DIARY ALYA

DIARY ALYA
184


__ADS_3

Hidup harus tetap terus berjalan tak peduli apapun omongan orang itulah yang saat ini ada di pikiran Alya menghadapi setiap ocehan orang yang selalu mempertanyakan kapan dirinya hamil.


Seperti kemarin pagi saat Alya membersihkan halaman depan rumah tiba-tiba aja ada tetangga yang lewat. Awalnya mau ngajak ngobrol tapi lama-lama membandingkan dia dengan menantunya yang kini telah hamil lagi anak kedua.


Alya masuk ke dalam rumah dan langsung menangis sesenggukan di dalam kamar.


Angga mendengar istrinya menangis dia masuk ke dalam kamar dan mempertanyakan kenapa Alya bisa menangis, padahal tadi baik-baik saja menyapu di depan rumah.


"Sayang kenapa."


"Mas.. Kenapa ada orang jahat banget membandingkan Alya dengan menantunya Ya sudah hamil lagi. Memangnya Alya pingin apa kayak gini, hiks...hiks..."


"Sustt... Sudah sayang jangan menangis nggak usah didengerin orang ngomong."


Angga mengusap air mata istrinya, rasanya tak rela juga istrinya dikatakan seperti itu.


"Sakit Mas, coba kalau menantunya kayak Alya pasti sudah di bicarakan sama orang-orang."


"Nggak baik ngomong seperti itu sudah biarin saja. Memang orang itu karakternya seperti itu Sayang, suka sirik sama orang."


"Hiks..Hiks... Dia jahat Mas."


Angga tersenyum dan memeluk Alya.


"Jangan dimasukkan ke dalam hati ya dipikir positif aja, biarin dibicarakan sama orang malah mengurangi dosa kita sayang."


"Tapi nyesek Mas, siapa yang mau keadaan seperti ini. Alya maunya juga langsung hamil punya anak tapi keadaannya seperti ini Alya juga nggak minta seperti ini."


"Iya Sayang, gak ada yang mau seperti ini tapi kita harus tetap menjalani dan menerima keadaan ini Sayang."


"Mas... Maafin Alya."


"Jangan minta maaf terus, senyum dong."


Alya tersenyum walaupun hidup yang memerah dan matanya bengkak.


" Jangan nangis terus itu hidungnya kayak tomat, matanya bengkak semua itu cantiknya jadi hilang." Hibur Angga.


"Biarin jelek."

__ADS_1


Alya memanyunkan bibirnya.


"Cup..."


Angga mengecupnya.


"Mas.."


Alya memukul lengan suaminya yang terkekeh.


"Makanya jangan manyun, jadi gemesin."


Saat ini Mereka tengah bersiap untuk berangkat bekerja, karena ada jam mengajar pagi jadi Alya buru-buru.


"Ayo Mas telat nanti."


"Iya, bentar malah kebelet ini."


Angga tadi yang sudah mau keluar malah masuk ke dalam rumah lagi dan menuju ke kamar mandi.


"Aduh Mas.."


"Ayo Sayang, jangan manyun gitu. Daripada nanti menahan kebelet sampai sekolahan bisa sakit sayang."


"Iya, ayo..."


Angga menaiki sepeda motornya dan menyalakan mesinnya kemudian Alya pun segera ikut naik ke atasnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka telah sampai.


"Alya duluan ya Mas."


"Iya hati - hati nggak usah lari."


"Iya Mas."


Bel masuk memang sudah berbunyi makanya Alya buru-buru menuju ke Lab karena siswa-siswinya pasti sudah menunggu sedangkan Angga langsung bertugas menertibkan siswa-siswi yang datang terlambat.


Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga waktu istirahat Angga pun nyamperin istrinya yang ada di lab.

__ADS_1


Alya yang melihat kehadiran Angga langsung berdiri dan menyambutnya, karena dia tidak mau terjadi salah paham lagi karena di dalam ada Dani walaupun juga ada Joko yang ada di dalam.


"Mas.."


Angga tersenyum.


"Mas mau bicara sebentar."


" Iya ada apa Mas."


Angga dan Alya duduk kemudian Angga pun mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


"Mas lulus seleksi pendidikan profesi Sayang."


Alya sumringah mendengar kabar itu dan dia membaca kertas yang diberikan oleh Angga tadi.


"Alhamdulillah Mas, Kapan Mas berangkat."


"Dua hari lagi."


"Berapa hari Mas."


"10 hari."


Angga memandang istrinya yang agak sendu tapi tersenyum.


" 10 hari Sebentar Kok."


Angga mengusap kepala Alya karena dia bisa memahami apa yang ada dipikiran istrinya itu.


"Alya di rumah sendiri."


"Kan ada Bapak sama Ibu, adik juga ada bisa main ke rumahnya."


Yang ada dipikiran Alya dia bingung nanti mau ngapain kalau suaminya enggak ada di rumah 10 hari, dia masih merasa kurang enak dengan kedua orang tua Angga, Dia belum bisa begitu dekat dengan mereka.


"Iya Mas."


Tapi di dalam pikiran Alya akan sangat menyenangkan jika dia bisa pulang ke rumah Ibunya namun nggak mungkin sepertinya.

__ADS_1


☺☺☺☺☺


__ADS_2