DIARY ALYA

DIARY ALYA
23


__ADS_3

Tak terasa 3 hari telah berlalu dan ini adalah hari terakhir Alya bersama seluruh siswa-siswi di sekolahnya melaksanakan ujian nasional.


Detik - detik bel akhir untuk menyelesaikan Ujian Nasional Mereka pun segera berbunyi, di dalam kelas Mereka sudah menyelesaikan semua pertanyaan yang tersedia di Lembar soal. Wajah yang nampak ceria telah menghiasi wajah mereka walaupun hasilnya belum diketahui seenggaknya mereka semua sudah berusaha semaksimal mungkin.


Apapun hasilnya pasrahkan kepada yang maha kuasa karena hasil tidak akan mengkhianati usaha. Mereka percaya jika sudah berusaha semaksimal mungkin pasti akan menghasilkan yang sesuai mereka harapkan.


Bel pun berbunyi ketua kelas masing-masing telah menyiapkan teman-temannya kemudian bersalaman dengan bapak ibu pengawas sembari mengucapkan terima kasih karena selama 4 hari ini ini mereka tengah menemani mereka dalam berjuang untuk menyelesaikan ujian nasional.


Setelah semua keluar dari ruang kelas ujian masing-masing mereka berkumpul bersama di tengah lapangan, Wahyu yang mantan ketua OSIS menyiapkan semua temannya.


Setelah berbaris rapi Mereka menunggu bapak ibu guru mereka kemudian berdoa bersama semoga mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan keinginan mereka semua. Setelah berdoa Mereka berbaris dengan rapi menyalami semua bapak ibu guru yang ada di lapangan, suasana haru pun tak terelakkan lagi apalagi para siswi yang terisak tak jarang mereka memeluk ibu gurunya dan rasa terima kasihnya karena telah memimpin mereka selama 3 tahun.


Selesai dengan acara Mereka membubarkan diri kemudian pulang ke rumah masing-masing.


Alya bersama ketiga sahabatnya memilih untuk duduk terlebih dahulu di depan kelas sebelum pulang ke rumah.


"Sifa enak sudah keterima di Universitas Negeri jurusan seni rupa." kata Ana dan disenyumi Sifa.


Sifa memang mendapatkan rekomendasi dari guru seni rupanya karena bakatnya melukis sangat luar biasa jadi sekolah menunjuknya untuk masuk ke Universitas Negeri. Setelah kemarin ujian seleksi dan akhirnya Sifa pun lolos tinggal menunggu masuk kuliah saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga kalian juga segera diterima."


"Aamiin..." ucap Mereka bertiga.


Tetapi ada yang mengganjal di hati Alya, dia tak seberuntung dengan sahabatnya yang lain.


Setelah kemarin sempat mengobrol dengan kedua orang tuanya dan mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah tetapi ibunya mengatakan jika mungkin akan sulit sekali jika melanjutkan studinya.


Ibunya kasihan dengan bapaknya yang kerja seorang diri sedangkan kedua adiknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah.


Alya memahami itu tapi dia tidak patah semangat walaupun mungkin harus berhenti dulu 1 tahun untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk masuk kuliah baginya tak masalah yang penting bisa melanjutkan studinya.


tanya Ana.


Alya tersenyum manis saja,


"Belum tau An, doakan saja bisa segera melanjutkan kuliah seperti kalian."


Ketiga sahabat yang memandang kasihan kepada Alya padahal dia anak yang cerdas tapi nasibnya tidak seberuntung mereka bertiga.

__ADS_1


"Kalian kenapa."


"Kamu nggak lanjutin Al."


Silvi merangkul pundaknya.


"Bukannya nggak melanjutkan tetapi mungkin aku harus berhenti dulu baru kuliah kedua orang tuaku belum punya biaya. Ya sekarang kalian tahu kan kalau masuk kuliah juga butuh banyak biaya dan mahal."


Kata Alya dengan tenang dan ikhlas walaupun di dalam hatinya sangat iri dengan ketiga sahabatnya.


"Semangat ya Al, kita ada bersama kamu."


Ana memeluknya dan diikuti oleh kedua sahabatnya yang lain.


"Makasih, aku nggak papa kok kuliah kan juga tidak harus terpaut usia kan, aku aja ini belum ada 18 tahun."


"Semangat Alya..."


Mereka berempat berpelukan.

__ADS_1


😢😢😢😢😢


__ADS_2