DIARY ALYA

DIARY ALYA
181


__ADS_3

Esok harinya Alya dan Angga sudah bersiap berangkat ke sekolahan dan setelah berpamitan dengan kedua orang tua Alya, Mereka berangkat menunaikan tugas.


Angga berencana akan bicara dengan kedua orang tua Alya nanti sore saat mereka berkumpul karena saat ini Bapaknya Alya juga berangkat bekerja.


Sesampainya di sekolahan mereka beraktivitas seperti biasa Angga dengan kesibukannya begitu pula dengan Alya.


Hingga tak terasa waktunya pulang pun telah tiba, Angga sudah menghampiri istrinya di ruang kerjanya.


"Sudah selesai, Sayang."


Angga masuk ke dalam lab dan hanya menemukan istrinya sendirian.


"Sudah Mas, ayo kita pulang."


"Yuk Sayang."


Angga meraih tangan Alya dan membawanya keluar.


"Mau makan dulu Sayang."


Tanya Angga saat mereka berjalan melewati lorong sekolah dan menuju ke parkiran.


"Alya pingin soto Mas, boleh."


Katanya sambil tersenyum ke arah Angga.


"Boleh Sayang."


Angga mengusap kepala Alya dan mereka berdua menuju ke parkiran.


Sepeda motor Angga meninggalkan area sekolahan dan menuju ke sebuah warung soto yang terkenal di kota itu.


Angga meraih tangan Alya dan mengajaknya masuk ke dalam kedai tersebut setelah memarkirkan sepeda motornya dengan sempurna.


"Soto 2 Pak, sama es jeruk 2." Pesan Angga dan mereka betulan menunggu pesanan dengan duduk di tempat yang telah disediakan.


"Sayang, Mas nanti sore mau bicara dengan Bapak dan Ibu tentang rencana kita tinggal di kota Mas."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tetapi di dalam hatinya masih ada rasa takut membuat kecewa ibunya.


"Iya Mas, Alya ikut Mas."


"Kamu beneran kan sudah mau pindah bersama Mas."


"Iya Mas." Kata Alya sambil tersenyum.

__ADS_1


kemudian pesanan mereka pun datang dan siap untuk disantap.


Selesai menghabiskan makanannya Alya dan Angga meninggalkan warung tersebut setelah membayar pesanan mereka.


Sesampainya di rumah Angga memarkirkan sepeda motornya di teras dan mereka berdua pun mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar setelah menyapa Ibunya Alya.


Angga mengganti bajunya dengan baju ganti yang telah di siapkan oleh Alya dan Alya sendiri sudah keluar dari kamar untuk menuju ke kamar mandi.


Setelah itu Mereka memilih beristirahat dan tidur siang di dalam kamar berdua.


Adzan Ashar membangunkan Alya, dia pun membuka kedua matanya dan melihat ke samping suaminya masih tidur terlelap.


Alya bangun saja tanpa membangunkan suaminya itu kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah dari kamar mandi Alya kembali lagi ke kamar ingin melaksanakan sholat Ashar, Dia mendapati suaminya itu belum juga terbangun dan akhirnya ia pun menggelar sajadahnya dan sholat sendiri karena dia ingin segera membantu Ibunya memasak.


Selesai sholat Alya mendapati Angga sudah bangun dan bersandar di tempat tidur sambil memandang dirinya.


"Sayang, kenapa nggak bangunin Mas."


Alya mendekati suaminya dan meraih tangannya kemudian mencium punggung tangannya, Angga pun mengecup kening sang istri yang masih mengenakan mukena itu.


"Mas tidurnya lelap banget Alya nggak tega. Mandi Mas, Alya mau bantuin ibu masak."


Alya membereskan peralatan sholatnya kemudian menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


"Ini bajunya, Alya ke dapur ya."


Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia memandangi tubuh Alya yang menghilang keluar dari kamar.


