DIARY ALYA

DIARY ALYA
189


__ADS_3

Tak terasa pernikahan Alya dan Angga sudah hampir menginjak 1 tahun. Secara finansial alhamdulillah sudah tercukupi, keluarga mereka juga harmonis tak pernah ada permasalahan yang awalnya kecil terus menjadi besar karena mereka selalu menyelesaikannya dengan membicarakannya secara baik-baik.


Namun masih ada satu yang menjadi permasalahan dalam pernikahan mereka yaitu belum dipercaya untuk menjadi orang tua. Kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan adalah suatu hal yang dinantikan oleh semua pasangan, begitu pula dengan Alya dan Angga yang sudah sangat menginginkan hadirnya buah hati.


Angga dulu saat menikah sudah mengatakan jika dia ingin segera diberi momongan namun, memang mereka berdua belum diberi kepercayaan juga padahal mereka juga tidak menundanya.


Alya merasa bersalah kepada suaminya karena belum kunjung hamil sedangkan yang baru saja menikah sudah diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati.


"Mas, maafin Alya belum hamil."


Alya selalu menyalahkan dirinya sendiri saat tamu bulanannya datang kembali.


Angga tersenyum namun Alya bisa membaca raut muka suaminya yang terlihat ada rasa kecewa.


"Kita coba lagi nanti Sayang."


"Kita ke Dokter Mas."


"Boleh, kita coba periksa."


Alya menganggukkan kepalanya yang selalu dia minta habis sholat adalah diberi kepercayaan untuk mempunyai keturunan.


"Tapi biayanya pasti mahal Mas."


"Nggak papa, Kita juga harus ikhtiar semoga segera diberi momongan."


"Iya Mas."


Alya mencari informasi dari teman-teman sekantornya yang dulu mengalami hal yang sama dan akhirnya berhasil mempunyai momongan setelah salah satu dokter yang terkenal di kotanya.


Setelah mendapatkan jadwal praktek dokter tersebut, Alya dan Angga berangkat menuju ke rumah sakit dimana dokter itu membuka praktek.


Segala prosedur telah mereka lewati dan akhirnya tinggal menunggu panggilan Dokter untuk masuk ke dalam.


Perasaan Alya campur aduk ada rasa semangat untuk berjuang mendapatkan momongan tapi juga ada rasa sedih melihat beberapa pasien yang ada di sana perutnya sudah membesar itu membuat Alya merasakan iri yang timbul begitu saja.


" Astagfirullah, kamu kuat Alya."


Dia berbicara sendiri di dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas, Alya takut."


Angga tersenyum menggenggam tangan Alya.


"Nggak papa, nanti kita ketemu dokter berdua."


Alya menganggukkan kepalanya namun rasa takut dengan sesuatu hal yang mungkin akan buruk telah menghantui pikirannya.


"Mas, kalau ada apa - apa gimana."


"Kamu Jangan berpikiran seperti itu harus positif thinking. Dokter pasti akan memberikan solusi dan kita jalani saja pengobatannya."


"Iya Mas."


Satu persatu pasien mulai keluar masuk dan digantikan oleh pasien yang lain untuk berkonsultasi dengan dokter.


Hingga tiba giliran Alya dan Angga yang dipanggil oleh Suster untuk masuk ke dalam ruangan dokter.


"Ibu Alya."


"Iya Sus."


Mereka berdua masuk ke dalam dan terdapat seorang dokter yang diperkirakan usianya sudah setengah abad duduk di kursinya dan tersenyum menyambut mereka berdua.


Alya menatap kearah Angga dan di anggukan kepala oleh suaminya itu.


"Kami ingin program hamil Dok."


Ucap Alya dan nampak dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Sudah berapa lama menikah."


"Hampir satu tahun Dok."


"Mohon maaf sebelumnya untuk program hamil keduanya harus dilakukan pemeriksaan tetapi untuk saat ini saya akan memfokuskan dulu dengan ibunya. Jika nanti terdapat sesuatu yang mungkin kurang enak di dekatnya Saya mohon kepada Bapak sebagai suami harus selalu mendukung dan memberi support kepada istrinya."


Begitu penjelasan Dokter Angga pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Dalam pemeriksaan ini bukan untuk mencari siapa yang menjadi penyebab masalah kenapa belum juga diberi momongan tetapi, untuk mencari solusi supaya segera diberi momongan oleh karena itu dibutuhkan rasa kasih sayang dan juga cinta dari pasangan suami-istri untuk bisa saling menerima keadaan pasangannya." Lanjut Dokter dan Mereka berdua mendengarkannya dengan serius.

__ADS_1


"Banyak pasangan suami istri setelah melakukan pemeriksaan itu menjadi saling menyalahkan dan akhirnya terjadi cekcok di dalam rumah tangganya dan mohon maaf ujung-ujungnya terjadi perpisahan karena tidak bisa saling menerima kekurangan satu sama lain."


Dokter itu baik sekali membuka pikiran Angga dan Alya untuk bisa membangun rasa saling percaya dan menerima dalam menempuh jalur program hamil ini.


"Momongan memang hak prerogatif dari Allah tetapi Kita sebagai manusia sangat dianjurkan untuk berusaha, berdoa dan berikhtiar dalam kita menjemputnya."


"Iya Dok." Ucap Angga.


"Baik kalau begitu apakah Ibu ada keluhan dengan haidnya dan terakhir haid kapan."


"Haid Saya terakhir bulan lalu tanggal 20 Dok, dan memang hidup saya itu tipenya tidak selalu tepat dengan tanggal di bulan sebelumnya kadang bisa maju dan kadang juga bisa mundur tapi juga tidak terlalu jauh."


Jawab Alya dan dianggukkan oleh Dokter sambil melihat kalender yang ada di depannya.


"Baik, ini tanggal 2 ya. Berati ini kemungkinan besar saat masa subur Ibu."


Alya pun menganggukkan kepalanya Dia juga sudah belajar bagaimana menghitung masa subur sampai memasang sebuah aplikasi khusus di ponselnya.


"Kita akan USG untuk melihat kondisi kandungan ibu dan juga melihat apakah sel telur sudah ada yang siap untuk dibuahi. USG yang akan di lakukan yaitu USG transvaginal untuk pemeriksaan kehamilan serta kondisi organ-organ reproduksi wanita dan USG ini akan dilakukan dari bawah."


Alya sedikit kaget karena dia belum pernah sama sekali melakukan hal itu namun itu sudah suatu prosedur yang harus dijalani.


"Iya Dok, Sus tolong dibantu Ibunya."


"Baik Dok, mari Ibu silahkan."


Alya mengikuti Suster itu dan mengikuti apa yang dimintanya.


Dia tidur di tempat pemeriksaan kemudian diminta untuk membuka kakinya agar lebih mudah Dokter melakukan pemeriksaan.


"Tadi belum kencing ya Bu."


"Belum Sus."


Memang tadi sebelumnya sudah dipesan oleh Suster kalau mau melakukan USG untuk menahan kencingnya terlebih dahulu supaya saat dilakukan pemeriksaan bisa terlihat.


Angga memandangi istrinya ada rasa tak tega tapi memang itu yang harus mereka lakukan untuk berikhtiar mendapatkan momongan.


🤫🤫🤫🤫🤫

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya apakah Alya baik-baik saja.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2