
Hari ini Alya libur dan Angga yang berangkat bekerja, setelah mengantar suaminya sampai ke teras Alya masuk lagi ke dalam rumah.
Dia di rumah bersama ibunya, sedangkan kedua adiknya sudah berangkat sekolah dan Bapaknya bekerja.
Alya duduk di depan televisi dan mencari siaran yang ia sukai, ibunya ada di belakang sedang mencuci.
Alya terlihat sedang asyik menyaksikan tontonan televisi tetapi sebenarnya di sedang berpikir.
"Apa memang sebaiknya aku tinggal di rumah Mas Angga aja ya, sifat Mas Angga yang pencemburu dan mudah marah mungkin akan mudah ditaklukkan jika di sana karena dekat dengan orang tuanya."
Alya berbicara sendiri di dalam hati tapi kedua manik nya menyaksikan siaran televisi.
"Tapi Ibu nanti gimana, marah nggak ya."
"Aku merasa capek dengan sifat Mas Angga yang mudah banget marah nggak jelas seenggaknya kan kalau di sana ada kedua orang tuanya yang sudah paham dengan sifat Mas Angga."
"Aku harus bicara pelan-pelan dengan ibu, supaya Ibu memahaminya."
Terdengar ponsel Alya berbunyi dan ternyata suaminya yang mengirimkan pesan jika dia sudah sampai.
Alya beranjak ke belakang mengambil minum tapi ibunya memanggil.
"Al."
"Iya Bu."
Alya menghampiri ibunya.
"Suami mu apa marah sama kamu."
Alya terdiam mendengar ibunya bertanya seperti itu.
"Biasa Bu, salah paham aja. Sudah baikan kok."
"Kamu jangan bantah suami, kalau marah udah diam aja."
__ADS_1
"Iya Bu."
Rasanya Alya ingin bicara soal tinggal dimana mereka tetapi ia urungkan.
"Kamu sudah bicara sama Angga."
"Bicara soal apa Bu."
"Kalian jadinya mau tinggal di mana."
Alya terdiam rasanya mulutnya kelu untuk ngomong alangkah baiknya mereka tinggal di rumah kedua orang tua Angga.
"Buat di sini, kalau Bapaknya Angga mau kasih rumah dibangun aja disini."
"Kita disuruh nempatin rumah yang ada di sana Bu."
Ibunya Alya nampak jelas sekali kaget mendengar Alya bicara begitu.
"Apa rumahnya di bawa ke sini aja dibangun di sini."
"Ibu berharap kalian bisa tinggal di sini saja."
Alya terdiam tak bisa ngomong untuk bilang kalau Dia mau di sana karena sifat suaminya yang mudah sekali marah.
"Alya ikut Mas Angga, enaknya gimana Bu."
"Ya sudah, di ajak ngomong aja Angga."
"Iya Bu."
"Ibu belum tahu gimana sifat Mas Angga, bisa pusing ini kepala Alya." Dalam hati Alya.
Setelah berbicara dengan ibunya itu Alya memilih masuk ke dalam kamar, Dia nggak mau kalau sampai keceplosan dengan ibunya.
Hingga adzan dhuhur berkumandang, Alya keluar dari kamar menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu melaksanakan salat Dhuhur.
__ADS_1
Tak lama setelah selesai sholat Alya mendengar sepeda motor yang berhenti di depan rumah itu pasti suaminya sudah pulang dari bekerja, Dia mengambil jilbabnya dan keluar untuk menyambut kedatangan sang suami tercinta.
"Mas..."
Alya tersenyum manis dan Angga pun begitu.
"Assalamualaikum." Ucap Angga.
" Waalaikumsalam."
Jawab Alya sambil meraih tangan suaminya itu dan mencium punggung tangannya.
"Masuk yuk Mas."
Alya meminta tas Angga dan membawanya, Mereka masuk ke dalam kamar.
"Udah makan belum Mas."
"Belum Sayang, mau makan sama kamu."
"Ya udah Mas ganti baju dulu Alya siapin makan siangnya dan Alya tunggu di meja makan."
"Iya Sayang."
Alya memberikan baju ganti kepada Angga dan kemudian keluar dari kamar untuk mempersiapkan makan siangnya.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi Angga keluar dan menuju ke meja makan dan siap bersantap siang bersama istrinya.
Setelah menyelesaikan makan siang hari tak lupa Alya mengupas buah dan menyajikannya di depan Angga.
"Silahkan Mas."
"Makasih ya Sayang."
😌😌😌😌😌
__ADS_1