Alya menuju ke dapur untuk membantu ibunya memasak mempersiapkan makan malam untuk keluarga mereka.


Hingga sore makin menghilang dan sebentar lagi akan tergantikan oleh malam, Mereka bersantai menikmati sore itu dengan bercengkrama bersama.


"Pak, Bu. Maaf Angga ingin meminta waktu sebentar untuk berbicara."


Bapaknya Alya dan Ibunya kemudian serius memandang ke arah Angga. Alya hanya diam saja dan mendengarkan suaminya yang akan bicara dengan kedua orang tuanya.


"Iya Angga, mau bicara apa."


Kata Bapaknya Alya.


"Begini Pak, sebelumnya Angga minta maaf jika nanti keputusan Angga mungkin membuat hati Bapak dan Ibu tidak terima."


"Maksudnya gimana Angga, Bapak nggak paham."

__ADS_1


Angga membenarkan duduknya dan siap berbicara.


"Saya dan Dik Alya sudah berdiskusi dan kami memutuskan untuk tinggal di kota saya bersama dengan kedua orang tua saya, Alya tanggung jawab Angga Pak dan Angga akan berusaha selalu memenuhi apa yang dibutuhkan oleh Alya dan juga keluarga kita nanti."


Bapaknya Alya tersenyum namun berbeda dengan Ibunya dan langsung terlihat sedih akan ditinggalkan oleh anak perempuan satu-satunya.


Alya menangkap raut kesedihan di wajah ibunya itu dia pun mendekat dan memeluknya.


"Maafin Alya Bu, Alya harus ikut suami Alya, hikss...hiksss..."


Air mata Mereka tumpah tak terelakkan lagi mereka berdua menangis.


"Hiks...Hiks.... Kenapa mendadak Alya." Ucap ibunya.


"Maafin Alya Bu, ini tidak mendadak karena Alya sudah membicarakannya dengan Mas Angga."


"Bu, nggak baik begitu. Alya sekarang itu tanggung jawabnya Angga jadi biarkan saja lah mereka berdua mandiri dan memutuskan apa yang terbaik untuk keluarga mereka ke depannya. Kita sebagai orang tua mendoakan saja untuk kebahagiaan keluarga anak kita." Kata Bapaknya Alya.


"Maafkan Angga ya Bu, Angga tidak bermaksud untuk memisahkan Alya dengan Ibu dan Bapak tetapi disini Angga ingin bertanggung jawab dengan keluarga kita."


"Angga, Bapak hanya memberi pesan selalu jaga keluarga kamu sebagai kepala rumah tangga kamu harus bisa memberi contoh yang baik, mengayomi dan melindungi keluarga kamu. Istri dan anak-anak mu adalah tanggung jawab mu yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat."


"Iya Pak, Insya Allah nggak akan selalu berusaha menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab."


"Kalau libur ke sini ya Al."


Ibunya Alya masih terlihat mengusap air matanya merasakan sesak di dada Putri kesayangannya akan dibawa bersama suaminya. Walaupun tidak jauh jarak kota mereka berdua tetapi namanya seorang Ibu pasti merasa kehilangan dengan sosok anak perempuannya.


"Iya Bu, kalau libur Alya dan Mas Angga akan ke sini."


"Kami akan meluangkan Bu, untuk berkunjung ke sini." Kata Angga dan Ibunya Alya bisa tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.


"Maafkan Alya ya Bu."


Alya meraih tangan Ibunya dan mencium punggung tangannya.


"Berbakti kepada suami Mu Alya, melayani dengan sepenuh hati dan jangan membuat laki-laki itu mencari kepuasan di luar rumah."


"Iya Bu, Alya akan ingat itu."


Sore itu terasa haru kedua adik Alya pun juga mengetahui jika nantinya Kakak perempuan Mereka akan ikut dengan suaminya.


☺☺☺☺☺☺☺


jangan lupa tinggalin jejaknya ya Readersss 🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2