DIARY ALYA

DIARY ALYA
50


__ADS_3

"Maaf juga Alya."


Hanya itu pesan terakhir yang dikirimkan Tri kepada Alya.


Alya masih terngiang - ngiang dengan pesan Tri, Dia hanya diam melamun dan kadang air matanya keluar sendiri.


"Bangkit Al."


Alya menyemangati dirinya sendiri.


Alya mengambil ponselnya kemudian mencari nomor Yuli.


"Yul di rumah."


pesan dikirimkannya ke Yuli.


Tak lama pesan balasan masuk kedalam ponsel Alya.


"Di rumah Al, kenapa."


"Jalan yuk, aku jemput ya."


"Oke."


Yuli pun tak bertanya panjang lebar hanya mengiyakan saja pasti ada masalah begitu tebakannya.


Alya segera mandi dan setelah selsai bersiap memakai hijabnya dan mengambil tas selempang nya.


"Buk, Alya mau main sama Yuli ya."


"Mau kemana."


"Jalan aja Buk."


"Ya hati - hati."


"Iya Buk, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alya melajukan sepeda motornya menuju ke rumah Yuli, dia ingin mencari teman bercerita mendengarkan keluh kesahnya.


Sesampainya di rumah Yuli, Alya memarkirkan sepeda motornya di depan rumah Yuli.


" Assalamualaikum."


Alya mengucapkan salam dan kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah.


" Waalaikumsalam."


Yuli keluar dan tersenyum melihat Alya yang berdiri di ambang pintu.


"Masuk Al, mau minum apa."


"Enggak usah repot-repot Yul, Bisa kan temenin aku jalan."


"Oke, Bentar ya aku bilang sama ibu dulu."


Alya menunggu Yuli yang ke belakang untuk pamit kepada ibunya di ruang tamu.


"Ayo Al."


Yuli sudah keluar dan membawa tas selempang nya.


"Pakai motor aku aja ya."


pinta Alya.

__ADS_1


"Oke..."


Alya menyetir di depan dan Yuli pun membonceng di belakang.


"Kita kemana Yul."


"Kan kamu yang ngajak gimana sih Al."


"He he he.. kita cari es krim aja ya nongkrong."


"Oke, ikut aja pokoknya. Lets go."


Alya menjalankan sepeda motornya untuk ke pusat kota mencari tempat nongkrong sembari menikmati es krim.


"Kamu kenapa Al, maaf ya aku kepo. Ada masalah."


tanya Yuli kepada Alya yang sedang fokus menyetir.


Wajah Alya tertutup oleh helm, tak terasa air matanya meleleh sendiri.


"Al.."


Yuli menepuk pundaknya.


"Nanti aja ya Yul, ceritanya kalau kita sudah sampai."


"Oke, kalau kamu di depan merasa kurang konsentrasi mendingan aku aja deh Al yang bawa motornya."


pinta Yuli takut saja kalau Alya tidak konsentrasi dan melamun.


" Aku baik-baik saja kok Yul."


Yuli menganggukkan kepalanya saja dan menepuk pundak Alya biarkan dia menyetir sepeda motor tapi Yuli tetap waspada juga.


Sepeda motor sudah memasuki pusat kota kemudian ada lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah.


Saat sepeda motor Alya udah berhenti dari belakang datang sepeda motor yang melaju dengan cepat dan menyenggol sepeda motor Alya.


"Bruuuukkkk....."


Sepeda motor yang dikendarai oleh seorang Bapak dan seorang Ibu itu jatuh tersungkur di aspal, sedangkan sepeda motor Alya tidak jatuh karena dia bisa tetap menjaga keseimbangan sepeda motor dengan kakinya.


"Allahu Akbar."


Teriak Alya, sedangkan Yuli hanya menutup mulutnya melihat kejadian itu.


Bapak dan Ibu itu tersungkur di jalan untung saja lampu merah jadi mobil di belakang berhenti semua.


Datang seorang polisi yang memang kebetulan posisi lampu lalu lintas itu di dekat pos polisi.


Bapak dan Ibu yang jatuh tadi masih bisa berdiri hanya kelihatan kakinya sang Ibu itu langsung bengkak.


