DIARY ALYA

DIARY ALYA
132


__ADS_3

Hari - hari Alya masih sibuk menyelesaikan skripsi sekaligus produk akhirnya yang menjadi syarat kelulusannya.


Angga sebagai pacarnya selalu memberikan semangat walaupun dia tidak bisa membantu apa-apa, seenggaknya bisa memberikan motivasi untuk Alya.


"Mas, udah pusing kepala Ku."


Alya rasanya mau menyerah untuk menyelesaikan produk akhir karena dari kemarin ada suatu masalah yang belum bisa diselesaikan.


"Istirahat dulu Sayang."


Angga kali ini menemani Alya mengerjakan produknya di sebuah taman biar fresh pikirannya karena di alam terbuka.


"Ini makanan kesukaan kamu, dimakan dulu Sayang."


Angga memesankan batagor.


"Makasih Mas."


Angga mengambil laptop Alya dan menutupnya dulu, supaya pacarnya menikmati makannya.


"Mas nggak makan."


Alya melihat Angga masih mendiamkan makanannya.


"Nanti, Mas lihat kamu makan enak banget."


Alya tersenyum kemudian menyendok batagornya mengarahkannya ke Angga.


"A..."


Angga langsung membuka mulutnya dan menyambar sendok itu.


"Mas... "


"Enak banget Sayang disuapin sama kamu." Angga sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Di telan dulu baru bicara."


Angga tersenyum saja dan mengusap kepala Alya yang tertutup hijab.


"Lagi."


Angga menganggukkan kepalanya.


"A..."


Angga membuka mulutnya kembali dan menyambar sendok yang disuap kan oleh Alya.


"Lagi Mas."


"Udah ah, kan kamu yang lapar."


Alya menyantap batagornya lagi hingga habis begitu pula dengan Angga.


"Mas."


"Hmmm..."


Angga dehem aja sambil meminum es jeruk di depannya.


"Alya capek, pulang yuk."


"Panas Sayang, nanti agak sorean dikit ya."


"Ngantuk."


"Ke masjid yuk kita belum sholat dhuhur."


Alya menganggukkan kepalanya kemudian membereskan laptop dan bukunya.


"Yuk Sayang."


Angga meraih tangan Alya dan membawakan tasnya yang berisi laptop.


"Mas, Alya aja yang bawa."


"Berat, yuk."


Angga menggenggam tangan Alya membawanya menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motor.


Sepeda motor Angga melaju meninggalkan taman tersebut menuju ke sebuah masjid terdekat dari situ.


Sesampainya di sana Angga dan Alya terpisah, Angga menuju ke area khusus laki-laki dan Alya menuju ke khusus area perempuan untuk melaksanakan kewajiban mereka.


Setelah selesai menjalankan kewajiban Mereka bertemu di area taman masjid.

__ADS_1


"Mas, pulang yuk."


"Beneran mau pulang."


"Heem."


Alya menganggukkan kepalanya dan memasang muka memelas, Dia memang sudah merasakan capek sekali otaknya serasa di peras.


"Oke."


Mereka menuju ke parkiran, Angga kemudian melajukan sepeda motornya meninggalkan area masjid.


Baru berjalan sebentar Angga merasa Alya mengantuk karena kepalanya sudah bersandar di punggungnya.


"Sayang, ngantuk."


"Hemm..."


"Tidur aja, Mas pelan - pelan kok."


Alya menganggukkan kepalanya dan dia tertidur dipunggung Angga sambil memeluk perutnya.


"Tidurlah Sayang."


Angga mengusap tangan Alya yang berada di perutnya.


Sebelum sampai di rumah Alya sudah terbangun, walaupun hanya memejamkan mata sebentar sudah membuatnya agak fresh.


"Mas."


"Iya, kenapa."


"Beli es itu."


"Jangan minum es dulu, badan kamu itu capek nanti malah drop lagi."


"Bukan buat Alya, buat Dani sama Ikhsan."


"Bener ya nanti kalau di rumah kamu jangan minum."


"Iya."


Angga memberhentikan sepeda motornya Kemudian Alya turun dan membelikan es kesukaan Dani dan Ikhsan.


"Wah, enak nih."


Dani semangat sekali melihat es itu.


"Apa Dan."


"Wah, sering - sering ya Kak."


"Kesenangan kalian itu, tiap pergi bawain oleh-oleh. "


"Mas Angga kan baik."


