DIARY ALYA

DIARY ALYA
144


__ADS_3

Alya tersenyum melihat Angga yang datang menjenguk Bapaknya ke rumah sakit. Dia meraih tangan Angga ketika datang.


"Mas nggak bingung tadi sampai sini."


"Nggak lah, tanya satpam tadi."


"Alya kan mau jemput di depan tadi, Mas Angga nggak mau."


"Nggak usah kamu capek bolak - balik masuknya jauh gini. Ini buat Bapak."


Angga memberikan satu keranjang buah yang ia beli tadi.


"Makasih ya Mas udah datang, nggak usah repot - repot juga Mas. Udah datang Alya seneng."


"Iya, ruangan bapak mana."


Mereka berjalan menuju ruangan dimana Bapaknya Alya dirawat.


"Masuk Mas."


Alya membuka pintu ruangan.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


jawab mereka yang ada di dalam ruangan yang penuh dengan saudara-saudara dari Alya yang juga datang menjenguk bapaknya.


Angga menghampiri Bapaknya Alya dan meraih tangannya serta mencium punggung tangannya.


"Pak, dari Mas Angga."


Alya meletakkan keranjang buah itu di meja.


"Makasih Mas Angga sudah datang."


"Iya Pak, gimana keadaan bapak."


" Sudah mendingan Mas, tapi tetap masih terasa sakit enggak bisa gerak."


"Kata Dokter gimana Dik."


Angga bertanya ke Alya, mau manggil Sayang juga risih dengan kedua orang tua Alya.


"Besok Bapak harus dioperasi Mas."


Kata Alya dengan tersenyum walaupun di dalam hatinya sangat khawatir.


"Bapak pasti sembuh."


"Makasih Mas Angga."


Angga pun menyalami ibunya Alya serta saudara-saudara Alya yang ada di sana.


Alya menjadi bahan pembicaraan para saudaranya karena kedatangan Angga yang menjenguk Bapaknya.


Angga ngobrol dengan Ikhsan dan juga saudara laki - laki yang lain, sedangkan Alya bermain dengan keponakannya yang masih kecil.


Angga sering melihat ke arah Alya yang asyik bercerita dengan sepupunya. Entah apa yang ada dipikirannya Alya pun masih asyik aja tidak mengajak Angga ngobrol karena pikir Alya Angga sudah ngobrol dengan adiknya dan saudara laki-laki yang lainnya.


Hingga ibunya Alya memanggilnya, memberitahu jika sudah agak malam kasihan dengan Angga rumahnya jauh lebih baik pulang aja.

__ADS_1


Alya pun menghampiri Angga yang masih asyik bercerita dengan adiknya.


"Mas, udah malam. Mas Angga lebih baik pulang."


"Iya bentar lagi."


Angga biasa saja hanya mengiyakan.


Tak lama kemudian Angga berpamitan dengan kedua orang tua Alya untuk pulang.


Alya mengantarnya sampai pintu.


"Sampai sini aja, Mas pulang sendiri nggak papa."


"Makasih ya Mas."


"Iya, Mas pulang ya."


"Iya Mas hati - hati."


Alya memandangi tubuh Angga yang pergi meninggalkan ruang perawatan bapaknya kemudian dia masuk kembali ke dalam setelah Angga berbelok ke arah luar.


"Al, kamu nggak pulang." Kata Ibunya.


Alya diam saja, kalau pulang kasihan ibunya kalau tidak pulang besok adiknya gimana kalau sekolah.


"Pulang aja Al, sama Ikhsan dan Dani. Besok kalian kalian harus sekolah." pinta Ibunya.


"Besok bapak operasi Bu, aku ijin aja." Kata Dani.


"Sekolah Dan, jangan ijin."


Kata Bapaknya.


Sesampainya di rumah Alya membersihkan dirinya dan segera melaksanakan salat Isya.


Badannya terasa capek dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Alya teringat akan Angga kemudian dia mengirimkan pesan untuk bertanya apakah Angga sudah sampai rumah.


"Mas Angga sudah sampai rumah."


pesan Alya kirim dan sudah terkirim namun belum terbaca.


