DIARY ALYA

DIARY ALYA
174


__ADS_3

Angga masuk ke dalam kamar, Dia melepaskan tas dan jaketnya begitu saja lalu duduk di kasur dengan muka yang tidak bersahabat.


Alya yang melihat itu hanya bisa menghela nafas dia baru tahu sifat asli Angga dia pencemburu dan kalau marah menakutkan.


"Mas, ganti baju dulu."


Alya mengambilkan baju ganti Angga namun Dianya malah diam saja dengan muka di tekuk.


Alya berganti baju lalu duduk di samping suaminya itu.


"Mas... Maafin Alya, tadi Alya ngomongin pekerjaan aja nggak ada yang lain."


Angga cuma diam saja tak bergeming dan wajahnya semakin lama makin menakutkan.


"Makan dulu ya Mas, baru ke rumah Ibu."


Angga diam saja masih mengenakan seragamnya dan muka yang semakin tak bersahabat. Alya nggak tahu lagi bagaimana cara membujuk suaminya itu, Dia keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi.


Sekembalinya Alya dari kamar mandi Alya sudah melihat Angga berganti baju dan kemudian keluar kamar begitu saja tanpa bicara dengannya.


Alya hanya mampu menghela nafasnya saja ternyata tabiat suaminya itu sukar sekali untuk ditebak. Dia kemudian mengambil tas dan segera menata pakaiannya karena Angga pasti akan langsung berangkat ke rumah Ibunya.


Angga masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil jaketnya.


"Mas nggak makan dulu."


"Nggak usah, kalau kamu nggak mau ikut ya udah disini aja."


"Iya Alya ikut sebentar ini baru masukin baju."


Alya dengan cekatan langsung menata pakaiannya dan mengikuti suaminya yang keluar dari kamar.


"Bu, kita mau ke rumah ibu."


Pamit Alya sambil meraih tangan ibunya.


"Kalian nggak makan dulu."


"Tadi sudah di sekolahan Bu." Bohong Alya kepada ibunya karena dia tidak mau ibunya mengetahui masalah mereka. Walaupun Ibunya Alya sebenarnya pun juga sudah tahu kalau menantunya itu sedang marah.


"Ya sudah kalian hati - hati." Begitu saja Ibunya.


Angga pun meraih tangan Ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Angga pamit ya Bu."


"Kalian hati - hati."


"Iya Bu."


Angga naik ke atas motor begitu langsung diikuti oleh Alya, sepeda motor mereka melaju meninggalkan rumah kedua orang tua Alya.


"Semoga anakku baik-baik saja." Doa Ibunya Alya melihat mereka berdua pergi karena seorang ibu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya.


Sepanjang jalan mereka berdua pun hanya diam Ia juga tak berani untuk mengajak bicara suaminya begitu pula dengan Angga masih menekuk mukanya.


Alya terdiam dia hanya berfikir di mana sebenarnya kesalahan dia sampai suaminya semarah itu kepadanya hanya karena cemburu. Air mata Alya akhirnya jatuh juga dia merasakan sesak di dadanya nggak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia sudah minta maaf dan menjelaskan kepada Angga namun suaminya itu masih juga marah tetap tidak mau bicara dengannya.


Hingga saat mereka melewati kedai mie ayam Angga pun membelokan sepeda motornya.


"Lapar juga dia." Batin Alya.


Kalau mau marah Alya sebenarnya juga bisa tetapi dia tidak mau memperkeruh suasana, nanti malah kesannya dirinya yang suka membangkang.


Angga masuk ke dalam kedai Mie Ayam itu dan langsung memesan hanya untuk dirinya tanpa menawari Alya. Rasanya Alya mau berteriak mengeluarkan semua yang ada di kepalanya tapi dia masih menahannya dia berpikir dia harus mengalah demi kebaikan semuanya.


Alya yang merasakan perutnya juga terasa lapar juga memesan kemudian duduk di samping suaminya.


Selesai makan Angga langsung beranjak, dan membayar pesanannya dan juga punya Alya.


Alya hanya diam saja mengikuti Angga keluar, kemudian mengambil helmnya dan segera naik ke atas motor.


Motor Angga melaju meninggalkan kedai Mie Ayam itu menuju ke arah rumah kedua orang tuanya. Sesampainya di sana Alya memasang muka manis agar terlihat baik-baik saja di depan kedua mertuanya.


"Alya, masuk Nak."


"Iya Bu."


Alya meraih tangan Ibu mertuanya itu dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu Alya masuk ke dalam kamar dan meletakkan barang bawaannya sedangkan Angga masih ada di depan dan ngobrol dengan Bapaknya dan terlihat sekali tanpa ada masalah padahal jika bersama dengan Alya Dia hanya diam dan memasang muka tak bersahabat.


"Sabar Kan aku Ya Allah."


Doa Alya, dan dia harus kuat.


Hari makin sore Alya dan sudah terbiasa Jika dia berada di rumah mertuanya dia akan membantu ibunya di dapur untuk memasak.

__ADS_1


Alya keluar setelah dari dapur dan melihat Angga yang sedang merokok pada Sebelumnya dia belum pernah melihat suaminya itu merokok.


"Mas Angga merokok."


Alya berbicara sendiri di dalam hatinya sambil menghampiri suaminya membawakan teh hangat.


"Teh nya Mas."


"Iya."


Hanya itu suara Angga yang Alia dengar.


Adzan maghrib pun berkumandang, Alya segera mengambil air wudhu kemudian ke kamar menunggu Angga yang tak kunjung juga mengambil air wudhu.


Alya masih terus bersabar dia tetap menunggu suaminya hingga akhirnya Angga pun masuk ke dalam kamar dengan keadaan yang sudah basah setelah berwudhu.


Mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan setelah selesai Ia pun meraih tangan Angga dan mencium punggung tangannya tapi berbeda dengan Angga yang biasanya mengecup kening Alya ini tidak karena suasananya masih marah.


Selesai sholat Alya malas untuk keluar dari kamar dia hanya di dalam membuka ponsel dan laptopnya. Hingga malam tiba dia pun berwudhu dan melaksanakan sholat Isya sebelum tidur.


Angga kemana.?


Dia ada di luar lagi asyik ngobrol dengan tetangganya.


Alya yang sudah merasakan kantuk akhirnya dia sholat sendiri dan langsung tidur tapi dia sudah berusaha untuk memejamkan kedua matanya tapi juga belum bisa.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Angga masuk ke dalan kamar dengan wajah basah di habis wudhu kemudian menggelar sajadah dan dia sholat sendiri.


Selesai sholat Angga juga langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Alya yang memiringkan tubuhnya tidak menghadap ke arah suaminya itu.


Mereka berdua saling diam dan saling membelakangi belum ada yang memulai untuk bicara, hingga akhirnya Alya pun yang merasa sudah membuat suaminya marah dia yang mengalah.


Alya membalik tubuhnya dan menghadap kearah suaminya yang membelakangi dirinya.


"Mas... Maafin Alya, Alya salah Mas."


Ucapnya lirih dan dia tak bisa menahan lagi air matanya yang sudah dia tahan untuk tidak keluar di depan suaminya.


Angga tak bergeming masih dengan posisi yang sama.


"Mas..."


Alya menyentuh lengan suaminya itu tapi Angga masih sama hanya diam.

__ADS_1


😥😥😥😥😥


__ADS_2