DIARY ALYA

DIARY ALYA
155


__ADS_3

Pagi ini Alya masih berangkat kerja begitu pula dengan Angga, mereka tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya walaupun nanti malam akan ada acara.


Tak ada satupun guru yang tahu jika mereka berdua nanti malam akan melaksanakan lamaran karena memang hanya akan dihadiri oleh kedua keluarga besar, termasuk Joko pun tidak Alya beritahu biarkan saja nanti setelah lamaran mereka akan tahu sendiri.


Selesai mengajar seperti biasa Angga menghampiri Alya ke Lab.


"Yuk Mas kita pulang."


Angga meraih tangan Alya dan membuatnya berhenti.


"Hati - hati ya sayang, tunggu Mas nanti malam."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mereka keluar dan berjalan bersama ke parkiran kemudian Angga mengikuti sepeda motor Alya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Alya mengucapkan salam dan di dalam rumah ternyata banyak saudaranya yang membantu masak ibunya.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Jawab Mereka.


"Ini calon pengantin baru pulang." Budenya Alya ini.


Alya tersenyum dan menyalami mereka semua, kemudian berlalu ke kamarnya untuk segera membersihkan diri.


Setelah berganti baju Alya keluar dari kamar dan mengambil nasi karena perutnya terasa keroncongan.


Dia menawari saudara-saudaranya untuk makan karena nggak enak dia makan sendiri.


Selesai makan Alya membantunya sebisa mungkin menyiapkan acara nanti malam.


"Al, calonnya rumahnya mana." Tanya saudaranya Kakak Ipar Ibunya.


"Daerah A Bude."


"Sudah pernah ke sana."


"Sudah Bude." Kata Alya dengan tersenyum.


"Ngajar juga."


"He he he... Iya Bude teman ngajar."


Hari sudah sore, Alya segera mandi dan melaksanakan kewajibannya kepada sang kholik. Selesai mandi dia mempersiapkan baju yang akan ia pakai untuk nanti malam.


"Tak terasa ya Mas, kita mau lamaran." Gumamnya saat menyetrika baju yang kemarin ia beli sama Angga.


Alya tersenyum sendiri dan rasanya nggak percaya hubungan mereka akhirnya akan resmi walaupun sudah banyak hal yang mereka lalui, kadang marah tapi juga tak jarang mereka tertawa bersama.


Malam menjelang selesai sholat maghrib Alya bersiap dengan merias dirinya dengan make up simple saja.


Dia tidak menggunakan jasa perias karena hanya ini lamaran sederhana saja antara dua keluarga.


"Al..."


Ibunya mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


"Iya Bu."


Alya membuka pintu kamarnya.


"Itu Vera datang."


Alya sudah memberitahu Vera bahwa dia malam ini lamaran dan memohon dengan sahabatnya itu bisa datang. Alya sebenarnya juga memberitahu pada Silvi, Ana dan juga Shifa bahwa dia lamaran malam ini tapi mereka tidak ada yang bisa datang menemaninya karena kesibukan masing-masing dan Alya pun memahaminya.


"Iya Bu, suruh masuk aja."


Vera tiba-tiba muncul di pintu kamar Alya.


"Ciye.. calon pengantin ini."


Vera masuk dan duduk di bibir kasur Alya.


"Kamu sih baru datang."


"Iya kan sore dari rumah nungguin Ibu, nggak ada yang nungguin nenek."


Vera memang belum bekerja Dia sedang menunggu panggilan kerja jadi di rumah menunggu neneknya yang sudah sakit-sakitan sedangkan kedua orang tuanya bekerja semuanya.


"Sudah makan belum."


"Belum, he he he..."


Vera meringis aja.


"Makan dulu sana."


"Aku mau sholat Maghrib dulu ya tadi males mau belok di jalan."


"He he he... Belum."


"Buruan habis waktunya."


Vera melangkahkan kakinya dari dalam kamar menuju ke kamar mandi untuk mengambil sudah dia segera melaksanakan kewajibannya.


Ponsel Alya bergetar dan ada pesan yang masuk ke dalamnya.


"Sayang, Mas sama keluarga otw ke rumah." Pesan dari Angga.


Alya tersenyum membaca pesan itu dan kemudian mengetik balasan.


