DIARY ALYA

DIARY ALYA
06


__ADS_3

Alya setelah pulang sekolah harus mengikuti pelatihan untuk persiapan lomba yang akan segera dilaksanakan.


"Mas.. maaf ya kayaknya saya enggak bisa memperbaiki proposal nya ini sudah ditunggu Bu Harni." Alya sebelum menemui Bu Harni dia pergi ke basecamp karena Rafi sudah menunggunya untuk perbaikan proposal.


"Iya sudah nggak papa Al, filenya ada di komputer ini kan."


"Iya Mas, maaf ya Mas. Kalau begitu Saya permisi sudah ditunggu sama Bu Harni di lab."


"Oke... Alya..."


Sebelum Alya keluar dari pintu Rafi pun menghampirinya.


"Iya Mas, ada apa."


"Semangat ya, Kamu pasti bisa.."


dengan senyuman manisnya Rafi memberikan semangat kepada Alya.


Hati perempuan mana yang gak luluh, di beri senyuman semanis itu.


"Makasih Mas..."


Alya langsung keluar di ruangan itu karena tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Ehemmm.. cie... cie.... Semangat ya Alya..." ledek Wahid yang tadi melihat Rafi memberikan semangat kepada Alya.


"Rese kamu, udah sekarang bantuin perbaikan proposal ini."


Rafi kembali duduk di depan komputer.


"Jangan kasih perhatian lebih kalau kamu memang tidak ada rasa sama Alya, Dia gadis baik-baik Bro."


Wahid mengambil kursi dan kemudian meletakkannya di samping Rafi.

__ADS_1


"Huffft.... Dia memang gadis baik dan jujur aku mengagumi dia."


Rafi dengan tetap menatap ke layar komputer.


"Tapi aku anggap dia hanya Adik, aku suka sama gadis lain."


Kata Rafi sambil menoleh kearah Wahid yang langsung menatapnya.


"Gila kamu Fi.. Udah selesaikan enggak pulang - pulang aku."


"Dan sekali lagi aku mengingatkan sama kamu jangan beri perhatian lebih sama Alya, jika kamu suka dengan gadis lain kasihan dia takut baper." lanjut Wahid, di sangat dekat dengan Rafi tetapi dia sudah punya seorang pacar yang juga siswi di situ.


"Aku perhatian cuma sebatas sebagai kakak kelas aja."


"Itu kamu, beda sama Dia. Alya itu cewek suka main perasaan, Tapi ngomong-ngomong siapa cewek yang kamu taksir." Wahid menelisik wajah Raffi dan kemudian mendapatkan senyumannya.


"Tunggu aja nanti."


Wahid senyum kecut, "Gila kamu Fi..."


Alya sendiri setelah mendapatkan semangat dari Rafi merasa berbunga-bunga dan mendapatkan semangat belajar yang lebih.


"Alya, kalau itu sudah selesai lanjut praktek ya."


"Iya Bu,.."


Memang Alya saat ini sedang mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Harni sedangkan nantinya lomba yang akan dilaksanakan mempunyai dua kriteria yaitu teori dan juga praktek jadi Alya memang harus bisa menguasai keduanya.


Hari sudah sore dan Alya sudah diperbolehkan pulang oleh Bu Harni setelah menyelesaikan prakteknya.


Menurut Bu Harni Alya sudah sangat menguasai tinggal perlu untuk pemantapan saja dia diminta untuk belajar kembali di rumah.


Alya pulang dengan naik angkot karena Ida yang biasanya bareng sudah pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Saat menunggu angkot ada yang memanggilnya dari belakang.


"Alya..."


Dia menoleh ke belakang mencari sumber suara yang memanggil namanya.


"Mas Rafi,..."


"Nunggu angkot ya."


"Iya Mas, Mas Rafi mau nunggu angkot juga."


"Sepertinya enggak nunggu Wahid itu baru fotocopy orangnya."


"Oh..." Alya menganggukkan kepalanya.


Kemudian datang sebuah angkot yang berhenti tepat di depan Alya.


"Mas duluan ya."


pamit Alya sambil naik ke atas angkot.


"Oke, Al, hati - hati."


Tak lama kemudian setelah angkot yang dinaiki oleh Alya sudah tak terlihat lagi, Rafi memberhentikan angkot berikutnya.


"Duluan ya Hid."


"Oke...."


Rafi masuk ke dalam angkot dan sebenarnya di dalam hatinya menyesal tadinya ingin bareng bersama Alya tetapi dia mengingat pesan Wahid tadi.


"Jangan kamu kasih perhatian lebih sama Alya kasihan dia harus menghadapi lomba sebentar lagi jika nantinya kamu akan menyatakan perasaan mu pada cewek yang kamu taksir."

__ADS_1


😢😢😢😢😢😢


Ada yang pernah ngalamin gak sih 😊😊😊😊😊


__ADS_2