DIARY ALYA

DIARY ALYA
152


__ADS_3

Esok harinya Alya berangkat bekerja menggunakan sepeda motor sendiri dan sesampainya di depan gerbang sekolahan dia sudah melihat Angga yang berdiri di sana menertibkan siswanya.


Angga tersenyum pada kekasih hatinya itu begitu pula dengan Alya.


Setelah memarkirkan sepeda motornya Alya langsung menuju ke lab komputer karena ada jam mengajar.


Setelah bel berbunyi Angga masuk ke dalam sekolahan dan meminta security-nya untuk mengunci gerbang, agar siswa yang terlambat tidak bisa masuk dan akan berurusan dengannya.


"Di kunci ya Pak, nanti dibuka lima menit kemudian dan semua dibariskan di lapangan saya tunggu di sana."


"Baik Pak Angga."


Angga meninggalkan gerbang dan menuju ke ruangannya, namun saat melintas di depan lab komputer dia pasti menengok untuk hanya sekedar melihat aktivitas Alya karena pintunya terbuat dari kaca.


Pas Angga menoleh, Alya juga pas menengok ke arah pintu, mereka saling melempar senyum dan kemudian Angga akan berlalu menuju ke ruangannya.


Bel istirahat berbunyi Alya masih berada di lab sedang beristirahat, ada Joko juga di sana.


"Assalamualaikum."


terdengar suara seorang laki-laki yang masuk dan mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam."


Jawab Alya dan Joko.


"Pak Angga, masuk Pak."


Joko menengok ke arah pintu dan ternyata Angga yang datang.


Angga masuk ke dalam dan Alya pun tersenyum ke arahnya.


"Pak Joko."


"Duduk Pak sini, mau minum apa. Al buatin minum." Pinta Joko.


"Air putih aja Dik."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian mengambilkan minum untuk Angga dan meletakkannya di depannya.


"Ini Mas."


"Makasih."


"Mau bicara ya sama Alya."


"Ah.. Enggak Pak, mau main aja."


Kata Angga sambil melirik Alya, memang sebenarnya ia ingin bicara sesuatu tapi ada Joko nggak mungkin lah dia mengatakannya.


"Oh.. Kirain mau ngomong sama Alya."


Angga tersenyum saja, mereka ngobrol bareng membicarakan banyak hal.


Hingga termasuk berbunyi Angga keluar dari lab komputer itu, menuju ke ruangannya.


Sesampainya di ruangannya Angga mengetikkan pesan dan dikirimkan kepada Alya.


"Sayang, nanti pulang ikut Mas ya."


Pesan telah terkirim ke nomer Ponsel Alya namun belum dibukanya karena dia sedang mengajar.


Selesai mengajar Alya baru membuka ponselnya dan mendapat pesan dari Angga.


"Mau ngajak kemana Mas Angga." Alya berucap sendiri sambil mengetik pesan balasan untuk Angga.


"Kemana Mas."


Pesan tersampaikan sudah dibaca namun tidak dibalas oleh Angga.


"Kok nggak di balas."


Alya berbicara sendiri.


"Siapa yang nggak balas."


tiba-tiba terdengar suara Angga di pintu.

__ADS_1


"Mas Angga bikin kaget aja."


Angga tersenyum aja melihat Alya yang cemberut.


"Nggak usah manyun gitu."


"Emang mau kemana sih Mas."


"Nanti cari cincin ya."


Ucap Angga dan sontak membuat Alya hanya melongo.


"Kenapa diam begitu, disuruh Ibu untuk cari cincin." Ucap Angga enteng.


"Mas.."


"Hmmm, kenapa Sayang."


Katanya lembut sekali untung tidak ada orang di sana cuman mereka berdua.


"Mas udah yakin sama Alya."


Alya memandang ke arah Angga dan hanya mendapatkan senyuman.


"Kalau Mas nggak yakin, kenapa Mas ngomong sama ibu dan bapak kamu."


Alya tersenyum, namun jujur di dalam hatinya kaget secepat itu Angga langsung mengajaknya mencari cincin.


"Nanti Mas jemput ke sini, masker ruangan dulu ya."


