
"Mau kemana Sayang."
Tanya Angga saat mulai menjalankan sepeda motornya.
"Nggak tau Mas."
"Jalan aja dulu ya, nanti kalau kamu mau apa bilang ya."
"Iya Mas."
Angga menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, Dia sengaja agar bisa lebih lama bersama dengan Alya.
Angga meraih tangan Alya yang sejak tadi hanya berada di atas lututnya sendiri dan melingkarkan nya di perutnya.
Alya sontak kaget dan akan menarik tangannya kembali namun digenggam oleh Angga.
" Yang satu mau di lingkarkan sendiri atau Mas."
Kata Angga dan membuat Alya melingkarkan tangannya ke perut Angga.
Angga tersenyum senang namun Alya tak melihatnya karena dia di belakang.
Alya sendiri juga tersenyum dan merasakan debaran jantungnya semakin cepat.
"Jangan di lepas ya, kecuali kalau turun." Kata Angga dan Alya mengangguk saja.
Alya jadi teringat Mereka berantem kemarin membuatnya benar - benar menguras emosinya, hingga dia tak bisa tidur.
Angga terus menjalankan sepeda motornya menuju ke pusat keramaian kota.
"Sayang, mau kemana ini."
Tanya Angga.
"Nongkrong aja dulu di situ Mas."
"Oke."
Angga menepikan sepeda motornya dan memarkirkannya setelah itu menggandeng tangan Alya untuk berjalan - jalan melihat keramaian.
"Mas, beli minum haus."
Angga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dua Pak."
Angga mengeluarkan uang untuk membayar minuman Mereka.
"Mas, Alya nggak enak Mas Angga terus yang bayarin."
"Nggak papa, yuk duduk sana."
Angga benar - benar romantis menggandeng tangan Alya lagi menuju ke kursi yang terlihat kosong.
"Ini Sayang."
Angga memberikan botol minum yang dia pegang dan sudah membukakan tutupnya untuk Alya.
"Makasih Mas."
"Ya itu bawa sini."
Alya memberikan botol minum yang dia bawa kepada Angga.
Alya menegak minuman itu begitu pula dengan Angga.
"Mau makan." Tawar Angga.
"Masih kenyang Mas, tadi barusan aja makan di rumah."
"Tapi Mas lapar."
"Mas belum makan."
Angga menggelengkan kepalanya, "Sengaja mau makan sama kamu."
"Ya udah yuk, Mas mau makan apa."
"Yuk ikut Mas."
Angga menggandeng tangan Alya kembali dan Mereka berjalan menyusuri trotoar melihat beberapa penjual makanan yang berjajar rapi.
Alya merasakan bahagia sekali, Angga sama sekali tidak melepaskan genggamannya malah semakin erat saja.
"Makan nasi goreng aja ya."
Kata Angga.
"Oke."
"Kamu makan lagi ya."
Alya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mau.
"Ya udah satu untuk berdua."
__ADS_1
"Nanti Mas nggak kenyang."
"Tenang aja, nanti makan lagi."
Angga memesan memesan nasi goreng satu porsi aja, kemudian mengambil kursi plastik yang ada di dekat penjual itu buat Alya dan dirinya.
"Duduk, capek."
"Mas nanti lesehan situ aja ya."
"Iya tapi masih penuh itu."
"Nunggu Mas."
"Iya.."
Angga meraih tangan Alya dan menggenggamnya lagi, membuat Alya rasanya benar-benar mau lepas itu jantung dari tempatnya.
"Sayang, makasih ya."
"Buat apa Mas."
"Makasih sudah menemani hari-hari Mas, semoga kita selalu bahagia dan Mas mau bersama kamu terus sampai tua nanti."
Alya tersenyum.
"Mas masih ingatkan, kalau Alya boleh menikah sama orang tua Alya kalau sudah lulus kuliah."
"Mas akan nunggu kamu Sayang, kan bentar lagi."
Angga tersenyum dan menunjukkan gigi putihnya.
"Alya belum wisuda Mas."
"Ya habis wisuda nggak papa."
