
Alya membuka kedua matanya memandang suaminya yang masih terlelap di sampingnya sambil memeluk dirinya.
Rasanya masih sakit juga mengingat ucapan Angga tapi Alya nggak tega melihat suaminya sakit. Dia memegang dahi Angga memastikan suaminya itu baik-baik saja.
" Alhamdulillah demamnya sudah turun."
Alya berucap dalam hati saat menyentuh dahi Angga. Kemudian Dia beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandi.
"Angga sudah baikan Al."
Tanya ibunya saat melihat Alya keluar dari kamar mandi.
" Alhamdulillah demamnya sudah turun Bu."
"Syukur deh, kalau masih demam dan pusing ajak ke dokter."
" Iya bu."
Alya membantu ibunya memasak dan tak lama adzan ashar berkumandang, Dia menuju ke kamarnya untuk membangunkan Angga.
Saat Alya masuk ke dalam kamar, ternyata Angga sudah bangun dan duduk di pinggir kasur.
"Mas, udah bangun."
Alya menghampirinya dan memegang dahinya.
"Masih pusing Mas."
"Dikit Sayang, maaf ya Sayang."
Angga memeluk tubuh Alya.
"Alya yang salah Mas, Alya nggak perhatian sama Mas. Maafin Alya Mas, kita periksa ya Mas."
Angga menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah Sayang, Mas hanya butuh istirahat saja."
__ADS_1
"Mas yakin, Alya takut nanti malah pusingnya bertambah lagi."
"Iya nggak papa Sayang."
"Alya teman diperiksa Mas siapa tahu tensinya tinggi atau rendah gitu, jadikan kita tahu bagaimana cara menanganinya."
"Ya sudah, temani Mas periksa ya."
Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mandi Mas, nanti keburu dokternya antriannya terlalu banyak."
"Iya Sayang."
Angga mengecup kening Alya dan kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
Alya mempersiapkan semua keperluan suaminya, dan setelah Angga selesai kini gantian Alya yang mandi.
Mereka melaksanakan sholat Ashar berjamaah, dan setelah selesai berpamitan dengan ibunya Alya untuk pergi periksa.
"Nggak papa Bu, Saya kuat." Kata Angga dengan tersenyum.
"Iya udah kalian hati-hati ya."
"Iya Bu, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Angga melajukan sepeda motornya menuju ke klinik yang tidak jauh dari rumah Alya. Sesampainya di sana Alya mengambil nomor antrian dan tinggal menunggu dipanggil.
Setelah dilakukan pemeriksaan Angga hanya mengalami radang saja butuh istirahat namun juga tensi darahnya terbilang agak tinggi.
Setelah menebus obat yang diresepkan oleh dokter mereka berdua segera pulang karena hari juga sebentar lagi adzan maghrib.
"Sayang beli itu ya."
Angga melihat beberapa penjual jajan yang di ada pinggir jalan dan dia menginginkan martabak manis.
__ADS_1
"Iya Mas."
Setelah Angga menepikan sepeda motornya Alya menuju ke penjual martabak dan memesan.
Tak butuh waktu lama pesanan telah selesai dan mereka segera pulang ke rumah. sesampainya di rumah Alya menata oleh-oleh yang dibeli dan menyantap bersama dengan keluarga.
"Angga makan, obatnya di minum." Ibunya Alya juga selalu perhatian kepada menantunya itu.
"Iya Bu."
Alya mengambilkan nasi serta lauk pauk dan menghidangkan di depannya Angga.
"Silahkan Mas."
"Makasih Dik."
Dia menyantapnya dan setelah habis dia meminum obat dari dokter tadi yang sudah disiapkan oleh Alya.
"Ini obatnya Mas."
"Makasih ya Sayang."
Angga menenggaknya dan bersama dengan air.
"Aku keterlaluan ya sama istri Ku sendiri, Dia sudah mau kerja malah aku berkata kasar begitu. Belum lagi Dia telaten merawat ku tak ada rasa kecewa sedikit pun kepada Ku. Dia pasti juga capek pulang kerja tapi aku malah merepotkan nya begini." Angga berbicara sendiri di dalam hati.
"Mas kenapa melamun, sudah adzan sholat yuk."
Alya membuyarkan lamunan Angga.
"Iya Sayang."
Angga meraih tangan Alya, dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
☺☺☺☺☺
Mau bagaimana pun suami, percaya saja kalau istri tak akan tega melihat suami yang sakit 😁😁😁😁😁
__ADS_1