Mata Alya rasanya mengantuk, tapi dia masih menunggu balasan dari Angga.


Ponsel Alya bergetar ada pesan masuk.


"Sudah, Mas sudah sampai rumah."


"Makasih ya Mas, udah datang."


Balas Alya lagi.


"Tadi Mas kok di diemin aja nggak diajak bicara."


Alya yang sudah mengantuk tersentak dan membaca pesan itu sampai berulang-ulang.


"Maksud Mas Angga gimana."


Alya masih belum paham dengan maksud Angga.

__ADS_1


"Kamu asik sendiri ngobrol sama sepupu kamu daripada ngobrol sama Mas."


Alya terdiam sambil mengingat yang telah terjadi tadi di rumah sakit.


"Maaf Mas, Alya pikir Mas Angga sudah ngobrol sama Ikhsan, maafin Alya Mas."


"Mas seperti tidak Kamu hargai."


Alya meneteskan air matanya sama sekali tak ada rasa ingin mengacuhkan Angga, yang ada hanya dia berpikir kalau Angga sudah ngobrol sama adiknya tetapi nyatanya Angga menangkapnya berbeda.


"Alya minta maaf Mas."


Hanya itu yang bisa Alya katakan, badannya dan pikirannya yang sudah terasa capek membuatnya semakin menangis merasakan sesak di dalam dadanya.


"Kamu kenapa sih Mas, gitu aja jadi masalah." Ucap Alya sambil terisak di dalam kamarnya seorang diri.


"Jangan di ulangi lagi."


Balasan dari Angga, membuat Alya menangis lagi.


"Maaf Mas, Alya capek nangis terus, air mata Alya udah kering. Kenapa masalah kayak gitu aja mas Angga sampai marah. Sekali lagi Alya minta maaf Mas, Alya udah capek."


Entah dari mana Alya punya pikiran membalas pesan seperti itu karena dia memang benar-benar capek dengan sikap Angga yang kadang seperti dirinya terus yang salah.


Belum lagi Alya menghawatirkan Bapaknya yang harus operasi esok hari.


"Sudah Alya fokus sama Bapak aja, semoga operasinya besok pagi lancar dan bapak segera sehat." Doa Alya dan kemudian memilih memejamkan matanya.


Dia ingin melupakan sikap Angga yang kadang membuatnya bingung bagaimana harus memahaminya. Kalau pas baik, baiknya gak ketulungan tapi kalau dia merasa tidak dianggap sikapnya akan berubah.


Hingga adzan subuh berkumandang ia terbangun karena harus mempersiapkan sarapan untuk kedua adiknya yang akan sekolah.


Alya membuka ponselnya dan ternyata tak ada balasan dari Angga, kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya dan segera melaksanakan salat subuh.


Selesai salat Alya bangunkan kedua adiknya untuk melaksanakan kewajiban, pagi itu karena tak ada ide untuk memasak apa, Alya pun hanya membeli sayur matang saja untuk sarapan mereka dan membawanya ke rumah sakit untuk sarapan ibunya.


Setelah kedua adiknya berangkat ke sekolah Dia juga segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit karena operasi bapaknya akan berlangsung nanti jam 9 pagi.


Sesampainya di rumah sakit Alya masuk ke dalam ruangan Bapaknya dan meminta ibunya untuk segera sarapan.


"Kamu sudah makan Al."


"Sudah Buk."


Alya menemani ibunya sarapan sedangkan bapaknya harus berpuasa karena akan menjalani operasi.


" Adik-adik kamu sudah berangkat sekolah Al." Tanya Bapaknya karena dia tidak mau walaupun dirinya sakit anak-anaknya tidak sekolah.


"Sudah Pak, Dani diantar sama Ikhsan tadi."


"Al, HP kamu bunyi itu di tas."


ibunya ya duduk disebelah tas Alya merasakan ada yang berbunyi.


"Iya Buk."


Alya mengambil ponselnya dan tertera nama Angga yang menelpon.


"Alya keluar dulu Buk."


Ibunya menganggukkan kepalanya melihat tubuh Alya yang keluar dari pintu.

__ADS_1


☺☺☺☺☺


__ADS_2