"Iya Mas, hati - hati."


Alya keluar dari kamarnya dan memberitahu kepada kedua orangtuanya jika Angga sudah berangkat dari rumah dan mungkin sekitar 30 menit mereka akan sampai.


"Alya.."


"Iya Pakde."


Alya mendekat kepada Pakde Nya, beliau kakak tertua dari Bapaknya.


"Nanti setelah salaman, kamu di dalam aja dan saat kamu dipanggil baru keluar ya." Pesan Pakde nya.


"Iya Pakde."

__ADS_1


Alya pun masuk ke dalam kamar lagi untuk bersiap dan dia melihat Vera sedang melaksanakan sholat.


Sedikit polesan ia tambahkan di wajahnya, perasaannya saat ini deg - degan menanti kedatangan keluarga besar Angga.


Alya keluar bersama Vera dan ngobrol dengan Kakak sepupunya yang menceritakan dulu saat dilamar.


"Kemarin nggak kasih tau dulu pas kamu pergi sama Om ya Tante."


Dia memanggil Angga dengan sebutan Om dan Alya Tante karena Dia memanggilkan anaknya biar terbiasa.


"Nggak Mbak."


"Pantesan ibu kamu bilang mendadak."


"Iya Mbak, Alya aja gak tahu kalau malam ini keluarga Mas Angga mau datang baru kemarin malam telepon."


"Dulu malah Mbak lucu lagi, keluarga Mas kamu udah datang Mbak malah pulang kerja."


"Ha ha ha.." Alya dan Vera malah tertawa.


"Terus gimana Mbak."


"Iya langsung acara, mau di lamar apa nggak tiba - tiba ditanya gitu. Iya Dia udah datang bawa keluarganya ya sudah Mbak iya kan saja."


"Ha ha ha..." lagi - lagi Vera dan Alya tertawa.


"Al.. Mereka datang."


Panggil Ibunya dan Alya merasakan jantungnya langsung berdetak begitu kencang.


Alya dan Vera dan semua keluarga Alya yang ada di sana menyambut kedatangan keluarga besar Angga yang datang menggunakan 1 buah mobil dan ada yang menggunakan sepeda motor juga.


Alya mengumbar senyumnya dan menyalami mereka semua. Saat bersalaman dengan Angga entah kenapa jantungnya begitu dag dig dug padahal sudah biasa juga.


Angga tersenyum begitu pula dengan Alya, setelah selesai bersalaman semua dengan keluarga besar Angga dan Mereka sudah masuk kedalam rumah, Alya pun masuk kedalam sesuai pesan Pakde nya sebagai perwakilan keluarga besar Alya.


Acara pun di mulai, dengan penyampaian tujuan dari keluarga besar Angga yang datang ke rumah untuk melamar Alya. Kemudian dijawab oleh keluarga besarnya Alya yang diwakili oleh Pakde nya.


Alya yang berada di dalam bersama Vera akhirnya dipanggil untuk keluar.


"Alya, keluarga Mas Angga malam ini datang untuk melamar kamu jadi istrinya apakah kamu bersedia."


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah.."


Ucap Mereka semua, Alya tersenyum bahagia begitu pula dengan Angga mereka saling pandang walaupun duduknya berjarak.


Alya dipakaikan cincin oleh ibunya Angga dan juga dipakaikan kalung cantik dilehernya selain itu dia juga diberi beberapa seserahan yang diserahkan kepadanya.


Angga tidak mau melewatkan momen itu dia meminta sepupunya untuk mengambil gambar. Dia sangat bahagia sudah melamar gadis pujaannya Dia sangat senang melihat senyumnya Alya yang begitu bahagia saat dipakaikan cincin dan kalung oleh ibunya.


Sebenarnya Angga yang mau memakaikannya sendiri namun menurut orang tua mereka belum muhrimnya jadi Ibu dari calon mempelai laki-laki yang memakaikannya.


Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama dan ngobrol diantara kedua keluarga.


Setelah di rasa cukup acara malam itu keluarga Angga pun pamit untuk pulang dan untuk acara pernikahannya akan dibahas di lain hari itu merupakan hak dari keluarga mempelai perempuan karena yang punya hajat mereka.

__ADS_1


☺☺☺☺☺


__ADS_2