Makan dulu, tadi di rumah juga makan sedikit."
"Alya kenyang Mas."
"Mas suapin ya.. A..."
Angga menyendok nasi untuk menyuapi Alya.
"Alya makan sendiri Mas."
Angga tersenyum dan menemani Alya makan.
"Biar sehat makan yang banyak."
Angga mengusap perut Alya dan membuatnya merasa bersalah di usia pernikahan mereka yang sudah 3 bulan belum juga diberi kepercayaan untuk hamil.
😥😥😥😥😥
__ADS_1