Alya menganggukkan kepalanya saja sambil melihat tubuh Angga yang meninggalkan lab.


"Cari cincin."


Alya terduduk dan bengong sendiri rasanya kayak mimpi.


Tak terasa waktu pulang telah tiba, seperti pesan Angga Alya pun menunggunya di lab.


"Assalamualaikum."


Suara Angga mengagetkan Alya.


Jawab Alya dan Joko.


"Pulang Pak Joko."


"Iya Pak Angga, duluan aja masih panas."


Alya menggendong tasnya dan mendekati Angga.


"Jadi Mas."


"Iya jadi dong."


"Pak Joko duluan ya."


Pamit mereka berdua.


"Oke, hati - hati."


Alya dan Angga berjalan bersama menuju ke arah parkiran.


"Cari kemana Sayang."


"Alya nggak tau Mas, daerah sini."


"Kemarin Mas dikasih tahu sama Ibu katanya ada tempat yang bagus di sini mencari cincin."


"Iya Alya ikut aja Mas."


Mereka mengendarai sepeda motor masing-masing dana Alya mengikuti Angga yang tahu tempatnya.


Sesampainya di tempat itu Angga mendekati Alya dan menggandeng tangannya masuk ke dalam untuk memilih cincin.


"Selamat siang Kak, ada yang bisa kami bantu." Sapa pegawai di sana.


"Siang Mbak, Kami mau mencari cincin untuk pernikahan Mbak." Kata Angga.

__ADS_1


"Baik, mari ikut Saya akan kami tunjukkan koleksi yang ada di sini."


Mereka berdua mengikuti pegawai itu dan kemudian diperlihatkan beberapa macam dan bentuk cincin pernikahan yang mereka jual.


"Silahkan dipilih Kak."


"Sayang mau yang mana."


Angga akan menyerahkan sepenuhnya kepada Alya untuk memilih sendiri.


"Mas Angga suka yang mana."


"Sayang, Mas ikut kamu aja. Kamu pilih yang mana yang kamu suka."


"Beneran Alya yang milih."


"Iya Sayang, kan nanti yang pakai cincin itu kamu."


Alya mengedarkan pandangannya untuk melihat beberapa cincin yang ada di hadapannya, dia mencari bentuk cincin yang bentuknya unik dan tak banyak orang yang punya.


"Itu boleh nggak Mas."


Alya menuju sebuah cincin yang unik dengan motif menyerupai daun dan ada tiga permata kecil sebagai hiasannya.


"Kamu suka itu Sayang, nggak suka yang ini."


Angga menuju sebuah cincin yang berbentuk bulat begitu saja yang kebanyakan dipakai untuk pernikahan.


"Mau yang itu."


"Ya udah ambil Sayang."


Kata Angga sambil tersenyum.


"Bolehkan Mas."


"Boleh Sayang, selama kamu suka boleh - boleh saja."


Karyawannya tadi mengambilkan cincin yang Alya maksud dan mencoba mengenakan di jarinya.


"Bagus nggak Mas."


"Cantik Sayang, seperti yang pakai." Alya tersipu malu mendapat pujian begitu.


"Ini aja Mbak."


"Oke."


"Sama cari kalung Sayang."


"Kalung Mas."


Alya kaget ternyata sama dibelikan kalung juga.


"Iya, pilih yang kamu suka sayang."


Alya memilih sebuah kalung yang terlihat cantik dan memiliki sebuah bandul.


"Itu Mas "


Setelah mencobanya Angga setuju saja karena terlihat cocok banget di leher Alya.


Angga segera membayarnya dan meminta cincin itu ditempatkan di sebuah wadah yang cantik.


"Ini Mas bawa pulang dulu ya, nanti Mas kasih kalau lamaran."


"Iya Mas."


"Besok kan libur Sayang, kita cari seserahan ya."


"Cari seserahan Mas."


"Iya."


Kata Angga sambil tersenyum dan mengusap kepala Alya.


"Memangnya mau lamaran kapan." Alya berbicara sendiri di dalam hatinya dia tak berani bertanya sama Angga.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2