
"Itu yang namanya Pak Angga, cakep juga pantas para siswi banyak yang mengaguminya."
Batin Alya sambil berjalan menuju ke kantor dan tak sadar dia tersenyum-senyum sendiri.
"Bu.."
Alya hingga kaget ada yang memegang pundaknya dari belakang.
" Astaghfirullahaladzim... Bu Eni ngagetin aja."
Alya mengusap dadanya.
"Di panggil Bu Alya tidak dengar ya jadi saya tepuk pundak Bu Alya. Kaget ya Bu, maaf ya melamun kenapa sih Bu."
"He he he.. nggak kok Bu."
"Sudah selesai jamnya Bu."
"Alhamdulillah sudah Bu."
Mereka sambil ngobrol santai berjalan beriringan menuju ke ruang guru.
Tak terasa sehari sudah selesai Alya bersyukur dalam hati melalui hari itu dengan lancar pengalaman yang luar biasa baginya pertama kali mengajar dan menjadi seorang guru.
Alya bergegas pulang, Dia menata buku yang dia bawa dan menyimpannya ke dalam laci kemudian merapikan mejanya kembali dan mengambil jaketnya yang terletak di sandaran di kursi kemudian mengenakannya.
Alya keluar dari ruangan guru untuk menuju ke parkiran mengambil sepeda motornya.
Lalu lintas siang itu tidak terlalu padat jadi Alya bisa melajukan sepeda motornya sedikit cepat karena dia ingin segera sampai di rumah dan beristirahat.
Sesampainya di rumah Alya mengucapkan salam dan menyapa ibunya yang sedang melipat baju sambil menyaksikan televisi.
"Sudah makan Al."
"Belum Buk, tadi beli camilan aja di kantin."
" Ya udah bersih-bersih dulu terus makan, udah salat belum."
"Udah Buk, di sana ada masjidnya kok dan kalau Dhuhur itu berjamaah."
"Ya sudah, makan sana udah lapar pasti."
"Iya Buk, Alya masuk ya Buk."
Alya masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian kemudian membersihkan dirinya dan segera mengambil makan siang karena perutnya juga sudah keroncongan.
Mata Alya terbelalak melihat menu kesukaan dirinya yang telah disiapkan oleh ibunya.
"Waooww..."
Alya tidak menunggu lama segera mengambil piring dan mengaduk nasi kemudian mengambil lauk kesukaannya yaitu sambal terong.
"Ibu udah makan."
Alya membawa piringnya ke depan untuk makan sambil nonton televisi.
"Sudah, kok makan di sini."
__ADS_1
"Nggak papa mau nonton tv juga nggak enak makan sendiri di dalam."
Satu suapan masuk mulut Alya dan terus saja dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya hingga habis tak tersisa di piringnya lagi.
Sehabis makan Alya kembali lagi duduk di depan televisi bersama ibunya. Bapaknya kerja belum pulang, Ikhsan juga ada kegiatan di sekolahan jadi belum pulang sedangkan Dani main ke rumah temannya.
"Gimana Al hari pertama."
"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar buk, siswa-siswinya juga baik nurut sama gurunya pintar lagi."
" Ya alhamdulillah, di nikmati aja Al Semoga menjadi berkah."
"Iya Buk.. Wah...."
Alya menguap merasakan ada rasa kantuk yang menghinggapi di matanya.
"Tidur istirahat sana."
"Iya Buk."
Alya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat merasakan capek yang menghinggapi tubuhnya.
Tak terasa adzan Ashar pun berkumandang Alya mendengarnya sayup-sayup di telinganya, Dia mengucap kedua matanya dengan tangannya.
"Alhamdulillah ya Allah."
Alya duduk untuk mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu. Dia teringat sepulang dari sekolahan tadi belum membuka ponselnya yang masih terletak di dalam tas.
Terdapat beberapa pesan yang telah masuk ke dalam ponselnya.
"Al, besok ke kampus yuk."
Alya membaca pesan dari Vera itu dengan tersenyum.
"Sore aja ya, aku kerja."
Balas Alya.
"Wah.. udah jadi Bu guru sekarang."
Balasan Alya membuatnya terkekeh sendiri.
"Alhamdulillah, siang ke rumah ku dulu ya terus ke kampusnya bareng."
"Oke."
Begitu balasan Vera, kemudian Alya meletakkan ponselnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
Alya mencium ada bau masakan pasti ibunya sedang memasak.
"Masak apa Buk."
"Ini rendang jengkol kesukaan Bapak."
"Alya mandi dulu ya Buk."
"Iya, kamu mandi aja dulu nanti gantian tolong digoreng kerupuknya ya Ibu juga belum mandi keburu nanti Bapak Mu pulang."
__ADS_1
"Iya Buk."
Alya bergegas untuk mandi dan kemudian salat Ashar, selesai sholat Ikhsan mencarinya ternyata ingin meminjam sepeda motornya.
"Mbak motornya aku bawa ya mau voli."
"Iya, jangan lupa dikunci."
"Iya Mbak."
Alya pun segera menuju ke dapur untuk menggantikan ibunya memasak dan belum mandi.
Tak lama kemudian Bapaknya pulang dan semua makanan pun sudah tersaji di meja dengan rapi.
Malam semakin larut Alya ingin istirahat karena besok juga harus mengumpulkan tenaga untuk berangkat bekerja lagi.
Semangat telah tumbuh di tubuh Alya, Dia seperti mendapatkan energi positif setelah bertemu dengan siswa-siswinya di hari pertama kerjanya.
"Ternyata begini ya rasanya jadi bu guru."
Alya merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Senang melihat anak-anak belajar, mereka ceria bermain dengan teman sebayanya. Rasanya ingin merasakan itu lagi."
Alya pun teringat dengan sahabat-sahabatnya dikala masih waktu SMA.
Mereka masih berkomunikasi tetapi karena kesibukan mereka masing-masing jadi tidak bisa terlalu sering.
Saat asyik berkhayal akan keseruannya di waktu SMA terdengar notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Apa kabar Mbak Alya."
Mang Ahsan mengirim pesan kembali kepada Alya setelah cukup lama mereka tidak pernah saling kirim pesan.
"Muncul lagi Dia."
Kata Alya sendiri.
"Baik Mang."
Begitu tulis Alya dan pesan pun terkirim.
"Lagi kangen nih Mbak."
Terdengar notifikasi pesan masuk lagi dan begitulah isinya.
"Apa coba maksudnya, Emang aku nggak tahu apa cerita orang-orang."
Alya sudah mendengar kabar yang mengabarkan jika Mang Ahsan akan dijodohkan dengan sepupu dari Kyai yang memiliki pondok namun perempuan itu masih menempuh pendidikan di sebuah pesantren di luar kota.
"Kangen sama pacarnya."
Balasan Alya.
"Kok tau Mbak, Iya nih Mbak lama dia belum pernah pulang."
"Dasar laki - laki, mulutnya doang yang manis."
__ADS_1
Gerutu Alya, dia merasa seperti dibohongi oleh Mang Ahsan. Padahal pesan yang dikirim olehnya selama ini selalu manis, namun nyatanya kelakuannya sama aja seperti laki-laki pada umumnya.
😝😝😝😝😝😝