Puji Dani.


"Malu ah Dan, jangan seperti itu." Ibunya mengingatkan tidak enak juga sering dibawa bawain Angga jika ke sana.


"Iya Bu, Dani juga nggak minta."


"Enak ya Dan, kasih dikit dong."


"Nih... Dikit aja."


Dani memberikan es yang dia minum ke Alya.


"Kak Alya kok nggak beli sendiri."


"Nggak boleh sama Mas Angga."


Alya keterusan lupa pesan Angga.


"Udah Kak."


"He he he..."


Alya kemudian menuju ke kamarnya ingin beristirahat.


Hari berganti sore, Alya merasakan tenggorokannya tidak enak dan badan terasa lemas dan agak demam.


" Astagfirullah.. Aku kenapa ini. Apa gara - gara minum es tadi ya."


Alya merasakan tenggorokannya sepertinya mau radang. Dia keluar dari kamar untuk mencari Dani meminta tolong yang untuk memberikan larutan.

__ADS_1


"Dan."


"Napa."


"Tolong belikan larutan, Ini uangnya sisanya buat jajan kamu aja."


"Oke."


Alya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya segera melaksanakan sholat Ashar.


Setelah selesai Dia menuju ke dapur untuk membantu ibunya sambil membawa larutan yang sudah dibelikan oleh Dani tadi.


"Kenapa minum itu Al."


" Tenggorokan Alya nggak enak Bu, rasanya mau radang."


"Gara - gara minum es tadi itu kamu, udah tahu badannya capek ditambah cuaca panas kayak gini kami minum es."


"Iya kali Bu, tadi sudah dilarang sama Mas Angga malah pingin lihat Dani minum es kelihatan seger banget."


"Nanti di marahin Angga rasain kamu."


"Jangan bilang Bu."


"Ha ha ha.. Tau Al, urus sendiri."


Alya membayangkan saja ngeri, Angga kalau sudah ngomel nggak berhenti - berhenti.


"Kamu sama Angga rencananya gimana, kalau dia sering ke sini ibu juga lama-lama malu Al sama tetangga. Anak gadis Ibu sudah sering dikunjungi laki-laki."


"Alya juga belum tau Bu, tapi Mas Angga katanya mau ajak serius."


"Tapi kamu ingat pesan Ibu kan Alya. Wisuda dulu baru boleh menikah."


"Iya Bu, Alya ingat. Mas Angga juga sudah Alya kasih tahu dan dia katanya mau nunggu."


"Ya udah Al, di seriusin kamu mau laki-laki yang seperti apalagi. Angga baik kelihatannya, Dia juga bertanggungjawab."


"Alya mau lebih mengenal dulu Bu."


"Iya sembari nunggu kamu wisuda, kalian bisa saling kenal dulu tapi ingat Al, saat kalian masih pacaran sama sesudah menikah itu akan beda baru akan kelihatan sifat aslinya setelah menikah." Pesan Ibunya.


"Iya Bu."


Alya merenungkan ucapan ibunya memang Dia kalau Angga masih kelihatan baiknya, ya jeleknya dia suka ngambek nggak jelas aja.


Hari berganti malam, Alya merasakan tenggorokannya semakin sakit dan badannya menjadi demam.


Angga belum tahu karena terakhir mengirimkan pesan tadi waktu dia memberi kabar kalau sudah sampai rumah.


Alya beristirahat di kamarnya dia sama sekali tidak punya tenaga dan rasanya sangat malas sekali untuk membuka laptop kembali.


dret...dret...


Ponsel Alya bergetar dan nampak Angga yang video call.


"Aduh.. Mateng aku."


Alya menepuk jidatnya sendiri.


" Assalamualaikum Mas."


Alya menjawab video call dari Angga setelah menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya.


" Waalaikumsalam, lagi ngapain Sayang begadang."


Nampak wajah Angga yang tersenyum sambil merapikan rambutnya.


"Nggak Mas, mau istirahat lagi buntu ini."


"Kamu sakit ya, mukanya merah gitu. Demam."


Angga memperhatikan wajah Alya.


"Capek aja Mas."


"Uhukk..uhuk..."


Alya malah batuk lagi.


"Kamu bohong ya, sakit kamu itu. Tadi minum sama makan apa. Atau jangan-jangan kamu ikutan minum es ya sama Dani."


Derrr... Angga langsung menebaknya, muka Alya langsing kelimpungan..


🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2