"Mas sabar nunggu."
"Sabar Sayang."
Angga mencubit hidung Alya.
"Sakit.."
Alya mengusap - usap hidungnya.
Pesanan Mereka datang dan tempat lesehan sudah ada yang kosong, Angga membawa Alya ke sana untuk menikmati makan malamnya.
Angga lahap sekali menyantap nasi goreng itu, dan Alya tersenyum melihatnya.
Angga meminta Alya membuka mulutnya.
"Nggak Mas, Alya kenyang."
"Sekali ini, A... Sayang buka mulutnya."
Alya pun membuka mulutnya dan Angga menyuapinya.
"Pinter."
Angga mengusap kepala Alya dan tersenyum.
"Udah Mas, habisin Mas Angga aja."
"Lagi dong, A.. "
Alya mengerucutkan bibirnya dan Angga malah terkekeh.
"Jangan manyun gitu, Mas jadi gemes sama kamu, A.. Sayang."
Alya membuka mulutnya kembali dan Angga menyuapinya.
"Enak Kan."
"Udah Mas, kenyang ini."
"Ya udah, Mas habisin sendiri ini."
Alya menganggukkan kepalanya dan menyeruput minuman yang ada di depannya.
Alya mengambil ponselnya dan ingin memotret Angga yang lahap sekali makan nasi gorengnya.
"Ayo mau ngapain."
Angga meliriknya.
"He he he... Nggak papa Mas."
"Mau foto ya."
"Boleh kan Mas."
"Boleh, tapi jangan pas jelek begini dong, lagi makan di foto nanti foto sama Mas."
Angga meraih ponsel Alya dan memasukkannya ke sakunya.
__ADS_1
"Mas, ponselnya."
"Nanti Sayang."
Angga menghabiskan nasi gorengnya dan di akhiri dengan menghabiskan minuman yang ada di gelas.
"Mas, lapar apa doyan."
"Dua - duanya."
Angga mencubit hidung Alya yang terlihat menggemaskan baginya kemudian berdiri untuk membayar makanannya tadi.
"Makasih Mas."
Ucap penjual nasi goreng itu.
"Mau kemana lagi Sayang."
Angga meraih tangan Alya dan menggandengnya lagi, berjalan menyusuri trotoar menikmati keramaian malam itu.
"Mas."
"Hmmm, kenapa."
Angga menatap Alya yang ada di sampingnya.
"HP."
Alya menengadahkan tangannya.
"Mau buat apa."
"Foto."
"Oke, kita ke sana."
Angga membawa Alya yang menurut dia spot nya lebih bagus untuk berfoto.
Ponsel di keluarkan dari saku celana Angga
"Yuk foto."
Angga membuka hp Alya dan mempersiapkan kameranya.
"Cantiknya."
Muka Alya langsung bersemu merah mendapat pujian dari Angga dan dia senyum - senyum sendiri.
"Sayang."
Angga memasukan memasukan ponsel Alya ke dalam sakunya lagi kemudian meraih kedua tangan Alya.
"Iya Mas."
Angga menatap Alya begitu pula sebaliknya.
"I Love You."
Alya tersenyum malu dan membuang mukanya.
"Di jawab dong."
"Jawab apa "
"Alya..."
"He he he.." Alya meringis aja.
"I Love You."
sekali lagi Angga mengatakan itu.
"Love you too Mas."
Alya menengadahkan wajahnya memandang Angga yang memang lebih tinggi dari dirinya.
Alya malah takut Angga semakin mendekatkan dirinya.
"Kita pulang yuk Mas."
Alya menarik tangan Angga, dan Angga pun tertawa puas sambil mengusap kepala Alya.
"Sayang nggak mau kemana lagi gitu."
Alya menggelengkan kepalanya.
"Pulang ya Mas."
"Oke."
"Dia mikir yang aneh pasti."
Dalam hati Angga.
🤣🤣🤣🤣🤣...
__ADS_1
Maaf ya baru di UP sekarang, sisa malam mingguannya tadi malam... 😀😀😀😀