Polisi itu mendekati Alya dan Bapak tadi meminta mereka untuk menyingkir dan masuk ke dalam pos.


"Gimana Yul."


Alya takut hingga tak terasa jika jempol kakinya Alya pun berdarah karena harus menahan sepeda motornya tadi.


"Kita nggak salah Al, udah tenang aja. Kita sudah benar kok lampu sudah merah dan kamu berhenti bapaknya tadi aja yang mengendarai sepeda motornya dengan cepat hingga mau ngerem akhirnya nggak nyampe."


"Iya Yul."


Mereka memakaikan sepeda motornya di depan pos Polisi. Alya, Yuli dan juga Bapak serta Ibu tadi disuruh masuk semua ke dalam.


" Selamat siang Mbak, Bapak, Ibu bisa keluarkan surat kendaraannya."


Alya mengeluarkan SIM dan STNK nya begitu pula dengan bapaknya yang tadi.

__ADS_1


"Baik, surat kendaraan komplit semua. Ini bagaimana tadi bisa terjadi kecelakaan."


" Mbaknya ini berhenti mendadak Pak." Ibunya nyolot.


"Buk, Maaf sebelumnya lampu itu sudah merah dan saya otomatis harus berhenti Bu."


Bela Alya.


" Benar Pak lampu itu sudah merah dan teman saya akhirnya juga ngerem. Bapak saja mengendarai motor terlalu cepat sehingga lampu tiba-tiba merah nggak siap." Bantah Yuli.


"Mbak, jangan menyalahkan suami saya ini lihat kaki saya sampai bengkak."


Ibu itu masih nyolot juga sedangkan Bapaknya hanya diam saja dia sepertinya menyadari kalau bersalah.


"Ibu, yang salah itu bapaknya Bu kita nih malah korban loh kita ditabrak dari belakang untung kita berdua tidak jatuh. Lihat kaki teman saya itu sampai berdarah jempolnya."


Yuli memperlihatkan kaki jempol Alya yang berdarah yang sebenarnya juga baru dia lihat Alya sendiri baru menyadari kalau kakinya terluka.


"Sudah sekarang kalian maunya bagaimana." Kata Pak Polisi.


"Damai saja Pak, Saya minta ongkos sama Mbaknya untuk berobat."


"Ibu, kita nggak salah kenapa kita harus ganti rugi sama ibu kita juga terluka."


Bantah Yuli.


"Sudah Bu, Bapak yang salah."


Bapaknya menenangkan istrinya Dia sudah mengakui kalau dirinya yang salah.


"Tidak bisa Pak, Ibu terluka Pak."


"Sudah Pak, kita nggak usah perpanjang saya akan kasih untuk berobat."


Alya memilih menyelesaikan masalah ini sudahlah jangan dianggap siapa yang salah ini sama kecelakaan.


"Alya, uang itu sulit nyarinya kita nggak salah Al."


Yuli yang masih nggak terima dengan permintaan sang ibu.


"Yul, sudahlah anggap saja kita bersedekah. Insya Allah nanti akan diganti kita akan dapat lebih banyak lagi."


"Al, Kenapa sih kamu jadi orang baik banget."


"Memang kita harus jadi orang yang baik Yul."


Kemudian mereka pun berdamai dan Pak Polisi menyudahi perkara itu.


Alya tidak mau berlama-lama disana lama-kelamaan jempolnya juga terasa sakit akhirnya Alya pun memberikan uang yang sekedar untuk bisa mengobati luka sang ibu.


Mereka pergi dari pos polisi itu, Alya ingin pergi ke minimarket dulu membeli obat mengobati jempol nya yang berdarah.


"Al..."


Yuli menggantikan Alya membawa sepeda motornya.


"Kenapa Yul."


"Kamu baik banget, inilah yang membuat orang itu sering memanfaatkan kamu."


"Biarkan saja Yul. Itu ada minimarket Yul kita ke sana dulu ya beli obat merah perih jempol ku."


"Ya Al."


Yuli memarkirkan sepeda motor di depan minimarket dan meminta Alya untuk duduk saja diluar biarkan dirinya yang masuk ke dalam untuk mencari obat dan Alya menurut saja.


😱😱😱😱😱

__ADS_1


__ADS_2